Rabu pagi Nini lebih banyak menanggapi ketika diajak bicara. Ia masih cepat lelah, tetapi tidak lagi membiarkan pertanyaan Aki lewat begitu saja. Ketika suaminya salah menyebut hari, perempuan tua itu membetulkan dengan suara pendek yang membuat Tri dan Emak saling pandang, lalu tersenyum lega.
Mereka tetap menunggu penilaian petugas mengenai perawatan berikutnya. Tidak ada yang langsung membereskan seluruh tas hanya karena Nini sempat mengomel. Tri menyampaikan perubahan yang dilihat, mendengarkan penjelasan, lalu menuliskan hal yang perlu ditanyakan lagi agar tidak lupa ketika kesempatan berbicara datang.
Siang itu Aki dan Asih sanggup bergantian menemani. Tri pulang untuk mengurus kebutuhan rumah serta menyiapkan jualan terbatas esok hari. Ia tidak membuka batch baru ketika waktu yang tersedia terlalu pendek. Sebelum berangkat kembali, ia mampir menemui Engkong untuk mengucapkan terima kasih atas botol yang dipinjamkan kepada Aki.
Engkong sedang memeriksa buah bersama Memet. Salah satu durian diletakkan terpisah karena bagian luarnya membuat pembeli ragu. Tri mendekat setelah dipanggil, lalu mendengar perdebatan apakah buah itu akan langsung dibuka untuk memperlihatkan isinya atau ditawarkan terlebih dahulu kepada orang yang memang meminta dibukakan.
'Kalau dibuka sekarang, yang datang nanti belum tentu orangnya mau,' kata Memet.
'Makanya jangan dibuka sebelum ada yang beli,' sahut Engkong.
'Tadi Engkong yang menyuruh saya ambil pisau.'
Tri menutup mulut, menahan tawa. Engkong menatapnya tajam, lalu ikut tersenyum kesal. Ia menanyakan keadaan Nini sebelum kembali membicarakan pesanan buah yang sedang bertambah. Beberapa pembeli meminta diantarkan pada jam yang saling berdekatan, sementara tenaga yang tersedia tidak bisa mendadak menjadi dua kali lipat.
Tri mengatakan ia masih harus kembali ke rumah sakit. Ia bisa membantu menerima pesanan dari pelanggan yang dikenalnya, tetapi tidak sanggup mengantar ke banyak alamat. Engkong menggaruk dagu, kemudian mengusulkan pengambilan dilakukan di tempatnya atau titik yang disepakati dekat pujasera saat Tri memang berjualan.
'Yang laku dari pembeli yang lu bawa, sepuluh ribu satu buah buat lu,' katanya.
'Harga buahnya tetap dari daftar Engkong?'
'Iya. Jangan lu turunin semaunya terus bagian gue yang kurang.'
Tri tertawa dan meminta jumlah yang benar-benar bisa ditawarkan. Mereka memilih beberapa pilihan dari stok Engkong, mengambil foto beserta informasi harga, lalu menandai pesanan hanya sesudah pembeli mengonfirmasi. Barang yang belum dipesan tetap berada pada pemiliknya. Tri tidak perlu mengambil seluruh buah dengan uang modal pancake.
Ia mengulangi hitungannya: uang penjualan buah disetorkan kepada Engkong, dan sepuluh ribu untuk setiap buah yang benar-benar terjual menjadi bagiannya. Itu bukan berarti seluruh uang yang diterima dari pembeli dapat digunakan membayar rumah sakit. Engkong mengangguk, lalu menyuruhnya membuat tulisan yang jelas supaya Memet juga tahu pesanan mana yang melalui dirinya.
Memet menyodorkan buku kecil. Tri menulis dua nama pelanggan yang sudah menyatakan berminat, bukan langsung mencatat sudah laku. Salah satunya sering membeli pancake untuk keluarga. Ia mengirim foto dan menunggu balasan mengenai waktu pengambilan, lalu menyimpan telepon ketika Engkong meminta membantu menempelkan penanda pada satu kantong.
