Sabtu masih mereka lewati di rumah sakit. Tri bergantian pulang untuk mandi dan memeriksa rumah, sedangkan Emak serta Aki menemani Nini. Pada Minggu pagi, setelah penilaian berikutnya, keluarga memperoleh penjelasan mengenai kepulangan dan perawatan yang perlu diteruskan di rumah. Mereka mendengarkan sampai selesai sebelum mulai memasukkan pakaian ke tas.
Nini tampak senang mendengar akan pulang, tetapi tubuhnya belum kembali seperti sebelum demam. Ketika ingin bergerak, ia masih menunggu bantuan. Aki mengingatkan agar ia tidak terburu-buru, lalu justru ditegur karena sudah melipat kain yang masih dipakai. Tri tertawa sambil mengembalikannya ke tempat semula.
Rincian biaya akhir yang diperiksa pagi itu berjumlah empat juta dua ratus ribu. Setoran awal satu juta tercantum sebagai pembayaran terdahulu. Sisa yang harus diselesaikan tiga juta dua ratus ribu, sesuai dana yang telah disiapkan sesudah pembicaraan dengan Adam pada Jumat.
Tri mencocokkan kuitansi setoran awal dengan rincian tersebut. Bantuan perawatan dari Tama tujuh ratus ribu dan Dwi lima ratus ribu, ditambah pinjaman Adam dua juta, digunakan untuk melunasi sisanya. Sesudah pembayaran dipastikan selesai, ia menyimpan bukti baru bersama kuitansi pertama. Ia memastikan bagian yang menerangkan penyelesaian pembayaran terbaca sebelum mengirim fotonya kepada keluarga.
Simpanan perawatan enam ratus ribu dan uang Aki empat ratus ribu telah habis untuk setoran awal. Bantuan saudara telah dipakai sesuai tujuannya. Yang tersisa sebagai kewajiban Tri adalah pinjaman dua juta kepada Adam, bukan empat juta dua ratus ribu kepada semua orang yang pernah membantu.
Ia mengirim ringkasan pembayaran kepada Tama serta Dwi, lalu memberi tahu Adam bahwa uang pinjamannya sudah digunakan untuk biaya perawatan. Balasan pemuda itu datang setelah beberapa menit: ia senang Nini boleh pulang dan akan membantu jika waktunya cocok. Tri belum meminta bantuan perjalanan sebelum memastikan kendaraan serta barang yang perlu dibawa.
Asih datang menjemputnya di dekat tempat administrasi karena Aki mencari tas yang berisi pakaian bersih. Mereka kembali bersama dan menemukan tas tersebut sudah diselipkan di bawah barang lain yang hendak dibawa pulang. Nini menatap tumpukan itu dengan wajah kesal, seolah keluarganya sedang merencanakan pindah rumah, bukan pulang setelah beberapa hari dirawat.
'Sebagian ini punya yang menunggu, Ni,' kata Tri.
'Yang menunggu ternyata lebih banyak baju.'
Emak tertawa untuk pertama kalinya sejak pagi. Mereka mengurangi tumpukan dengan memisahkan barang yang bisa dibawa lebih dulu. Catatan serta petunjuk kepulangan tetap disimpan dekat Tri, tidak dimasukkan ke dasar tas bersama pakaian.
Telepon Bi Nining masuk ketika mereka masih mengatur kendaraan. Bibinya sudah menerima kabar dari Ujang bahwa Nini akan pulang. Ia menawarkan datang ke Jakarta hari itu untuk membantu menjaga, sehingga Aki serta Tri bisa mengurus pertemuan mengenai utang tanpa meninggalkan Nini sendirian.
Tri menanyakan apakah Mang Atang sudah mengetahui rencana tersebut. Bi Nining menjawab suaminya akan membantu mengantar sampai tempat keberangkatan. Perjalanannya membutuhkan waktu; ia baru mungkin tiba sore menjelang malam. Tri mengirim alamat serta meminta kabar ketika bibinya sudah mendekati tujuan, agar ada yang membantu menemukan deretan kontrakan.
