Kamis siang Tri menutup lapak setelah jumlah yang disiapkan habis. Ia menyimpan alat yang sudah dibersihkan, mengabari Aki akan menemui Lucky sebentar, lalu menyeberang menuju kafe. Di dalam tas hanya ada telepon, uang untuk keperluan hari itu, dan catatan kecil. Bukti utang Kardi ditinggalkan di tempat penyimpanan rumah.
Lucky menunggunya pada meja yang biasa dipakai berbicara. Ia menanyakan keadaan Nini dan mendengarkan kabar bahwa perawatan di rumah sudah dibantu Emak serta Bi Nining. Ketika Tri mengatakan utang keluarga benar-benar telah dilunasi, ia mengangguk lega dan mengucapkan selamat.
'Saya ingin bercerita hasilnya juga, tapi hari ini ada jawaban yang lebih dulu harus saya sampaikan,' kata Tri.
Pria itu menatapnya. Senyum yang tadi muncul berkurang sedikit, seolah ia sudah menangkap arah percakapan sebelum kalimat berikut selesai. Tri merapikan tangan di pangkuan dan menahan dorongan membicarakan rasa brownies agar bagian sulit dapat ditunda lagi.
'Saya memilih Adam, Mas. Saya ingin mencoba hubungan dengannya.'
Lucky diam cukup lama. Ia menurunkan pandangan pada gelas, mengangguk sekali, lalu bertanya apakah keputusan itu sudah dipikirkan sampai selesai. Suaranya tetap pelan, tetapi Tri dapat mendengar usaha yang diperlukan untuk membuatnya terdengar biasa.
'Sudah. Saya tidak mau terus meminta waktu ketika sebenarnya sudah tahu ingin berjalan ke mana.'
'Apa yang membuatmu yakin sekarang?'
Tri tidak menjawab dengan daftar bantuan yang pernah diberikan Adam. Ia mengatakan semakin mengenal lelaki itu di luar urusan lapak: cara ia mengurus kegiatan kampus, cerita yang ditulisnya, kegugupannya ketika salah, serta kemampuannya mengakui sedang kesal tanpa meminta Tri memilih karena kasihan. Ada percakapan yang ingin dilanjutkan bahkan ketika tidak ada barang yang perlu diangkat atau uang yang sedang dicari.
'Saya ingin mendengar ceritanya lagi. Ingin tahu dia akan menulis apa, bagaimana kuliahnya, hal kecil yang membuatnya marah. Rasanya sekarang seperti itu,' ujarnya.
Lucky memandang ke arah etalase sebelum kembali menatapnya. Ia menanyakan apakah kedekatan mereka selama ini hanya membuat Tri sungkan. Gadis itu langsung menggeleng. Bagian itu justru tidak boleh diubah agar penolakan hari ini terasa lebih mudah.
'Saya memang tertarik kepada Mas. Saya senang waktu diajak makan, juga waktu Mas mengatakan menyukai saya. Saya tidak sedang mengganti cerita itu menjadi rasa terima kasih saja.'
'Tapi akhirnya bukan saya.'
'Iya. Saya minta maaf karena jawaban ini menyakitkan.'
Lucky mengusap sisi gelas dengan ibu jari. Ia mengatakan ia sempat membayangkan mereka akan lebih sering bertemu di luar pekerjaan, mungkin mengajak anaknya ketika waktunya tepat. Ia tidak mengucapkannya sebagai tuntutan. Justru pengakuan sederhana itu membuat Tri semakin sulit menahan rasa bersalah.
Lucky kemudian mengatakan kehilangan istrinya membuat urusan keluarga mempunyai bobot yang berbeda baginya. Mengajak orang mengenal anaknya berarti membayangkan pertemuan berikutnya juga, bukan sekadar makan sekali lalu selesai. Ia tahu Tri belum pernah menjanjikan bagian itu, tetapi harapannya sudah sempat berjalan lebih jauh daripada percakapan mereka.
