Bram sudah menunggu dengan kendaraan sewaan pada Senin pagi. Tri memeriksa pintu kontrakan sekali lagi sebelum berangkat. Bi Nining berada bersama Nini, sudah menerima catatan yang diperlukan, dan meminta ia tidak menelepon setiap sepuluh menit hanya untuk menanyakan apakah mereka sudah sarapan.
'Kalau ada yang perlu, Bibi kabari. Kamu urus yang di sana,' katanya.
Tri mengangguk, lalu berpamitan kepada Nini. Perempuan tua itu menggenggam tangannya sebentar dan menyuruh membawa pulang kabar yang jelas. Aki naik ke kendaraan setelah memastikan tasnya tidak tertinggal. Emak, Engkong, serta Adam sudah mencari tempat duduk, sementara Bram mengeluh tas mereka terlihat cukup untuk pergi sepekan.
'Yang besar punya siapa?' tanya Engkong.
'Bukan punya saya,' jawab Tri cepat.
Ternyata kantong yang dimaksud berisi barang bawaan Asih sejak datang dari kampung. Emak memeluknya dengan muka kesal karena semua orang menoleh. Mereka tertawa sebentar sebelum Bram mulai mengemudi, mengurangi ketegangan yang membuat Tri sejak tadi ingin memeriksa telepon lagi.
Perjalanan memakan waktu beberapa jam. Mereka berhenti sebentar untuk keperluan masing-masing, kemudian melanjutkan ke Bandung. Menjelang sampai daerah tujuan, Tri meminta singgah di bank untuk menarik tujuh juta bantuan Tama dan Dwi. Ia ingin menyiapkan pembayaran yang dapat dihitung bersama jika pertemuan mencapai kesepakatan, tanpa menyerahkan apa pun sebelum catatan selesai diperiksa.
Adam menunggu di dekatnya sementara urusan penarikan dilakukan. Setelah uang diterima, Tri menghitung dan menyimpannya dalam bagian tas yang tertutup. Bukti penarikan diletakkan bersama catatan, bukan dicampur kuitansi perawatan Nini. Ia kembali ke kendaraan dan mengabari Bapak bahwa mereka sudah mendekati Katumbiri.
'Jangan pegang tasnya seperti membawa durian bocor,' bisik Adam ketika ia terus menekan ritsleting.
'Kamu belum pernah melihat saya membawa uang yang bukan boleh saya belanjakan sebanyak ini.'
'Kalau mau diperiksa sekali lagi, bilang. Jangan nanti ritsletingnya putus duluan.'
Tri menatapnya, lalu sedikit mengendurkan genggaman. Ia tetap menyimpan tas dekat tubuh, tetapi tidak lagi membukanya setiap kali kendaraan berhenti. Uang itu mempunyai tujuan yang jelas; kepanikan tidak akan membuatnya lebih banyak atau lebih aman.
Menjelang tengah hari mereka tiba di rumah Aki. Ujang sudah menunggu setelah menerima kabar keberangkatan. Ia membantu membawa barang, kemudian menanyakan apakah Asih membawa sesuatu yang perlu diletakkan di rumah mereka sendiri. Emak mengatakan nanti saja, sebab mereka akan makan sebentar sebelum pertemuan pukul dua.
Tri berhenti di ambang pintu. Rumah itu dikenalnya, tetapi beberapa minggu hidup di kontrakan dan rumah sakit membuatnya terasa jauh. Ia teringat Nini yang dahulu sibuk menyuruhnya makan setiap pulang. Sekarang perempuan tua itu berada di Jakarta, menunggu orang lain membantu kegiatan yang sebelumnya dilakukan sendiri.
Aki langsung ingin melihat kebun. Tri mengingatkan waktu pertemuan, dan kakeknya menjawab hanya akan memeriksa bagian dekat rumah. Engkong ikut, mengeluh sedikit ketika jalan tidak serata terasnya. Adam menawarkan tangan pada bagian yang lebih sulit dilewati, lalu cepat menarik lagi ketika lelaki tua itu mengatakan masih sanggup berjalan sendiri.