'Ada lagi yang harus kamu tahu,' ujar Bi Nining sebelum menutup.
Siti mengabarkan bahwa ayahnya masih berbicara seolah rencana menikahi Tri hanya tinggal menunggu keluarga selesai mengatur uang. Kabar itu membuat Tri menggenggam telepon lebih erat. Ia tidak pernah mengiyakan, tetapi rupanya penolakannya tetap dapat digeser menjadi kesepakatan yang belum diumumkan.
Bi Nining mengatakan Siti tidak menyukai cara ayahnya membawa nama teman lamanya. Bu Mimin juga mendengar pembicaraan itu dan meminta penjelasan. Sementara itu, Ningsih bersedia mencocokkan catatan penerimaan uang yang sudah diminta Ujang. Mereka perlu membawa bukti lengkap, bukan datang hanya untuk bertengkar tentang kabar pernikahan.
'Bapak sudah bicara langsung dengan Bu Ningsih?' tanya Tri.
'Sudah minta waktu. Kamu telepon lagi untuk memastikan. Bibi cuma menyampaikan yang Bibi dengar dari Siti.'
Tri mengangguk, kemudian benar-benar menghubungi Bapak. Ujang membenarkan ia telah meminta pencocokan catatan dan keluarga dapat datang Senin. Ia belum menjanjikan uang kepada Kardi di luar pembayaran yang sudah diterima. Tri meminta waktu pertemuan diperjelas, termasuk siapa yang bersedia melihat bukti bersama mereka. Mereka akhirnya menetapkan pertemuan selepas tengah hari, sekitar pukul dua.
Sebelum menutup telepon dengan Bapak, Tri meminta ia menyampaikan langsung kepada Kardi bahwa kedatangan Senin untuk urusan utang, bukan lamaran. Ujang mengeluh kalimat itu dapat membuat suasana panas sebelum pertemuan dimulai. Tri menunggu sampai keluhannya selesai, kemudian mengulangi permintaan yang sama. Kalau orang di kampung sudah mendengar kabar salah, membiarkannya beredar sampai semua keluarga datang justru akan menyulitkan.
Ujang akhirnya menyanggupi. Tidak lama kemudian ia mengirim pesan bahwa Kardi sudah diberi tahu dan menjawab dengan kesal. Tri membaca kabar itu tanpa merasa menang. Ia masih harus datang berhadapan dengan orang yang marah, tetapi setidaknya perjalanan mereka tidak lagi dibiarkan disebut persiapan pernikahan. Pesan tersebut disimpan bersama jadwal yang telah dikonfirmasi.
Sesudah jadwal itu dikonfirmasi, ia mengabari Tama dan Dwi. Dua kakaknya memindahkan bantuan penyelesaian utang yang telah disanggupi: empat juta dari Tama dan tiga juta dari Dwi. Tri memeriksa kedua kiriman setelah masing-masing diterima, lalu mencatat tujuh juta tersebut terpisah dari pinjaman perawatan yang sudah dibayarkan.
Satu juta dari upah orang tua tetap berada pada Bapak di kampung. Jika pembayaran lama kepada Ningsih diakui dan biaya tambahan diselesaikan, delapan juta sisa pokok dapat dibayar dengan tujuh juta bantuan saudara serta satu juta milik orang tua. Tri tidak menuliskan lunas sebelum pertemuan terjadi.
Ia menutup buku ketika Emak memanggil karena kendaraan sudah dekat. Masih ada urusan membawa Nini pulang, menunggu Bi Nining tiba, dan memastikan perjalanan Senin tidak meninggalkan pekerjaan perawatan begitu saja. Namun pagi itu satu hal telah selesai dengan bukti: tagihan rumah sakit. Kuitansinya masuk tas yang sama dengan bukti utang keluarga, pada bagian yang berbeda.