Enam kotak durian selesai dibuat pada Jumat pagi. Tri menandai pesanan Lucky, memisahkannya dari porsi jualan terbatas, lalu memeriksa waktu pengambilan. Uang tujuh puluh dua ribu yang diterima kemarin sudah digunakan sebagian untuk bahan dan kemasan. Yang tersisa baru dapat dihitung sebagai hasil setelah kebutuhan pesanan tersebut selesai.
Lucky datang ketika Tri sedang membersihkan bagian meja yang terkena adonan. Ia memeriksa jumlah, mengambil kantong, lalu bertanya sekali lagi apakah Nini sudah boleh pulang. Tri menjawab belum ada kepastian, meskipun keadaannya lebih baik daripada saat pertama dibawa.
'Saya titip salam. Jangan lupa makan,' katanya.
'Mas juga. Katanya pegawai menunggu sarapan.'
Ia tertawa dan mengangkat kantong sebagai jawaban. Tidak ada tambahan uang yang diselipkan diam-diam. Pesanan enam kotak berakhir sebagai pekerjaan yang dipenuhi, kemudian Tri melayani beberapa pelanggan sebelum menutup lapak sesuai waktu yang dijanjikan kepada Emak.
Di rumah sakit, penjelasan mengenai perkiraan biaya berikutnya membuatnya kembali membuka buku. Sesudah setoran awal satu juta diperhitungkan, ia perlu menyiapkan sekitar tiga juta dua ratus ribu lagi apabila perawatan berjalan sesuai perkiraan saat itu. Rincian akhir belum diberikan. Tri meminta bagian tersebut dijelaskan ulang sebelum menulis angka, sebab ia tidak ingin meminta bantuan berdasarkan jumlah yang salah didengar.
Satu juta dua ratus ribu dari Tama dan Dwi masih tersedia untuk biaya perawatan. Kekurangan yang perlu disiapkan sekitar dua juta. Ia tidak mempunyai tabungan pendidikan lagi, sementara modal dagang tidak boleh dihabiskan sampai dirinya tidak bisa bekerja setelah Nini pulang.
Tri menutup buku dan duduk sebentar di luar. Ia sudah menerima bantuan saudara, memakai simpanan perawatan, serta melihat Aki mengeluarkan uang sendiri. Meminta lagi terasa seperti membuka pintu yang setiap kali dilalui membuatnya semakin kecil. Namun Nini bukan orang yang dapat disuruh menunggu sampai lapak mencapai hari ramai berikutnya.
Ia mengirim pesan kepada Adam, menanyakan apakah ada waktu berbicara sesudah kegiatan kampus. Tidak ada permintaan uang di pesan pertama. Pemuda itu membalas akan datang menjelang petang, lalu menanyakan apakah ada perubahan mendesak pada keadaan Nini. Tri menjawab tidak, yang perlu dibicarakan adalah persiapan biaya.
Ketika Adam tiba, Tri menunjukkan catatan sebelum mulai menjelaskan. Ia membutuhkan pinjaman dua juta khusus untuk perawatan. Ia ingin mengembalikannya bertahap dari hasil usaha setelah keadaan memungkinkan, tetapi tidak berani menjanjikan semuanya lunas dalam satu bulan. Jika uang Adam sedang diperlukan untuk kuliah, ia tidak mau lelaki itu mengorbankan pembayaran yang harus segera dilakukan.
Adam membaca tanpa menyela. Ia menanyakan apakah angka dua juta terpisah dari uang yang telah dikirim kepada Bapak. Tri mengangguk dan menunjukkan dua halaman berbeda. Yang untuk Kardi tidak akan diambil dari pinjaman ini. Bantuan tujuh juta dari Tama dan Dwi untuk penyelesaian utang juga belum berada di rekeningnya.
'Aku bisa meminjamkan dua juta,' katanya setelah mengembalikan buku. 'Dari tabunganku. Masih ada yang kusisihkan untuk keperluan kuliah semester ini.'
