Malam Selasa, Tri mencari tempat yang tidak terlalu ramai sebelum menelepon Tama. Emak sedang menemani Nini dan Aki beristirahat. Ia membawa buku kecil, pengisi daya, serta air minum supaya tidak perlu memutus pembicaraan hanya karena barang tertinggal lagi.
Tama mengangkat setelah panggilan kedua. Suara bayi terdengar di belakangnya. Ia meminta waktu sebentar untuk berpindah, lalu kembali menanyakan keadaan Nini. Tri menjelaskan urutan sejak Minggu sore, setoran awal yang sudah dibayar, dan kenyataan bahwa ia belum dapat berjualan seperti biasa.
'Saya menelepon bukan mau mengganti bantuan utang dengan uang rumah sakit,' katanya. 'Saya perlu membicarakan kebutuhan yang berbeda. Kalau bisa membantu, tolong sebutkan yang benar-benar bisa dikirim.'
Tama tidak segera menjawab. Ia meminta waktu untuk berbicara dengan Shinta, sementara Tri menunggu sambil mendengar roda alat melintas di lorong. Ada rasa malu yang muncul meskipun ia tahu orang yang dirawat adalah nenek mereka bersama, bukan tanggung jawabnya seorang.
Dari seberang, Lily sempat memanggil ayahnya karena selimut yang dicari belum ditemukan. Tama menjawab terlalu keras, lalu menurunkan suara setelah Shinta menegur. Tri menunggu, mendengar kakaknya bergerak dan sebuah pintu dibuka. Ketika kembali berbicara, ia lebih dulu meminta maaf karena baru dapat mencari tempat tenang sekarang. Tri mengatakan tidak apa-apa, tetapi tetap membuka buku. Kesibukan di rumah Depok memang nyata; kebutuhan Nini juga nyata dan tidak bisa selalu diletakkan setelah semuanya selesai. Ia tidak lagi mengakhiri panggilan hanya karena merasa mengganggu.
Tama kemudian mengatakan dapat mengirim tujuh ratus ribu untuk perawatan Nini. Bantuan empat juta untuk penyelesaian pokok utang Bapak tetap menjadi bagian yang telah disanggupi sebelumnya. Ia meminta Tri mengabari Dwi agar tidak ada yang mengira dua angka tersebut merupakan uang yang sama.
Tri mencatat keduanya pada halaman berbeda. Ia mengulangi tujuh ratus ribu untuk perawatan, kemudian mengirim rekening yang digunakan. Kali ini ia menunggu bukti dan memeriksa saldo sebelum menuliskan sudah diterima. Uang masuk beberapa menit sesudah panggilan berakhir.
Dwi menelepon setelah menerima pesan Tri. Ia masih mempunyai pekerjaan yang belum selesai, tetapi meminta gadis itu menceritakan kebutuhan malam ini lebih dulu. Tri kembali menjelaskan tanpa menaikkan jumlah atau membuat keadaan terdengar lebih buruk agar bantuan cepat datang.
Kakaknya bersedia menambah lima ratus ribu untuk perawatan. Dengan kiriman Tama, jumlahnya menjadi satu juta dua ratus ribu. Dwi mengatakan bantuan tiga juta untuk utang Bapak tetap sedang disiapkan terpisah. Ia tidak ingin Tri menggunakan uang itu terlebih dahulu lalu nanti mengaku harus menggantinya sendiri.
'Kalau ada rincian baru, kirim. Jangan tunggu sudah tidak punya uang sama sekali,' ujarnya.
'Saya juga tidak mau menjanjikan semua langsung cukup. Rincian akhirnya belum ada.'
'Iya. Yang ini simpan dulu untuk biaya perawatan berikut.'
Tri mengangguk meskipun tidak terlihat. Sesudah kiriman Dwi dipastikan masuk, ia menandai dana satu juta dua ratus ribu tersebut sebagai uang perawatan yang belum dibayarkan. Setoran awal satu juta sudah memiliki kuitansi sendiri. Ia tidak menghitung bantuan yang baru tiba seolah telah menutup tagihan akhir yang bahkan belum diterima.
