Ujang berangkat kembali ke Katumbiri pada Selasa pagi. Ia ingin mengambil catatan yang belum terbawa, memastikan uang satu juta tetap tersimpan, dan mencari kemungkinan pekerjaan lain. Asih tidak ikut. Ia akan tinggal membantu merawat ibunya sampai keadaan memungkinkan keluarga mengatur perjalanan berikutnya.
Tri mengantar Bapak sampai tempat kendaraan jemputan berhenti di depan rumah sakit. Tas yang dibawanya lebih ringan daripada ketika datang bersama Kardi. Ia menjelaskan akan melanjutkan perjalanan dengan bus, lalu mengabari setelah sampai. Tri meminta ia tidak menyerahkan uang apa pun tanpa bukti dan tidak membuat janji atas nama dirinya.
'Bapak sudah dengar,' jawab Ujang, masih terdengar lelah jika harus mengulang hal yang sama.
'Saya tahu. Saya juga lelah harus terus mengatakannya.'
Mereka berpandangan sesaat. Ujang akhirnya mengangguk dan masuk ke kendaraan. Tri tidak memintanya tinggal karena takut semua pekerjaan akan kembali jatuh kepadanya. Ada Emak, ada Aki, dan keduanya sudah membicarakan pembagian waktu sebelum ia pergi.
Ketika kembali, ia mendapati Asih sedang membetulkan lipatan kain di dekat Nini. Perempuan tua itu ingin mengubah posisi dan menunggu bantuan. Tri mendampingi sesuai arahan yang biasa diterima keluarga, sementara Emak menahan barang agar tidak menghalangi. Sesudahnya mereka sama-sama kelelahan lebih cepat daripada yang dibayangkan.
'Dulu Emak pikir kamu di sini tinggal memberi makan saja,' ujar Asih pelan.
Tri tidak segera menjawab. Banyak kalimat ingin keluar sekaligus, termasuk tentang cara mereka menuduh ia terlalu bebas di Jakarta. Ia memilih mengangkat tas yang jatuh terlebih dahulu. Emak tidak sedang meminta semua perkataannya dilupakan, dan Tri belum siap membuat percakapan itu menjadi pertengkaran ketika Nini baru ingin beristirahat.
Sebelum Tri pulang, Nini meminta mendengar suara acara yang biasanya ditonton di rumah. Aki mengambil telepon, tetapi justru membuka kamera dan melihat wajahnya sendiri terlalu dekat di layar. Nini mengerutkan dahi, kemudian tertawa kecil ketika suaminya mengeluh tombolnya berpindah-pindah. Tri membantu mencari pilihan yang dimaksud, mengecilkan suara agar tidak mengganggu, lalu meletakkan telepon pada tempat yang dapat dilihat tanpa harus dipegang terus. Mereka hanya menonton sebentar sebelum Nini lelah. Aki menyimpan telepon dengan bangga karena sekarang sudah tahu letak tombolnya, meskipun Tri menduga besok ia akan bertanya lagi.
Ia pulang bergantian untuk mandi serta menyiapkan keperluan. Hari itu ia tidak membuka lapak pagi. Ada kebutuhan yang harus diambil dan pesan pelanggan yang perlu dijawab, sementara badannya menuntut tidur lebih lama dari beberapa menit di kursi. Ia memasang alarm sebelum berbaring, tetapi terbangun lebih awal karena merasa mendengar telepon berdering.
Layar ternyata tidak menyala. Tri duduk di tepi tempat tidur dengan jantung berdebar, marah kepada dirinya sendiri karena bahkan ketika tidak ada panggilan ia tetap merasa harus segera bergerak. Di sudut ruangan, tas jualan yang sudah dibersihkan tampak seperti barang milik orang lain.
