Rabu pagi Asih sudah duduk dekat tas ketika Bram memeriksa kendaraan untuk perjalanan kembali. Ujang datang dari rumahnya membawa beberapa barang yang diminta istrinya, serta sedikit sayuran dari kebun Aki yang memang diminta dibawakan. Ia akan tetap di kampung mencari pekerjaan dan membantu memeriksa bagian kebun Aki sesuai waktu yang dapat disanggupi, sementara Asih ikut kembali ke Jakarta beberapa hari lagi.
Tri menyerahkan satu salinan bukti pelunasan kepada Bapak. Salinan lain tetap dibawanya. Ujang menyimpannya dengan kertas-kertas lama, bukan menyebut semuanya tidak perlu lagi hanya karena uang sudah diterima. Ia kemudian menanyakan apakah Tri akan mengabari setelah sampai.
'Iya, Pak. Kalau ada kabar kerja, kasih tahu juga,' jawabnya.
Bapak mengangguk dan membantu menggeser tas terakhir agar tidak menekan kaki Aki. Tri mengucapkan terima kasih, masih agak kaku sesudah percakapan semalam. Ketika pintu ditutup, ia masih bisa melihat Bapak berdiri di depan rumah Aki sambil mengangkat tangan.
Rombongan kali ini tidak bersama Adam. Pemuda itu sudah kembali Selasa dan mengirim kabar sesudah kegiatan kuliahnya selesai. Di kursi yang lebih lapang, Engkong segera meluruskan kaki, lalu mengeluh Bram belum bergerak tetapi sudah bertanya siapa yang ingin berhenti di perjalanan.
'Supaya nanti tidak baru bilang setelah kelewat,' jawab Bram.
'Lu kira gue belum pernah jalan jauh?'
'Justru karena pernah, saya tanya lebih dulu.'
Tri tertawa. Aki menyimpan tas di bawah kaki, Asih membetulkan bawaan di pangkuan, dan kendaraan akhirnya meninggalkan Katumbiri. Rumah yang tadi dilewati tidak lagi membuat dada Tri sesempit saat datang. Masalah keluarganya belum seluruhnya selesai, tetapi utang Kardi sudah mempunyai akhir yang dapat dibaca, bukan janji yang terus berubah.
Dalam perjalanan mereka berhenti sebentar untuk makan dan mengistirahatkan kaki. Engkong menelepon Memet mengenai urusan buah yang ditinggal. Dari nada suaranya, pesanan tetap berjalan tanpa seluruh pekerjaan harus menunggu ia kembali. Tri mendengar sebagian omelan mengenai kantong salah tempat, lalu menoleh ke arah lain sebelum tertawa terlalu keras.
Asih menanyakan Adam ketika mereka kembali duduk menunggu makanan. Emak menyebut usianya yang lebih muda dan kenyataan ia masih kuliah. Tri menjawab kedua hal itu memang diketahuinya sejak lama. Ia belum meminta siapa pun menetapkan tanggal pernikahan, jadi pertanyaan tersebut tidak perlu diubah menjadi daftar kekurangan.
'Emak cuma bertanya,' ujar Asih.
'Saya juga cuma menjawab. Kalau nanti sudah ada keputusan, saya bilang.'
Emak mengaduk minuman, tampak kurang puas tetapi berhenti. Tri senang ia berhenti, meskipun perubahan itu masih terasa kaku. Ia belum tahu apakah orang tuanya akan selalu menghormati pilihan berikutnya. Setidaknya hari ini ia dapat menolak pembicaraan tanpa harus bersiap menerima tamparan atau perintah menyerahkan uang.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Tri mengabari Bi Nining perkiraan kedatangan. Bibinya mengatakan Nini sudah menanyakan mereka sejak pagi, lalu menggerutu karena waktu yang disebut masih beberapa jam lagi. Aki mengambil telepon sebentar untuk menjawab istrinya, tetapi pembicaraan segera berubah menjadi pertanyaan apakah barang di rumah sudah dibawa semua.