Saat kembali ke dekat Nini, ia mendapati Emak berusaha melipat kain yang selalu bergeser. Tri membantu menahan satu sisinya, lalu menyampaikan kabar dari kedua kakaknya. Asih menghela napas lega dan bertanya apakah sekarang mereka bisa berhenti memikirkan biaya.
'Belum tahu seluruhnya, Mak. Tapi yang menanggung bukan saya sendirian.'
Emak memandangnya. Ia tidak membantah, hanya mengatakan akan mengabari Bapak supaya tidak mengira uang untuk Kardi telah habis dipakai. Tri meminta agar ia sendiri yang menjelaskan setelah makan kecil yang belum sempat disentuh diselesaikan. Telepon kepada keluarga ternyata juga membutuhkan tenaga yang tidak terlihat.
Ujang menjawab dari rumah di Katumbiri. Ia sudah membuka tempat penyimpanan catatan dan menemukan beberapa lembar yang sebelumnya hanya difoto. Bukti transfer yang dibantu Shinta tetap ada dalam salinan lengkap. Ia akan menyatukannya, lalu mencoba meminta waktu mencocokkan dengan catatan Ningsih sebelum keluarga datang lagi.
'Kardi bisa marah kalau Bapak menemui istrinya tanpa bilang,' katanya.
'Minta waktunya baik-baik. Jangan sembunyi-sembunyi. Yang menerima uang dulu Bu Ningsih, jadi kita perlu tahu catatannya.'
Ujang terdiam. Ia kemudian menanyakan keadaan Nini dan berapa uang yang sudah keluar. Tri menjelaskan bantuan perawatan dari Tama serta Dwi, menegaskan bahwa satu juta milik kedua orang tua untuk penyelesaian utang belum diminta dikirim ke Jakarta.
Sesudah mendengarkan, Bapak mengatakan ia tidak seharusnya membiarkan Tri menghadapi terlalu banyak urusan sendiri. Kalimatnya patah pada bagian akhir, seolah ia tidak terbiasa mengakui sesuatu tanpa segera menyebut kesalahan orang lain.
'Saya masih ingat waktu di Depok, Pak,' jawab Tri pelan.
Tidak ada jawaban cepat. Ujang menghela napas, mengatakan ia tahu, lalu berhenti lagi. Tri tidak menyelesaikan kalimat untuknya. Dua tamparan itu bukan sesuatu yang hilang hanya karena hari ini ada bantuan biaya. Ia juga tidak sanggup menguraikan semua lukanya sambil terus menoleh karena takut Nini memanggil.
Mereka menutup telepon setelah sepakat saling memberi kabar tentang catatan. Tidak ada ucapan bahwa hubungan telah kembali seperti semula. Tri menyimpan ponsel dan membawa buku ke tas, kemudian meminta Emak beristirahat sebentar. Asih menurut setelah memastikan barang yang dibutuhkan berada dalam jangkauan.
Nini membuka mata saat Tri duduk. Ia menanyakan mengapa gadis itu tampak sibuk bicara dengan telepon. Tri menjawab kedua kakaknya mengirim salam dan bantuan. Perempuan tua itu mengangguk, kemudian meminta Aki dibangunkan jika sudah waktunya makan, sebab lelaki itu suka mengaku tidak lapar ketika sedang cemas.
Tri tersenyum. Ia menyanggupi, memeriksa tempat Aki beristirahat, lalu kembali duduk. Malam itu ada satu juta dua ratus ribu yang benar-benar masuk untuk perawatan. Ada pula kalimat Bapak yang belum selesai. Keduanya akan dihadapi pada waktunya; untuk sekarang ia cukup memastikan orang-orang di ruangan ini tidak melewatkan makan hanya karena saling menunggu menjadi yang paling kuat.