Ia membuka catatan uang. Setoran awal perawatan telah dibayar, tetapi kebutuhan berikut belum diketahui seluruhnya. Modal yang tersisa hanya cukup menjaga lapak berjalan, bukan mengubah hari tanpa jualan menjadi penghasilan. Tabungan kuliah sudah habis dikirim kepada Bapak. Dua kakaknya bersedia membantu utang, namun perawatan Nini merupakan kebutuhan lain yang belum dibicarakan jumlahnya.
Saat itulah pikiran buruk datang begitu mudah: jika ia menyerah kepada Kardi, mungkin semua orang berhenti menanyakan uang kepadanya. Ia membayangkan lapak tetap buka karena dirinya tidak perlu mengejar jumlah tertentu, Nini dirawat, dan keluarga pulang tanpa telepon yang membuatnya gemetar.
Tri segera menutup buku. Bayangan itu tidak memperlihatkan seperti apa hidupnya setelah menikah dengan orang yang menggunakan pekerjaan Bapak untuk menekan keluarga. Tidak ada bagian dirinya yang mendadak menginginkan Kardi. Ia hanya lelah, dan kelelahan sedang membuat satu pintu yang menakutkan terlihat seperti tempat berhenti berlari.
Ia menangis dengan suara tertahan sampai alarm berbunyi. Kali ini ia tidak mematikannya lalu memaksa diri berdiri seketika. Ia minum, membilas wajah, dan memeriksa barang yang memang perlu dibawa kembali. Setelah mengabari Emak waktu kedatangannya, ia berangkat ke rumah sakit tanpa membuat janji baru kepada siapa pun.
Adam menemuinya menjelang sore setelah kuliah. Ia membawa kabar bahwa Engkong sudah menerima pesanan buah beberapa hari ke depan dan sedang mengomeli Memet karena catatannya sulit dibaca. Tri biasanya tertawa mendengar itu. Hari ini senyumnya terlambat muncul.
'Teteh sudah tidur?'
'Sebentar. Tapi kepala saya tidak ikut berhenti.'
Adam duduk di tempat yang tersedia, tidak langsung bertanya angka. Setelah beberapa saat, Tri mengatakan ia sempat berpikir menerima kemauan Kardi agar tidak perlu terus mencari uang. Kalimat itu membuat wajah lelaki di sebelahnya menegang.
'Teteh mau menikah dengannya?'
'Tidak. Saya malu sampai bisa memikirkannya.'
Adam menunduk. Ia menggenggam kedua tangannya sendiri, tampak kesulitan menjawab tanpa marah kepada orang yang tidak sedang berada di sana. Tri menunggu. Ia tidak mengatakan Kardi telah berubah baik, tidak pula meminta Adam bersaing menyiapkan uang agar dirinya batal menyerah.
'Aku takut Teteh sedang sendirian waktu berpikir begitu,' katanya akhirnya.
'Tadi memang sendirian di rumah. Sekarang saya cerita supaya tidak sendirian menyimpannya.'
Adam mengangguk dan tetap duduk. Mereka tidak segera memperoleh jalan keluar. Tri mengusap mata ketika air matanya kembali turun. Ia malu karena petugas dan pengunjung lain bisa lewat kapan saja, lalu justru tertawa pendek ketika Adam menyodorkan tisu dari kantong yang hampir kosong.
'Ini bukan yang ketinggalan waktu acara kampus,' katanya kaku.
Tri tertawa lagi di antara isaknya. Ia menerima selembar, mengeringkan wajah, kemudian mengatakan akan menelepon Tama dan Dwi malam itu untuk menjelaskan kebutuhan perawatan secara terpisah. Bukan meminta mereka memindahkan tujuh juta penyelesaian utang tanpa pembicaraan.
Menjelang malam, pesan Ujang masuk: ia sudah sampai kampung dengan selamat. Tri membalas singkat, lalu kembali mendekati Nini setelah Emak memanggil. Pikiran yang tadi membuatnya malu belum terhapus dari ingatan. Namun ia sudah mengucapkannya kepada seseorang, dan untuk hari itu ia tetap memilih pulang ke sisi Nini sebagai dirinya sendiri.