Kardi duduk di sisi meja dengan wajah yang langsung mengeras ketika melihat rombongan Tri. Ningsih berada tidak jauh darinya, sedangkan Mimin baru masuk setelah Siti membantu menata kursi. Bram memilih menunggu di luar. Ia tidak datang untuk ikut menentukan jumlah utang yang tidak diketahuinya.
Tri duduk dekat Aki dan mengeluarkan bukti sesuai urutan. Tanda terima dua juta terbaru diletakkan setelah pembayaran lama. Adam membantu menahan kertas yang melengkung, kemudian menyerahkannya kembali ketika Ujang hendak menjelaskan. Tri menyimpan tas uang di sisi kakinya, sementara kertas yang diperlukan untuk pemeriksaan diletakkan di atas meja.
'Sudah jelas empat belas juta,' kata Kardi. 'Kemarin saya tulis begitu.'
'Itu perhitungan Bapak setelah dua juta terbaru diterima,' jawab Tri. 'Pembayaran lama kepada Bu Ningsih belum dicocokkan, biaya tambahan juga belum diterangkan.'
Kardi menatap Ujang, seolah jawaban semestinya datang dari orang yang dahulu meminjam. Bapak Tri mengusap lutut, lalu mengangguk membenarkan. Ia mengatakan dua juta kepada Ningsih dikirim atas arahan Kardi dan dimaksudkan sebagai pembayaran, bukan belanja baru.
Ningsih meminta melihat bukti lengkap. Ia membaca nama penerima, tanggal, serta jumlah yang sudah ditemukan dengan bantuan Shinta. Tri menunjuk tanggal agar tidak tertukar dengan pembayaran lain yang juga bernilai dua juta. Ningsih menarik kertas itu lebih dekat, membandingkan nama pengirim dengan catatan yang disiapkan di sisinya.
'Rekening ini memang saya yang pakai,' ujar Ningsih.
Kardi bergerak hendak menjawab, tetapi istrinya mengangkat tangan. Ia belum mengesahkan tujuan pembayaran hanya dengan melihat nama. Ada uang yang masuk untuk beberapa urusan berbeda pada masa itu, dan ia ingin memeriksa buku yang sesuai sebelum mengatakan sesuatu yang keliru.
Tri mengangguk. Itulah alasan ia membawa salinan lengkap, bukan meminta orang percaya pada foto yang pernah terpotong. Ujang menyebut kembali percakapan ketika Kardi menyuruhnya mengirim kepada istrinya. Kardi mengatakan ia tidak ingat mengucapkan bagian yang disebut Ujang.
Suasana langsung menegang. Asih hendak membalas, tetapi Tri menyentuh lengannya sebentar, meminta ia membiarkan Ningsih membaca. Emak menarik tangan, kesal karena merasa selalu diminta menunggu. Ningsih justru bertanya kepada Ujang siapa yang mengirim dan siapa yang memberi kabar sesudahnya. Jawaban dicatat pada sisi kertas yang tidak menutupi bukti.
Kardi bertanya berapa uang yang dibawa hari ini. Ujang mulai mengeluarkan amplop satu juta, tetapi Asih meminta ia menyimpannya dahulu sampai catatan jelas. Bapak Tri tampak bimbang, memegang amplop di antara lutut dengan muka memerah. Tri menyebut jumlah yang mereka siapkan tanpa membuka tas. Uang dapat dihitung bersama setelah pembayaran lama serta biaya disepakati. Kardi menganggap jawaban itu tanda mereka sengaja mengulur. Ningsih menggeser cangkir dari dekat kertas dan meminta suaminya membiarkan pemeriksaan dimulai, sebab menyerahkan uang sekarang juga belum membuat selisih perhitungan hilang. Ujang akhirnya memasukkan amplop kembali ke kantongnya.
Ketika pembicaraan mencapai tambahan empat juta, Kardi menyebut waktu menunggu serta kerepotan menagih. Ia menganggap keluarga sudah cukup lama diberi kelonggaran. Engkong bertanya apakah rincian dan kesepakatan biaya itu pernah ditunjukkan kepada orang yang membayar, bukan hanya disebut sesudah tagihan bertambah.