Tri menanyakan apakah kesempatan bebas SPP yang diperolehnya masih berlaku. Adam mengatakan ia tetap harus menjaga nilai dan menyelesaikan kuliah dengan benar. Tabungan yang selama ini disisihkan dapat dipakai sementara, tetapi bukan berarti rencana S2 tidak mempunyai biaya atau boleh dilupakan.
'Kalau aku meminjamkan, aku memang ingin uangnya kembali,' tambahnya. 'Jadi jangan marah kalau nanti aku bertanya cicilan.'
Tri tersenyum kecil, lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh. Kejelasan itu justru membuatnya lebih berani menerima daripada ucapan agar ia tidak memikirkan apa-apa. Ia menuliskan jumlah, kegunaan, serta rencana membicarakan cicilan setelah Nini pulang dan lapak kembali berjalan.
Namun tangannya berhenti sebelum halaman disodorkan. Ia mengingat tawaran Lucky yang ditolak beberapa waktu lalu. Saat itu urusan keluarga dan pengakuan cinta terasa bertumpuk pada meja yang sama. Sekarang ia meminta bantuan kepada orang lain yang juga sedang menunggu jawaban hatinya.
'Adam, saya perlu mengatakan ini meskipun kedengarannya tidak enak. Saya belum memberikan jawaban perasaan. Kalau kamu meminjamkan sekarang, saya tidak ingin nanti dianggap sudah menjawab dengan cara lain.'
Adam menatapnya. Ada gurat terluka yang muncul sebelum ia sempat tersenyum. 'Aku berharap jawabanmu nanti baik untukku. Tapi itu tidak bisa kubeli lewat biaya rumah sakit.'
Ia berhenti sebentar, kemudian menambahkan bahwa Tri tetap harus mengembalikan pinjaman jika akhirnya memilih Lucky. Nada setengah berguraunya membuat gadis itu tertawa pendek sekaligus ingin menangis. Adam juga tersenyum, meskipun tidak terlihat sepenuhnya ringan.
Mereka memeriksa rekening yang akan digunakan. Adam mentransfer dua juta dan Tri memastikan uang sudah diterima sebelum mencatatnya sebagai pinjaman, bukan sumbangan. Bersama bantuan saudara satu juta dua ratus ribu, dana yang disiapkan untuk tagihan berikut kini menjadi tiga juta dua ratus ribu. Uang itu belum dibayarkan sampai rincian akhir diperoleh.
Ponsel Adam berbunyi sebelum mereka berdiri. Baim menanyakan berkas tugas yang belum diterima. Pemuda itu memejamkan mata sesaat, lalu meminta temannya memeriksa percakapan kelompok, bukan pesan pribadi. Ternyata berkas sudah dikirim ke tempat yang benar sejak siang. Setelah panggilan berakhir, ia mengeluh hampir ikut merasa bersalah atas pekerjaan yang sebenarnya sudah diselesaikan. Tri tertawa, mengatakan ia tadi juga hampir menyuruhnya segera pulang mengerjakan tugas. Adam mengangkat kedua tangan seolah minta dibebaskan dari tuduhan bersama. Ia tetap harus membaca materi malam nanti, tetapi setidaknya tidak ada berkas kelompok yang ditinggalkan hanya karena datang ke rumah sakit.
Sesudahnya Adam menanyakan apakah ia boleh melihat Nini sebentar. Tri mengantarnya setelah memastikan keadaan memungkinkan. Perempuan tua itu menyapa dengan pertanyaan apakah ia masih suka vanila. Adam menjawab masih, lalu mendengar keluhan bahwa Aki terlalu sering membicarakan buah padahal belum membeli apa-apa.
Tri berdiri di sisi mereka, memandang wajah yang masih letih tetapi mulai punya tenaga untuk mengomel. Dua juta di rekening tidak membuat rasa takutnya lenyap. Ia masih berutang dan masih harus bekerja. Tetapi petang itu ada cukup dana untuk melangkah ke urusan berikut, tanpa menyerahkan keputusan menikah kepada siapa pun.