Sebuah duri menyangkut ringan pada ujung tali. Tri menahannya dengan hati-hati sementara Memet membetulkan ikatan. Engkong mengomel karena keduanya terlalu dekat pada sisi yang sama dan saling menghalangi tangan. Setelah tali terpasang, Tri mundur sambil tertawa bahwa menjual lewat foto rupanya tetap membuat orang berkeringat.
Seorang pembeli datang ketika mereka hendak menyimpan tali. Ia justru memilih buah yang sejak tadi dipisahkan, lalu meminta dibukakan. Memet mengambil pisau setelah Engkong memastikan pilihan tersebut. Bagian yang membuat orang ragu di luar ternyata tidak menggambarkan seluruh isinya. Pembeli mengamati, bertanya dua kali, dan akhirnya menyetujui harga yang disebut. Engkong menunggu sampai uang diterima sebelum meminta Memet membungkusnya. Tri melihat seluruh proses, teringat betapa mudah orang di luar menganggap satu tumpuk buah sama dengan uang yang sudah bebas digunakan. Di sini satu pembeli saja masih membawa pertanyaan dan pekerjaan sebelum penjualan benar-benar selesai.
'Belum ada pesanan lu yang dibayar, jangan merasa sudah dapat upah,' kata Engkong ketika melihat Tri menatap buku.
Ia mengangguk. Justru karena belum ada komisi diterima, ia tidak menjanjikan apa pun kepada keluarga. Jika beberapa buah laku, hasilnya mungkin membantu makan atau perjalanan. Tidak akan menutup seluruh biaya perawatan dalam satu sore. Namun pekerjaan itu masih dapat dikerjakan di sela waktu yang sungguh tersedia, tanpa memaksa Nini ditinggal sendirian.
Ketika kembali ke rumah sakit, ia membawa kebutuhan yang dititip serta kabar rencana kecil tersebut. Aki menanyakan apakah tubuhnya sanggup. Tri menjawab ia hanya menerima pesanan dan membantu penyerahan dekat tempatnya, bukan mengangkut seluruh stok Engkong ke lapak.
Emak mendengar sambil membetulkan letak tas. Ia sempat mengatakan juragan buah mestinya langsung bisa membantu lebih besar. Tri memandangnya, lalu menjelaskan buah itu tetap barang dagangan dengan biaya sendiri. Engkong telah membantu mereka dalam banyak hal, tetapi bukan berarti setiap stok di depannya menjadi milik keluarga mereka saat sedang terdesak.
Asih tampak hendak membalas. Nini memanggil meminta Aki mendekat, dan percakapan terhenti tanpa pemenang. Tri merasa kesal, tetapi tidak mengikuti Emak keluar untuk meneruskan pertengkaran. Ia mengecek pesan pembeli setelah keadaan kembali tenang.
Dua orang membalas. Yang pertama ingin tiga buah untuk diambil besok, yang kedua masih menanyakan ukuran dan belum memastikan. Tri mengirim pesanan tiga buah yang sudah pasti kepada Memet dan Engkong, lalu mencatat bahwa pembeli akan membayar ketika mengambil. Belum ada komisi yang boleh ditulis sebagai uang diterima malam ini.
Ia memperlihatkan foto buah kepada Aki, yang langsung bertanya apakah ada bagian yang tidak terlalu matang. Tri tertawa dan mengingatkan ia baru saja mengatakan harus hemat. Kakeknya menjawab bertanya tidak sama dengan membeli. Dari tempat berbaring, Nini ikut menyahut bahwa bertanya terlalu sering biasanya menjadi alasan membawa pulang satu kantong. Tawa kecil mereka tidak menghapus kelelahan, tetapi sore itu ruangan terasa lebih lapang daripada hari sebelumnya.