'Saya tidak mengatakan ini supaya kamu mengubah jawaban,' tambahnya. 'Saya cuma perlu mengaku saya kecewa. Kalau langsung bercanda, nanti kamu kira dari awal saya tidak serius.'
Tri mengangguk, merasa tenggorokannya semakin sempit. Ia lebih sanggup mendengarkan kekecewaan yang diucapkan daripada menerima senyum yang harus ditanggung pria itu sendirian setelah dirinya pulang.
Ia membiarkan Lucky selesai bicara. Tidak ada jawaban yang dapat membuat semua harapan tadi tetap utuh. Ia hanya mengatakan tidak ingin menjanjikan kunjungan atau hubungan yang tidak sungguh dipilih, lalu meninggalkan Lucky menunggu kabar yang tak pernah menjadi kenyataan.
Seorang pegawai datang menanyakan sesuatu tentang pesanan. Lucky meminta maaf kepada Tri dan menjawab sebentar. Nada kerjanya kembali terdengar lancar, seperti pria yang pertama kali ditemuinya. Ketika percakapan selesai, ia kembali duduk dengan wajah lebih letih daripada sebelumnya. Tri menunggu, tidak memakai gangguan itu sebagai alasan melarikan diri dari jawabannya sendiri.
'Saya tidak bisa langsung bilang semuanya tidak apa-apa,' katanya.
'Saya mengerti.'
'Mungkin saya perlu waktu sebelum kita membicarakan kerja sama lagi dengan tenang.'
Tri mengangguk. Percobaan titip jual memang telah ditunda sejak Nini dirawat. Pesanan enam kotak untuk pegawai sudah dipenuhi dan dibayar, sehingga tidak ada makanan atau pembayaran yang masih menunggu diselesaikan di antara mereka. Ia tidak meminta Lucky langsung memesan lagi agar hubungan baik dapat dibuktikan lewat angka penjualan.
Pria itu menanyakan apakah ia akan kembali menerima pesanan dalam jumlah besar. Tri menjawab belum, sampai pengaturan rumah dan perawatan lebih stabil. Ia ingin membangun usaha dengan ukuran yang sanggup dikerjakan, mengumpulkan tabungan pendidikan lagi, dan mengembalikan pinjaman perawatan kepada Adam.
'Dia meminjamkan biaya perawatan?' tanya Lucky.
'Dua juta. Saya harus mengembalikannya. Saya juga mengatakan keputusan perasaan tidak menjadi bagian dari pinjaman itu.'
Lucky mengangguk perlahan. Tri tidak memakai jumlah tersebut untuk mengurangi nilai tawarannya dahulu. Ia menjelaskan karena tidak ingin cerita dari orang lain membuat bantuan itu terdengar seperti pembayaran agar dirinya memilih. Persoalan uang tetap membutuhkan pengembalian, bahkan sekarang ia sudah memilih hubungan.
'Semoga kamu bisa menjalankan yang kamu pilih,' kata Lucky akhirnya.
Tri berterima kasih. Ia mendengar jarak yang mulai diletakkan dengan sengaja, lalu menghormatinya. Saat hendak berdiri, ia memastikan tidak ada catatan kerja yang perlu dibawa. Lucky mengantar sampai sisi meja, kemudian membiarkannya berjalan menuju pintu tanpa mengulang pertanyaan yang sama.
Di luar, udara terasa panas. Tri berhenti sebentar sebelum menyeberang, menunggu kendaraan lewat sambil merasakan sedih yang tidak langsung hilang sesudah berkata jujur. Memilih seseorang tidak membuat orang lain otomatis berhenti berarti. Ia tetap berharap Lucky baik-baik saja, meskipun tak berhak memintanya segera merasa lega.
Tri mengambil motor di pujasera dan pulang. Sesudah membantu menyiapkan kebutuhan Nini, ia mengirim pesan kepada Adam, menanyakan waktu berbicara esok setelah kuliah. Jawaban yang akan dibawanya kali ini tidak lagi meminta waktu berpikir. Ia ingin mengatakannya langsung, sebagai perempuan yang sudah menutup satu harapan sebelum membuka pintu hubungan yang lain.