Senin pagi Tri terbangun dengan leher kaku dan bunyi langkah di lorong. Beberapa saat ia tidak ingat berada di mana. Kemudian ia melihat tas Aki di dekat kaki dan Emak yang berjalan membawa pakaian, lalu seluruh kejadian kemarin kembali memenuhi kepala.
Nini masih menjalani perawatan. Ketika Tri mendekat, perempuan tua itu membuka mata dan menanyakan Aki. Kakeknya sedang mencari sarapan bersama Ujang. Tri menjelaskan mereka segera kembali, kemudian duduk sebentar sampai Emak datang menggantikan.
Asih mengeluhkan air yang menetes dari botol ke dalam kantong pakaian. Ia telah membungkus ulang barang yang basah, tetapi tidak dapat menemukan saputangan yang tadi dipakai. Tri membantu memeriksa tas, menemukannya terselip di antara dua helai baju, lalu menunjukkan bagian tas yang biasa digunakan untuk barang kecil.
'Banyak sekali yang harus diingat,' gumam Emak.
'Makanya saya menaruhnya di tempat yang sama terus.'
Asih menatap tas itu tanpa membalas. Ketika Aki kembali, ia menerima makanan dan menyuruh suaminya duduk lebih dulu. Mereka bergantian makan, tidak lagi sama-sama menunggu orang lain menyelesaikan seluruh urusan. Tri menghabiskan bagiannya sebelum memeriksa pesan pelanggan.
Ada dua orang menanyakan apakah lapak buka hari itu. Ia belum menerima pesanan mereka. Sejak kemarin tidak ada pemasukan baru, sementara biaya makan dan perjalanan tetap berjalan. Tri berbicara dengan Aki dan Emak, menanyakan apakah mereka sanggup menemani Nini sementara ia pergi beberapa jam untuk membuka lapak terbatas.
'Kalau ada kabar pemeriksaan, telepon saya langsung,' katanya.
'Kamu tidak perlu menunggu sore. Jual secukupnya lalu kembali,' jawab Aki.
Ujang menawarkan mengantar, tetapi Tri meminta ia membantu kebutuhan Aki selama dirinya pergi. Ia pulang ke kontrakan, mandi, mengganti pakaian, lalu duduk sebentar sebelum mulai bekerja. Tidur yang kurang membuat gerakannya terasa lebih lambat. Ia memilih satu batch kecil dan tidak menambah jumlah hanya karena ingin mengganti seluruh hari yang hilang.
Di pujasera, Mang Ucup menanyakan Nini sebelum bertanya soal adonan. Tri menjawab seperlunya dan mengatakan akan tutup lebih cepat. Lelaki itu membantu menggeser bangku agar ia bisa duduk ketika tidak ada pembeli, kemudian kembali melayani tempatnya sendiri.
Pelanggan pertama datang meminta durian. Tri menjelaskan jumlah yang tersedia. Ketika orang itu hendak menambah pesanan untuk sore, ia menolak dengan halus. Ia tidak tahu kapan bisa kembali setelah ke rumah sakit. Orang itu akhirnya membeli porsi yang sudah ada, lalu menitipkan salam untuk Nini.
Ucapan sederhana tersebut nyaris membuatnya menangis. Tri membalik badan seolah mencari kantong, menunggu matanya tidak lagi panas, baru menyerahkan makanan. Mang Ucup melihat, tetapi tidak menanyakan apa-apa di depan pelanggan.
Adam datang sebentar sebelum masuk kuliah. Ia membawa satu botol minum yang diminta Engkong untuk Aki, sebab botol lama di rumah sempat bocor. Tri berterima kasih dan menyimpannya dalam tas barang yang akan dibawa kembali. Ia tidak meminta Adam meninggalkan kelas. Pemuda itu menanyakan apakah ada bagian berat yang perlu dipindahkan sekarang, lalu membantu setelah diberi tahu.