Mereka kembali sebelum makan. Ada bagian kebun yang perlu dibersihkan setelah ditinggal. Aki meminta Ujang membantu menghubungi orang yang biasa mengetahui keadaan sekitar, lalu menunjukkan bagian jalan kecil yang mulai tertutup daun. Ujang mengambil alat yang tersimpan dekat dinding dan membersihkan penghalang yang paling dekat, belum menjanjikan sanggup mengurus semuanya sendiri.
Tri membawa segelas air untuk Aki setelah ia duduk. Engkong mengeluh sandalnya kotor, tetapi tetap menanyakan tanaman di sisi yang tadi mereka lewati. Kedua lelaki tua itu mulai berbeda pendapat tentang pekerjaan mana yang mesti didahulukan. Asih memanggil mereka makan sebelum pembicaraan berubah menjadi rencana seharian. Aki menatap kebunnya sekali lagi, mengatakan masih banyak yang bisa dikerjakan setelah urusan pertemuan selesai. Tri mendengar ada keinginan kembali mencari penghasilan dalam suaranya, meskipun ia belum tahu kapan Nini cukup kuat untuk diajak pulang lebih lama.
Di dalam rumah, Asih menata makanan yang dibawa dan disiapkan Ujang. Salah satu wadah sulit dibuka. Setelah dua orang mencoba, Bram mengambilnya, memiringkan sedikit, lalu berhasil melepas tutup. Engkong langsung mengatakan itulah alasan memilih sopir yang tangannya kuat. Bram membalas bahwa pekerjaan membuka wadah tidak termasuk urusan sewa kendaraan, membuat Asih tertawa meskipun sejak tadi tegang.
Setelah makan, Ujang mengeluarkan satu juta simpanan kedua orang tua. Ia memperlihatkan jumlahnya kepada Tri, lalu menyimpan kembali untuk dibawa ke pertemuan, setelah Asih menghitung sekali lagi dan mengangguk membenarkan jumlah lembarannya. Tujuh juta bantuan saudara berada pada Tri. Kedua bagian itu cukup untuk delapan juta sisa pokok hanya jika pembayaran lama kepada Ningsih diakui dan tambahan biaya tidak dibebankan seperti tagihan sepihak sebelumnya.
Ujang mengatakan Ningsih sudah menyiapkan beberapa catatan, tetapi belum bersedia menjawab kesimpulan lewat telepon. Kardi masih menganggap ada yang belum dihitung keluarga. Tri meminta Bapak menyimpan komentar sampai mereka dapat melihat bukti bersama, bukan menyetujui angka lain sambil menunggu pintu dibuka.
Adam memeriksa jadwal perjalanan kembali untuk Selasa. Ia mengingatkan Tri bahwa jika urusan belum selesai malam nanti, ia tetap harus pulang lebih dulu. Gadis itu mengangguk dan mengatakan mereka akan menyesuaikan tanpa memaksanya tinggal. Untuk hari itu kehadirannya cukup; keputusan serta uang keluarga tetap harus dibicarakan oleh orang yang bersangkutan.
Menjelang pukul dua mereka berangkat menuju tempat pertemuan. Bram mengantar, sementara Tri memeriksa sekali lagi apakah semua bukti sudah masuk tas. Jalan yang dilewati mengingatkannya pada kunjungan yang dulu dipenuhi rasa takut. Kali ini ia masih takut, tetapi tidak datang sendirian atau menunggu orang menentukan nasibnya dari dalam rumah.
Ketika kendaraan berhenti, Siti sudah terlihat dekat pintu. Teman lamanya itu menyapa Tri dengan wajah canggung, kemudian membuka jalan. Dari dalam terdengar suara Kardi meminta mereka masuk. Tri turun membawa tasnya sendiri, menunggu Aki selesai melangkah, lalu berjalan mendekati pintu yang sejak lama ingin ia lewati tanpa harus menundukkan kepala.