Minggu siang, Nini kembali ke kontrakan dengan tas yang lebih banyak daripada saat berangkat. Tri turun lebih dulu untuk memastikan jalan dari kendaraan tidak terhalang motor. Adam, yang sudah dikabari waktu kedatangan mereka, membantu memindahkan barang sementara Aki serta Emak mendampingi Nini.
Perempuan tua itu menatap pintu rumah seolah baru pergi jauh sekali. Ia ingin langsung duduk di tempat biasanya, tetapi cepat lelah setelah perjalanan. Mereka membantunya beristirahat, menaruh kebutuhan dekat jangkauan, lalu memeriksa petunjuk yang dibawa sebelum mengatur kegiatan berikutnya.
Ketika Asih menutup pintu terlalu rapat, Nini meminta dibuka sedikit. Dari tempat beristirahat ia ingin melihat cahaya di depan, bukan hanya tas dan punggung orang yang berlalu-lalang. Aki menggeser barang yang menghalangi, lalu menanyakan apakah televisi perlu dinyalakan. Nini mengangguk, tetapi segera menyuruh suaranya dikecilkan. Ia rupanya ingin mendengar rumah terasa biasa tanpa harus mengikuti seluruh cerita di layar.
Tri mencari pengendali yang sempat terselip di bawah wadah. Adam menemukannya lebih dulu dan menyerahkan kepada Aki. Kakek itu menekan tombol yang benar dengan bangga, lalu ditertawakan Nini karena menoleh menunggu pujian. Mereka berhenti ketika perempuan tua itu kembali memejamkan mata, membiarkan bunyi televisi pelan menemani istirahatnya.
Emak hendak mencuci seluruh pakaian sekaligus. Tri meminta ia menunggu sampai barang Nini selesai dikeluarkan agar tidak ada catatan terbawa ke kantong cucian. Mereka menemukan selembar kertas terselip di antara handuk, kemudian saling pandang dengan wajah lega karena belum telanjur dimasukkan ke air.
'Kalau tadi tercuci, kamu pasti memarahi Emak,' ujar Asih.
'Saya akan panik dulu. Marahnya mungkin belakangan.'
Emak mendengus, tetapi mengeluarkan satu kantong lagi untuk pakaian kotor. Adam menahan senyum sambil memindahkan tas kosong ke sisi yang tidak menghalangi langkah. Setelah barang berat selesai dibawa, ia menanyakan apakah masih perlu membantu sebelum kembali ke rumah Engkong.
Tri mengatakan akan membicarakan perjalanan besok setelah Bi Nining benar-benar tiba. Ia tidak mau berangkat hanya dengan janji ada yang menjaga, sementara orang yang dimaksud masih berada di jalan. Adam mengangguk dan meninggalkan rumah setelah mengucapkan salam kepada Nini.
Sore berjalan lambat. Tri membersihkan sisa wadah, menyiapkan makan sederhana, lalu mengecek pesan bibinya. Bi Nining sudah melanjutkan perjalanan setelah diantar Mang Atang sampai tempat keberangkatan. Ia memperkirakan tiba setelah petang, bergantung kendaraan yang membawanya.
Aki duduk menemani Nini sementara Asih membantu di dapur. Dua kali mereka berebut tempat karena ruang yang sempit, lalu Emak akhirnya berpindah memotong bahan di dekat pintu. Ia mengeluh pisau Tri kurang tajam. Gadis itu membalas bahwa pisau yang sama masih dapat memotong jika tidak dipegang seperti sendok. Asih memelototinya, kemudian menahan tawa ketika Aki menanyakan apakah makanan akan selesai sebelum mereka selesai berdebat.
Bi Nining menelepon ketika hari mulai gelap. Tri memberi petunjuk sekali lagi, lalu menunggunya di bagian jalan yang mudah terlihat. Bibinya turun dengan tas dan wajah lelah, langsung mengeluh karena tadi hampir mengira sudah sampai di deretan rumah yang salah.
