Adam berangkat lebih dulu pada Selasa pagi. Bram mengantarkannya menuju angkutan yang sudah diperiksa jadwalnya, lalu akan kembali sebelum rombongan menuju pertemuan. Kuliah sore menunggu di Jakarta. Tri ikut mengantar sampai depan rumah Aki, bukan pergi bersamanya meninggalkan urusan yang belum selesai.
'Kalau sudah sampai, kabari,' katanya.
'Teteh juga. Kalau selesai bertengkar dengan angka, jangan lupa makan.'
'Memangnya angka mau diajak makan?'
Adam tersenyum, lalu menanyakan apakah ia boleh menghubungi Nini dan Bi Nining setelah sampai Jakarta. Tri mengangguk dan berterima kasih. Ketika lelaki itu masuk kendaraan, ia sempat ingin menahannya sebentar lagi. Namun Bram sudah menunggu, dan ia akhirnya hanya mengangkat tangan sampai kendaraan berbelok.
Setelah kendaraan pergi, Tri membantu Aki menyiapkan sarapan. Ia menerima pesan Bi Nining bahwa Nini sudah bangun dan sempat mengeluhkan acara televisi yang diganti terlalu cepat. Kabar biasa itu membuatnya lega. Ia membalas singkat, kemudian menyimpan telepon ketika Emak datang membawa tambahan makanan dari rumahnya sendiri.
Bram kembali sesuai rencana. Mereka menuju tempat pertemuan tanpa Adam, dengan Ujang membawa amplop satu juta dan Tri membawa tujuh juta serta bukti-bukti. Kali ini Ningsih sudah menunggu dengan buku berbeda, beberapa kertas terselip pada halaman yang diberi penanda.
Ia menjelaskan buku itu ditemukan di antara berkas yang disimpan terpisah dari catatan baru. Semalam ia mencari berdasarkan rentang tanggal, kemudian mencocokkan uang masuk dengan salinan transfer lengkap yang diperlihatkan keluarga. Tri membuka salinan yang dibantu Shinta sekali lagi dan meletakkannya pada arah yang mudah dibaca dari sisi Ningsih.
Siti membawa kain untuk membersihkan tepi meja yang terkena debu dari sampul buku. Ningsih bercerita sebagian berkas sempat dipindahkan ke kotak lain ketika lemari diperbaiki. Itulah yang membuat pencarian semalam lebih lama daripada dugaan. Kardi menyela bahwa ia sudah menyuruh barang lama dirapikan sejak dahulu. Istrinya menoleh, meminta ia menunjukkan di mana pernah menyimpan salinan pembayaran Ujang kalau memang semua mudah ditemukan. Suaminya berhenti berkomentar. Tri menunggu Siti selesai membersihkan tempat sebelum menarik bukti lebih dekat. Ia tidak ingin kertas yang sudah susah dikumpulkan justru hilang di bawah tumpukan berkas lain pada meja yang sama.
Tri duduk dan meletakkan salinannya dekat halaman yang dibuka Ningsih. Nama pengirim, jumlah dua juta, serta tanggalnya cocok. Pada catatan penerimaan, Ningsih menulis uang itu sebagai angsuran Ujang yang diterima melalui rekeningnya. Ia menunjukkan tulisan tersebut kepada suaminya sebelum berbicara lebih jauh.
'Ini tulisan saya. Waktu itu kamu bilang masukkan sebagai pembayaran Ujang,' ujarnya.
Kardi menatap halaman, kemudian meminta memeriksa pembayaran dua juta lain yang sudah dihitung dalam enam juta. Tri mengeluarkan bukti yang dimaksud. Tanggalnya berbeda. Ujang menyebut kembali urutan pembayaran yang diingatnya, sementara Ningsih mencari catatan pembanding agar dua jumlah yang sama tidak dianggap satu transaksi.