'Kalau aku selesai sore, aku kabari,' katanya.
'Saya mungkin masih di sana. Tapi lihat tugasmu dulu.'
Adam mengangguk. Ia membeli satu porsi, bukan menghabiskan seluruh persediaan untuk membuat jualan tampak ramai. Ketika ia pergi, Tri kembali menatap catatan. Bahkan jika seluruh batch kecil itu habis, hasil bersihnya hanya membantu sebagian kebutuhan hari itu. Tidak ada cukup kotak untuk menutup biaya perawatan yang belum selesai.
Seorang pembeli berikutnya meminta dua porsi dibungkus terpisah karena akan diberikan kepada teman berbeda. Tri menandai rasa pada masing-masing tutup, kemudian menuliskan harga pada kertas kecil ketika diminta. Orang itu tertawa bahwa tanpa catatan ia pasti dituduh menaikkan harga oleh teman sekantornya. Tri menyerahkan uang kembalian dan menyarankan ia menyimpan bukti belanja lebih rapi daripada penjualnya. Mereka sama-sama tersenyum. Selama beberapa menit, percakapan berlangsung seperti hari jualan biasa, dan Tri merasa senang tidak harus menjawab pertanyaan tentang rumah sakit setiap kali seseorang berdiri di depan meja.
Menjelang penutupan, telepon Emak masuk. Tri segera mengangkat, sendok masih di tangan. Asih hanya menanyakan tempat kaus kaki Nini yang belum ditemukan. Gadis itu duduk perlahan, mengembuskan napas yang tadi tertahan, lalu menjelaskan barang itu ada pada kantong terpisah bersama pakaian bersih.
'Saya pikir ada apa-apa, Mak.'
'Emak tadi langsung menelepon karena kamu bilang begitu.'
Tri terdiam, lalu meminta agar kabar mendesak tetap langsung ditelepon, sedangkan pertanyaan barang boleh dikirim lewat pesan jika masih bisa menunggu. Emak menjawab pendek. Beberapa menit kemudian foto kantong yang dimaksud masuk, disertai pertanyaan apakah itu yang benar. Tri membalas iya dan akhirnya bisa menyelesaikan transaksi tanpa memegang telepon di antara dua pekerjaan.
Ketika adonan terbatas habis, ia tidak membuat lagi. Ia mencuci alat, menyimpan barang di tempatnya, lalu menghitung uang sebelum membeli kebutuhan yang dititip Aki. Sisanya dipisahkan kembali sebagai modal dan hasil hari itu. Rasa lelah membuatnya ingin menunda pencatatan, tetapi ia tahu malam nanti mungkin tidak akan lebih tenang.
Di rumah sakit ia mendapati Emak sedang membantu menata pakaian Nini dengan lebih teratur. Tidak ada komentar mengenai Tri yang pergi bekerja sementara ibunya dirawat. Asih hanya mengatakan Nini sempat bertanya kapan ia datang, kemudian memberikan tempat duduk yang tadi dipakainya.
Tri menyerahkan botol dari Engkong kepada Aki. Kakeknya memeriksa tutupnya, mengangguk senang, lalu meminta ia mengirim terima kasih. Barang kecil itu menyelesaikan satu kerepotan yang sejak tadi harus dihadapi berulang. Tri mengambil telepon, menulis pesan singkat, kemudian menyimpannya ketika Nini membuka mata.
'Sudah jualan?' tanya perempuan tua itu.
'Sudah, sedikit. Sekarang saya di sini.'
Nini mengangguk. Tri duduk dekatnya, mengendurkan bahu yang sejak pagi terus terangkat. Beberapa jam di lapak menghasilkan sedikit uang dan banyak hal yang belum selesai. Namun untuk sore itu, keperluan makan keluarga, kebutuhan Aki, dan orang yang menunggu di ruangan ini sudah tidak seluruhnya bergantung pada satu pasang tangannya.