'Alamatnya benar. Matanya Bibi yang sibuk melihat warung,' kata Tri.
'Bibi cari patokan. Kalau semua pintu mirip, bagaimana?'
Mereka tertawa sambil berjalan masuk. Nining menyapa kakaknya, kemudian mendekati Nini tanpa membiarkan tas menghalangi jalan. Nenek itu menyentuh tangannya dan bertanya mengapa Atang tidak ikut. Bibinya menjelaskan suaminya tetap bekerja, sementara ia akan membantu beberapa hari di Jakarta.
Sesudah makan dan beristirahat sebentar, Bi Nining mendengarkan penjelasan tentang kebutuhan Nini di rumah. Ia bertanya letak barang, waktu yang sudah ditetapkan untuk tindak lanjut, serta siapa yang dapat dihubungi jika perlu bantuan. Tri menunjukkan catatan dan nomor kontak, lalu meminta bibinya mengulang bagian yang belum jelas. Asih ikut menjelaskan hal yang baru dipelajarinya selama menunggu di rumah sakit.
Untuk pertama kalinya, Emak yang mengingatkan orang lain di mana pakaian bersih disimpan. Tri memperhatikan tanpa berkomentar. Perubahan kecil itu tidak menghapus luka lama, tetapi cukup nyata untuk dipakai membagi pekerjaan besok.
Setelah Bi Nining siap menemani, Tri serta Aki menemui Engkong sebentar. Adam ada di sana bersama Bram yang baru datang. Engkong sudah mendengar rencana pertemuan dari Aki dan ingin ikut. Ia meminta Bram mengurus kendaraan sewaan serta mengemudikannya; ongkos kendaraan akan dibicarakan langsung di antara mereka sebagai bagian perjalanan Engkong.
'Saya tidak punya mobil yang bisa disuruh berangkat sendiri,' ujar Bram ketika Tri menanyakan kesiapan. 'Kalau mau berangkat pagi, saya pastikan kendaraannya malam ini.'
Mereka menyepakati waktu. Tri tidak memasukkan biaya itu ke tujuh juta bantuan utang yang masih utuh. Aki akan ikut melihat rumah serta kebunnya, dan Asih kembali bersama rombongan karena Ujang sudah berada di kampung. Bi Nining tetap di Jakarta menjaga Nini.
Adam mengatakan Senin ia tidak mempunyai kelas yang mengharuskan hadir, sehingga dapat ikut pada hari pertemuan. Namun Selasa ia harus kembali untuk kegiatan kuliah. Jika urusan keluarga belum selesai, ia akan pulang lebih dulu dengan angkutan lain, bukan meminta semua orang menunggu jadwalnya.
Tri menatapnya dan mengangguk. Ia senang lelaki itu bersedia datang, sekaligus tidak ingin kehadirannya berubah menjadi alasan meninggalkan kuliah berhari-hari. Mereka memeriksa waktu berangkat sebelum Tri serta Aki kembali ke kontrakan. Bram akan mengabari setelah kendaraan dipastikan tersedia.
Di rumah, Nini sudah ingin beristirahat. Tri menjelaskan rencana Senin dan siapa yang akan tinggal menemaninya. Perempuan tua itu bertanya apakah mereka benar-benar akan pulang membawa penyelesaian, bukan janji baru Kardi. Tri menjawab akan berusaha, lalu menggenggam tangannya sebentar.
Malam itu ia menyiapkan tas berisi bukti, pakaian secukupnya, serta catatan uang. Tujuh juta dari kedua kakaknya masih berada di rekening, satu juta orang tua menunggu di kampung, dan utang perawatan dua juta kepada Adam tetap menjadi kewajibannya sendiri. Ketika pesan Bram masuk menyatakan kendaraan siap, ia memasang alarm. Besok ia akan kembali ke tempat masa kecilnya, dengan urusan yang harus diselesaikan tanpa menyerahkan masa depannya.