Mereka memerlukan waktu karena satu bukti lama kurang jelas pada bagian pinggir. Tri membuka foto yang lebih terang di telepon, lalu memperlihatkannya di samping kertas. Ia memperbesar bagian tanggal dan menahan layar agar tidak bergeser ketika Ujang ikut menunjuk. Ningsih memeriksa lagi, mengangguk, dan mengatakan kedua pembayaran memang tercatat pada waktu berbeda.
Asih mengembuskan napas keras. 'Jadi uang yang dulu kami bayarkan memang ada.'
'Ada,' jawab Ningsih. 'Yang satu ini belum masuk perhitungan terakhir yang ditunjukkan kepada kalian.'
Kardi menggerakkan tangannya pada meja. Ia mengatakan catatan Ujang sejak awal tidak teratur, sehingga pihaknya juga harus mencari satu per satu. Tri ingin menjawab bahwa mereka yang berulang kali diminta menyerahkan hidupnya untuk menutup angka tersebut. Ia menahan kalimat itu sampai Ningsih selesai menunjukkan bagian yang cocok.
Engkong menanyakan apakah pembayaran dua juta itu sekarang diakui mengurangi pokok. Ningsih memandang Kardi. Suaminya menghela napas, membaca halaman sekali lagi, lalu akhirnya mengatakan jumlah itu dapat dimasukkan. Ujang langsung meminta perhitungan diperbaiki di depan mereka, bukan sekadar dijanjikan nanti.
Untuk sesaat Tri tidak percaya Bapak yang mengatakannya. Ujang masih tampak gugup, tetapi kali ini ia tidak menarik permintaan setelah Kardi menatapnya. Ia menunjuk bukti dan menunggu sampai angka lama dicoret dengan keterangan yang dapat dibaca.
Pokok delapan belas juta dikurangi pembayaran lama enam juta, angsuran dua juta kepada Ningsih yang kini diakui, serta dua juta terbaru dari Tri. Sisa pokok delapan juta. Namun Kardi masih menambahkan empat juta biaya yang diperdebatkan, sehingga tagihan versinya kini dua belas juta, bukan empat belas.
Ujang menuliskan selisih itu sendiri pada salinan keluarga, lalu meminta Ningsih memeriksa hasilnya sekali lagi.
'Bagian pembayaran lama sudah cocok. Biaya ini yang masih harus dibicarakan,' kata Tri sambil menunjuk angka terakhir.
Kardi mengatakan ia belum pernah menyatakan akan menghapus biaya. Ningsih menyela bahwa mengakui pembayaran yang memang diterima juga tidak sama dengan memberi hadiah kepada keluarga Ujang. Mimin, yang ikut mendengarkan, meminta suaminya menjelaskan empat juta tersebut satu per satu supaya mereka tidak kembali menghabiskan pagi dengan tuduhan yang sama.
Suara Kardi meninggi, lalu berhenti ketika Siti meletakkan gelas agak jauh dari buku. Putrinya tidak berkomentar, tetapi wajahnya menunjukkan ia mendengar semuanya. Tri menerima air yang disodorkan dan baru menyadari tangannya terasa dingin sejak membuka tas.
Mereka berhenti sebentar menjelang siang untuk beristirahat, dengan pembicaraan biaya akan dilanjutkan setelahnya. Salinan perhitungan baru diberikan kepada Ujang. Dua juta lama telah diakui; empat juta tambahan belum selesai. Ujang melipat salinannya setelah memastikan ia dapat membaca seluruh angka, lalu memasukkannya ke sisi kantong yang terpisah dari amplop uang.
Di luar, Tri melihat pesan Adam bahwa ia sudah tiba di Jakarta dan sedang bersiap menuju kegiatan kampus. Ia membalas satu kabar yang kini bisa dikatakan dengan pasti: pembayaran lama akhirnya masuk hitungan. Setelah itu ia menyimpan telepon, memandang Bapak yang masih meraba kantong berisi salinan, lalu kembali mendekati pintu. Mereka belum selesai, tetapi pembayaran yang diperjuangkan sejak lama akhirnya tidak lagi hilang dari hitungan.