Kamis pagi tiga buah pesanan pertama sudah disiapkan Memet ketika Tri membuka lapak terbatas. Pembeli kedua mengonfirmasi tiga buah juga, tetapi baru bisa mengambil menjelang siang. Tri memeriksa waktu yang diminta sebelum menyanggupi. Emak dan Aki telah mengetahui ia akan kembali setelah pengambilan terakhir selesai.
Durian tidak ditumpuk pada meja pancake. Memet membantu menempatkannya pada sisi yang aman dan tidak menghalangi orang lewat. Tri memasang penanda nama pada masing-masing pesanan, lalu memisahkan catatan buah dari porsi makanan yang sedang dikerjakan. Ia tidak ingin keluhan tentang ukuran durian membuat pembeli pancake di belakang menunggu terlalu lama.
Pembeli pertama datang bersama temannya. Mereka memandangi tiga buah itu, bertanya mana yang paling cocok dimakan segera, kemudian meminta memeriksa pilihan yang tadi dilihat lewat foto. Tri memanggil Memet yang masih berada dekat sana untuk membantu menjelaskan. Ia tidak mengarang jawaban ketika belum yakin mengenai kondisi buah tertentu.
Setelah pilihan disetujui, uang dibayarkan sesuai harga yang telah dikonfirmasi. Salah seorang pembeli mencoba mengangkat seluruh kantong sekaligus, lalu mengubah pikiran ketika merasakan beratnya. Temannya tertawa dan menyuruh membagi bawaan sejak awal, bukan baru mengeluh setelah harus berjalan jauh.
'Saya yang memesan, bukan berarti saya yang menggendong semuanya,' bantah orang itu.
Tri ikut tertawa sambil membantu menahan kantong sampai pegangannya benar. Ketika mereka pergi, ia menyimpan uang pada bagian yang ditandai untuk Engkong. Tiga buah laku berarti tiga puluh ribu komisi, bukan seluruh pembayaran yang baru diterima.
Ia meneruskan jualan sampai pembeli terakhir porsi harian selesai. Kemudian kompor dimatikan dan peralatan dibersihkan. Pesanan buah kedua belum diambil. Tri mengirim pesan menanyakan perkiraan tiba, lalu menerima balasan bahwa orang itu terlambat sekitar seperempat jam karena urusan kerja.
Tri mengabari Emak lebih dulu. Tidak ada kabar mendesak dari rumah sakit, tetapi ia tidak ingin orang di sana menunggu tanpa tahu mengapa waktunya berubah. Sambil menanti, ia membantu Mang Ucup mengambil kantong yang tersangkut di bawah meja. Lelaki itu melihat buah di sampingnya dan bertanya apakah sekarang bau durian sudah boleh menguasai seluruh pujasera.
'Kalau mangkuk mi ikut wangi, berarti Engkong harus membayar iklan,' sahut Tri.
'Pembeli saya belum tentu setuju.'
Pembeli kedua akhirnya tiba, meminta maaf sebelum memeriksa pesanannya. Tiga buah diserahkan setelah pembayaran cocok. Orang itu menanyakan apakah minggu depan masih bisa memesan lewat Tri. Ia menjawab boleh bertanya dahulu, sebab ia tidak selalu berada di lapak seharian. Kebutuhan keluarga tetap membuat jam kerjanya lebih pendek untuk sementara.
Sesudah enam buah terjual, Tri membawa catatan serta uang kepada Engkong. Mereka menghitung penjualan berdasarkan dua pesanan yang diterima, memisahkan enam puluh ribu bagiannya, lalu menyerahkan sisa pembayaran kepada pemilik buah. Memet memastikan tidak ada pesanan yang masih menunggu di pujasera sebelum menutup halaman hari itu.
