Sesudah jeda siang, Kardi kembali duduk dengan wajah yang tidak lebih ramah. Tri memindahkan salinan hitungan ke sisi meja yang terang. Delapan juta sisa pokok sudah jelas, sementara empat juta yang disebut biaya masih membuat jumlah terakhir menjadi dua belas juta.
Ujang meminta penjelasan satu per satu. Kardi menyebut perjalanan ke Jakarta, waktu yang hilang, serta kerepotan mencari keluarga ketika tidak segera mendapat jawaban. Ia tidak memperlihatkan persetujuan lama mengenai angka empat juta. Yang ditunjukkannya adalah catatan biaya yang dibuat setelah persoalan membesar.
'Sebagian perjalanan itu untuk membicarakan pernikahan,' kata Tri. 'Saya tidak pernah meminta Bapak datang melamar atau menyetujui biayanya.'
Kardi menatapnya. 'Kalau keluargamu tidak membiarkan utang berlarut, saya juga tidak perlu datang.'
'Pembayaran yang sudah diterima pun baru masuk hitungan tadi. Kami datang untuk menyelesaikan, bukan menolak pokoknya.'
Suaranya sempat bergetar. Tri meletakkan kedua tangan di pangkuan agar tidak terus meremas sisi tas. Ia sudah ingin pulang sejak pagi, tetapi rasa ingin selesai tidak boleh membuatnya mengangguk terhadap angka yang bahkan keluarganya tidak mampu membayar.
Ujang mengatakan ia dapat menyerahkan sisa pokok delapan juta dengan bantuan anak-anak. Tidak ada tambahan empat juta yang tersedia. Ia juga tidak bersedia menjanjikan cicilan baru atas biaya yang tidak pernah dibicarakan sebelumnya. Ketika Kardi menyebut pekerjaan di lahannya, Bapak Tri menunduk sebentar, lalu kembali mengatakan pekerjaan itu memang sudah dihentikan.
'Saya akan cari pekerjaan lain. Tapi jangan jadikan itu alasan Tri harus menikah,' katanya.
Asih menoleh cepat. Kalimat tersebut belum menyelesaikan kesalahannya kepada anak sendiri, tetapi Tri mendengarnya dengan dada sesak. Kardi ikut melihat Asih, seolah menunggu perempuan itu mengembalikan percakapan ke kebiasaan lama.
Emak mengusap tangan pada kain yang dibawa. Ia tidak pandai menyusun jawaban dan beberapa kali mulai bicara sebelum berhenti. Akhirnya ia mengatakan satu juta dari orang tua sudah siap digabung dengan bantuan anak-anak untuk pokok. Mengenai pernikahan, Tri telah menjawab sendiri.
Kardi tertawa pendek, tanpa kegembiraan. Ia mengatakan keluarga kini merasa kuat karena datang bersama orang luar. Engkong bergerak hendak menjawab, tetapi Aki lebih dulu menyebut dirinya kakek Tri dan suami orang yang sedang dirawat keluarga itu selama ini. Membawa saksi serta pendamping tidak membuat utang hilang, tetapi juga tidak membuat orang berhak menentukan perkawinan cucunya.
Ningsih menggeser buku lama ke sisinya. Ia meminta suaminya menghentikan pembicaraan yang berputar pada calon istri. Penerimaan dua juta kini sudah diketahui semua orang, dan biaya empat juta belum memperoleh kesepakatan. Jika masih terus ditambah karena tersinggung, catatannya tidak akan pernah bertemu dengan kemampuan orang membayar.
'Jadi sekarang kamu membela mereka?' tanya Kardi.
'Saya membela catatan yang juga saya simpan. Jangan minta saya mengatakan uang yang masuk tidak pernah ada.'