'Sudah. Termasuk kakekmu,' kata Aki kepada Tri setelah telepon dikembalikan.
Ia tertawa sampai Emak ikut tersenyum. Bram menunggu mereka selesai naik sebelum berangkat lagi. Di sisa perjalanan, Tri melihat pesan Lucky yang menanyakan hasil urusan keluarga. Ia membalas utang telah selesai, lalu mengatakan ingin bertemu sesudah ia kembali membuka lapak. Ada hal mengenai perasaan yang perlu disampaikan langsung.
Lucky menjawab ia bisa ditemui esok setelah jam ramai. Tri menyimpan telepon setelah menyanggupi. Ia tidak ingin terus membuat kedua lelaki menunggu hanya karena takut mengatakan sesuatu yang mengecewakan. Keputusan yang mulai dipahaminya perlu disampaikan ketika ia berdiri sebagai orang yang memilih, bukan sebagai orang yang baru ditolong.
Mereka tiba di Jakarta pada sore hari. Bram mengantar sampai dekat kontrakan. Asih turun bersama Tri sambil membawa kantong sayur, sedangkan Bi Nining keluar setelah mendengar suara kendaraan. Bibinya membantu menunjukkan tempat menaruh tas supaya jalan menuju Nini tidak kembali tertutup.
Nini memanggil Aki lebih dulu. Perempuan tua itu memeriksa wajah suaminya, lalu menanyakan mengapa suaranya terdengar serak. Aki mengatakan terlalu banyak membantah Engkong di kendaraan. Engkong langsung memprotes dari pintu, dan Tri tertawa sambil memindahkan barang yang baru diturunkan.
Setelah semua tenang, ia menunjukkan kabar pelunasan kepada Bi Nining dan menceritakan seperlunya kepada Nini. Tidak ada tuntutan agar perempuan tua itu mengikuti setiap angka. Yang perlu didengarnya ialah utang selesai dan Tri tidak akan menikah dengan Kardi. Nini mengangguk pelan, kemudian meremas tangan cucunya.
Engkong serta Bram berpamitan setelah barang selesai diturunkan. Asih membantu Bi Nining menyiapkan makan. Mereka mengeluarkan sayuran yang dibawa dari kampung dan memisahkan bagian yang masih segar untuk dimasak. Aki sempat mengeluh karena salah satu ikat tertekan tas, lalu ditertawakan istrinya yang mengatakan sejak tadi semua orang juga mengeluh kakinya tertekan. Tri mencuci bagian yang sudah dipilih sebelum menyerahkan kepada Emak. Kebun yang diperiksa kemarin kini sampai di meja makan dalam bentuk sederhana, bukan cerita tentang tanah yang perlu dijual.
Sambil menunggu masakan selesai, Tri membuka tempat penyimpanan peralatan jualan. Ia mengelap cetakan yang bersih namun sudah beberapa hari tidak dipakai, memeriksa persediaan baru yang perlu dibeli, lalu menutupnya kembali agar tidak terkena debu. Satu tutup wadah tersimpan pada kantong berbeda. Ia mencarinya sampai ditemukan, memasangkan kembali, dan merasa senang urusan kecil itu dapat selesai tanpa menelepon siapa pun.
Besok ia akan berjualan dalam jumlah yang sanggup ditangani. Pinjaman dua juta kepada Adam masih harus dikembalikan, tabungan kuliah perlu dibangun dari nol, dan perawatan Nini tetap berjalan. Namun malam itu ia bisa menyiapkan pekerjaan tanpa bayangan seorang lelaki menunggu dirinya sebagai pengganti pembayaran. Setelah makan, Tri memasang alarm dan menyimpan tas bukti. Ada percakapan dengan Lucky yang harus dihadapi esok, dan kali ini ia telah mengetahui jawaban yang hendak dibawa.