Engkong memberikan uang komisi dengan komentar bahwa Tri ternyata bisa menjual durian tanpa memakan stok dahulu. Gadis itu memprotes karena ia juga tidak makan pancake setiap kali pembeli memesan. Keduanya berdebat sebentar, kemudian tertawa ketika Memet mengatakan ia bersedia memeriksa rasa kalau memang harus ada orang melakukan pekerjaan tersebut.
Enam puluh ribu itu tidak cukup untuk mengubah seluruh keadaan. Tri memakainya sebagian untuk makan serta perjalanan, mencatat sisanya sebagai uang hasil yang masih tersedia. Bantuan satu juta dua ratus ribu dari Tama dan Dwi tetap ditahan untuk biaya perawatan berikut, bukan dijadikan uang jajan karena hari itu ada beberapa penjualan.
Sebelum kembali, ia menyeberang sebentar menemui Lucky yang menanyakan kabar Nini lewat pesan. Pria itu sedang memeriksa barang di dekat etalase. Ia mendengarkan perubahan keadaan perempuan tua itu, kemudian bertanya apakah Tri sudah bisa menerima pesanan kecil atau masih perlu menunda seluruhnya.
'Tergantung jumlah dan waktunya, Mas. Untuk titip jual rutin saya belum berani.'
'Kalau enam kotak durian untuk besok pagi? Pesanan langsung. Bukan percobaan etalase.'
Lucky menunjuk rak yang hendak dipindahkan sebelum toko ramai. Ia sudah berjanji membawakan makanan untuk beberapa pegawai yang membantu lebih pagi. Tri menanyakan apakah semuanya memang menyukai durian; setelah dua percobaan di kafe, ia tidak lagi menganggap pilihan rasa yang laku pasti mudah ditebak. Pria itu memeriksa percakapan di telepon, lalu mengangguk karena pilihan tersebut sudah diminta. Ia sempat tertawa melihat salah satu balasan yang memperingatkan agar pemilik toko tidak membawa brownies dari stok sendiri sebagai kejutan sarapan. Tri ikut tertawa, membayangkan keluhan yang berani disampaikan hanya karena mereka cukup mengenal atasannya.
Tri berpikir sejenak. Enam kotak masih dapat dikerjakan sebelum ia kembali ke rumah sakit, selama tidak ada perubahan keadaan malam nanti. Ia menyebut harga dua belas ribu per kotak dan mengatakan akan mengabari jika harus membatalkan. Lucky menyetujui jumlah tujuh puluh dua ribu, lalu membayarnya setelah Tri memastikan waktu pengambilan.
Uang itu disimpan sebagai pembayaran pesanan, belum sebagai keuntungan. Sebagian harus kembali menjadi bahan serta kemasan pagi besok. Tri mengulang jumlah enam kotak sebelum memasukkan ke catatan, dan Lucky mengatakan ia akan mengambilnya di lapak agar gadis itu tidak perlu mengantar lagi.
'Jangan karena saya sedang susah lalu Mas merasa perlu membeli yang tidak dibutuhkan,' kata Tri.
'Saya memang akan membawa makanan. Kalau kamu tidak sanggup besok, saya cari yang lain. Bilang saja.'
Jawaban lugas itu membuatnya mengangguk. Lucky tidak kembali menawarkan uang talangan. Ia juga tidak menanyakan apakah waktu berpikir Tri sudah habis. Mereka berpisah setelah membahas jam pengambilan, dengan kecanggungan yang masih ada tetapi tidak menghalangi pekerjaan kecil yang jelas.
Di rumah sakit, Tri menyerahkan makanan yang dibawa kepada Emak dan Aki sebelum duduk dekat Nini. Hari itu ia mendapatkan enam puluh ribu dari buah dan menerima tujuh puluh dua ribu untuk pesanan yang belum dibuat. Kedua angka itu ditulis berbeda. Saat Nini menggenggam tangannya, ia merasa lega bisa membawa sesuatu dari kerja hari ini, tanpa berpura-pura bahwa seluruh kebutuhan sudah terbayar.