Perempuan itu memandang suaminya cukup lama. Ia mengingatkan bahwa sejak dahulu ada modal serta urusan uang yang mereka jalankan dengan keterlibatannya. Jika Kardi ingin menggunakan urusan tersebut untuk mengejar perempuan yang menolak, ia tidak boleh menganggap Ningsih akan terus menyediakan bantuan baru dari miliknya sendiri tanpa bertanya.
Tri menunduk pada kertas. Ia tidak mengetahui seluruh urusan rumah tangga mereka, dan tidak hendak mengambil alih percakapan. Namun keberatan Ningsih mempunyai akibat yang terlihat: Kardi tidak langsung menjawab dengan suara tinggi seperti sebelumnya. Ia memperhatikan buku di tangan istrinya, kemudian melihat Mimin.
Mimin mengatakan ia juga ingin urusan ini selesai. Anak serta cucu sudah mendengar terlalu banyak kabar yang berbeda. Ia tidak mau kembali menjelaskan bahwa ayah mereka sedang membicarakan istri baru sementara perempuan yang disebut justru menolak di depan keluarga. Baginya itu bukan sekadar cerita tetangga yang dapat dibiarkan lewat.
Kardi bangkit mengambil air. Di seberang meja, Engkong meluruskan kaki perlahan dengan wajah menahan pegal. Aki menggeser kursi agar ada ruang lebih luas, lalu ditegur karena hampir menyenggol meja. Kedua lelaki tua itu bertukar pandang sebelum sama-sama diam. Tri mengambil gelas yang terlalu dekat tepi dan memindahkannya, baru menyadari mereka sudah duduk jauh lebih lama daripada kebiasaan di teras Jakarta.
Ia menanyakan apakah Engkong ingin keluar sebentar. Lelaki itu menggeleng, mengatakan akan berdiri setelah bagian ini jelas. Tri tidak membantah, hanya mengembalikan kursinya agar kaki mereka tidak saling menghalangi. Dari luar terdengar Bram berbicara singkat di telepon. Orang-orang yang datang mendampinginya juga mempunyai waktu serta badan yang lelah, dan ia ingin urusan itu segera mencapai akhir yang dapat mereka bawa pulang.
Tri memeriksa kabar Bi Nining sekilas; Nini sedang beristirahat dan tidak membutuhkan sesuatu yang mendesak. Ia menyimpan telepon ketika Kardi kembali duduk.
'Kalau delapan juta diselesaikan hari ini, saya tutup sisanya,' katanya akhirnya.
Ujang menatap Tri, lalu meminta kalimat itu dituliskan dengan jelas. Empat juta tambahan tidak akan ditagih lagi, dan pembayaran delapan juta menyelesaikan seluruh sisa utang yang sedang dibicarakan. Kardi menggerutu bahwa perkataan sekarang dianggap tidak cukup. Ningsih menyodorkan kertas bersih dan pena.
Tri membaca rancangan yang dibuat sebelum uang dikeluarkan. Ia menanyakan satu bagian yang hanya menulis delapan juta tanpa menyebut penyelesaian. Setelah dibicarakan, kalimat diperjelas agar tidak terbaca sebagai angsuran lain. Ujang meminta salinan untuk dibawa, sementara pihak Kardi juga memegang catatan yang sama.
Siti membantu menyalin setelah ayahnya menyetujui isi. Tangannya berhenti ketika satu angka hampir ditulis berbeda, lalu ia mencoret dengan keterangan dan mengulang pada kertas yang lebih rapi. Tri menunggu sampai keduanya selesai. Ia tidak ingin kegembiraan karena hampir bebas membuat kesalahan baru disimpan begitu saja.
Menjelang sore, persetujuan penyelesaian sudah siap diperiksa terakhir. Kardi akan menerima delapan juta hari itu dan menutup tagihan yang tersisa. Tri membuka bagian tas tempat uang disimpan, sementara Ujang mengeluarkan amplop satu jutanya. Untuk pertama kali di ruangan itu, uang hendak diletakkan di meja dengan tujuan yang disepakati semua pihak: mengakhiri utang, tanpa syarat perkawinan.