'Saya yang mengeluarkan uang, tentu saya yang tahu kerugiannya,' balas Kardi.
'Kalau begitu, tunjukkan hitungannya. Orang datang membawa hitungan juga,' jawab Engkong.
Engkong meletakkan kedua tangannya di lutut, menunggu jawaban dengan nada yang tetap datar. Kardi tampak semakin tersinggung. Ia membalik lembar di depannya, tetapi belum mengeluarkan rincian selain angka yang sudah disebut. Ningsih meminta bagian biaya dipisahkan dari pencocokan transfer agar keduanya tidak terus bertukar tempat dalam pembicaraan.
Mimin yang sejak tadi diam akhirnya bertanya mengenai kabar pernikahan. Apakah benar Tri telah bersedia? Pertanyaan itu membuat Kardi menoleh cepat. Ia menjawab keluarga masih membicarakan, dan Asih segera membuka mulut seolah hendak memberikan penjelasan yang menghaluskan semuanya.
Tri menjawab lebih dulu. 'Saya tidak bersedia. Pembayaran utang bukan persetujuan menikah.'
Ruangan hening. Siti berdiri dekat pintu, memandang ayahnya dengan wajah kecewa. Ia mengatakan kabar yang didengarnya berbeda, itulah sebabnya ia meminta Bi Nining menghubungi Tri. Ia tidak mau nama teman lamanya dipakai seolah semua telah selesai disetujui.
Kardi menegur putrinya karena membawa urusan keluarga kepada orang lain. Mimin menyela, mengatakan kabar calon istri baru juga menyangkut rumah tangga yang sudah ada. Ia tidak datang untuk menyelesaikan uang Ujang dari kantong sendiri, tetapi ingin suaminya berhenti menyebut keputusan orang lain yang belum pernah diberikan.
Ningsih menutup kertas yang sedang dibaca. Ia mengatakan akan mencari buku lama yang cocok dengan tanggal transfer tersebut. Catatan yang dibawa ke meja ternyata berasal dari rentang berbeda. Buku lama disimpan bersama berkas lain, dan ia tidak mau menebak hanya untuk membuat pertemuan cepat selesai.
Kardi mengeluh semua menjadi panjang karena keluarganya sendiri ikut meragukan. Ningsih menatapnya, menjawab uang yang pernah masuk melalui rekeningnya memang harus dijelaskan olehnya. Ia mempunyai kepentingan mengetahui bagaimana catatan keuangan yang selama ini ikut dijaganya dipakai, terlebih jika dibicarakan bersamaan dengan rencana menikah lagi.
Pertemuan berhenti menjelang sore dengan jadwal dilanjutkan Selasa pagi. Belum ada uang diserahkan. Tri menyimpan bukti dan memastikan tanda terima yang dibawa kembali tetap lengkap, meratakan sudut yang tertekuk sebelum menutup bagian tas. Ujang membawa satu jutanya pulang, sedangkan tujuh juta dari kakak-kakaknya tetap berada pada Tri.
Di luar, Siti meminta maaf karena baru menghubungi lewat Bi Nining. Tri mengatakan ia senang sudah diberi kabar, meskipun tidak semua persoalan bisa dibereskan hari ini. Siti mengusap telapak tangannya pada rok, masih tampak gelisah mendengar suara ayahnya dari dalam. Ia membantu membukakan jalan menuju kendaraan, lalu meminta Tri mengabari setelah kembali ke Jakarta.
Saat rombongan pulang ke rumah Aki, matahari mulai turun. Adam mengingatkan harus berangkat lebih dulu esok agar kegiatan kuliahnya tidak terlewat. Tri mengangguk. Ia akan menghadapi pemeriksaan catatan berikut bersama keluarganya, membawa uang yang masih utuh dan penolakan yang kini sudah didengar langsung oleh orang-orang di ruangan tadi.