Nini dibawa untuk diperiksa sore itu juga. Tri duduk di dekatnya selama perjalanan, sementara Aki memegang tas berisi catatan dan barang yang diperlukan. Emak beberapa kali menanyakan apakah ibunya mendengar. Nini masih menanggapi, tetapi suaranya membuat Tri ingin kendaraan segera sampai tanpa harus terus melihat jalan.
Setiba di tempat pelayanan, urusan pemeriksaan lebih dulu mengambil perhatian mereka. Tri menjawab pertanyaan mengenai perubahan keadaan sejak kemarin dan menyerahkan catatan kontrol yang dibawa. Ia tidak mengingat setiap istilah ketika ditanya, lalu membuka lembar yang tersimpan agar tidak menebak. Aki membantu menyebutkan hal yang dilihat ketika Tri sedang berjualan pagi tadi.
Adam mendampingi di bagian yang diperbolehkan, memegang tas ketika tangan Tri harus bebas. Sesekali ponselnya bergetar. Ia membalas singkat kabar kepada Engkong, kemudian menunggu di luar bersama Ujang saat keluarga diminta tidak berkumpul terlalu banyak di dekat pemeriksaan.
Sesudah penjelasan dari petugas, keluarga mengikuti anjuran agar Nini menjalani perawatan dan pemantauan lebih lanjut. Tri mendengarkan sekali lagi ketika bagian yang tidak dipahami diulang. 'Jadi Nini belum bisa dibawa pulang malam ini?' tanyanya memastikan. Ketika jawabannya kembali dijelaskan, ia memandang Aki dan mengangguk pelan. Mereka perlu menyiapkan diri untuk tinggal lebih lama daripada pemeriksaan biasa.
Emak menangis ketika melihat ibunya harus dipindahkan. Ia menyalahkan dirinya yang datang membawa pembicaraan Kardi. Tri menahan bahunya, meminta ia membantu membawa kebutuhan Nini terlebih dahulu. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa percakapan siang tadi menyebabkan keadaan tersebut. Menyalahkan diri sendiri sekarang juga tidak membuat perawatan berjalan lebih mudah.
'Tas kecilnya di Bapak, Mak. Tolong ambilkan pakaian yang tadi dibawa Aki.'
Asih mengusap mata dan bergerak. Ia kembali dengan tas yang salah, lalu kesal kepada Ujang yang menyerahkannya terburu-buru. Tri membuka keduanya, menemukan barang yang dicari, dan menutup kembali tanpa membiarkan pertengkaran bertambah panjang di lorong.
Ketika urusan administrasi dibicarakan, Tri baru merasakan perutnya kosong. Ada setoran awal satu juta yang perlu disiapkan untuk perawatan tersebut. Ia meminta penjelasan mengenai pencatatan dan kuitansinya, lalu memeriksa dana yang masih tersedia. Angka itu bukan jumlah akhir seluruh perawatan; pengeluaran berikutnya belum diketahui.
Simpanan perawatan yang dipisahkan dari modal kini berjumlah enam ratus ribu. Di dalamnya ada sisa alokasi hasil pesanan besar, upah tiga ratus ribu dari Tama untuk bantuan akikah, serta tambahan yang dikumpulkan dari jualan harian. Ia menunjukkan catatan kepada Aki agar keduanya tahu uang mana yang hendak digunakan. Bukan amplop pendidikan; amplop itu sudah kosong sejak Jumat.
Aki mengeluarkan empat ratus ribu dari simpanannya sendiri, yang selama ini disisihkan dari hasil kebun dan dibawa untuk kebutuhan mereka. Ia menghitung lembaran dua kali karena satu menempel pada yang lain. Tri menunggu sampai jumlahnya tepat, kemudian menggabungkan dengan uang perawatan miliknya untuk setoran awal.
Ujang berdiri dekat mereka, tampak hendak menawarkan satu juta yang sudah disebut Emak. Asih mengingatkan uang itu disimpan di rumah kampung bersama upah terakhir, bukan ikut dimasukkan ke tas perjalanan. Tri tidak meminta mereka mencari pinjaman baru malam itu hanya agar segera terlihat ikut membayar.
'Yang ini dulu cukup untuk setoran awal. Setelah ada rincian berikutnya, kita bicarakan lagi,' katanya.
Ia membayar dan menyimpan bukti pada bagian tas yang terpisah dari tanda terima Kardi. Dua urusan itu sama-sama menyebut uang, tetapi tidak boleh bercampur sampai ia lupa siapa yang sudah menerima dan untuk apa. Ketika kembali ke dekat Nini, ia harus menahan mata yang mulai panas.
Perempuan tua itu melihatnya dan bertanya singkat apakah ia sudah makan. Tri hampir menjawab sudah seperti kebiasaan ketika tidak ingin membuat orang cemas. Ia berhenti, lalu mengatakan akan makan setelah Emak menggantikan sebentar. Nini menggerakkan tangannya sedikit, seolah menyuruhnya benar-benar pergi, bukan berdiri lagi sambil memberikan janji.
Adam membeli makanan sederhana untuk dirinya sendiri dan menawarkan menemani Tri mengambil makan. Tri membayar bagiannya, lalu duduk di tempat yang tersedia. Sendok pertamanya hanya bergerak memisahkan nasi. Adam menunggu sebelum mengingatkan bahwa makanannya akan dingin jika terus dipandangi.
'Saya tadi masih menghitung pesanan besok,' ujar Tri.
'Yang sudah masuk, kabari dulu. Kalau tidak bisa dibuat, jangan biarkan orang menunggu.'
Tri membuka telepon dan menemukan satu pesan pelanggan yang meminta kepastian. Ia menjelaskan ada keluarga dirawat dan pesanan belum dapat diterima. Kepada Lucky ia mengirim kabar bahwa percobaan delapan kotak berikut perlu ditunda. Pria itu membalas akan menunggu kabar keadaan Nini; tidak ada produk yang ditagihkan karena belum dibuat.
Sesudah makan, Tri kembali menggantikan Emak. Adam membantu membawa barang yang tertinggal di kendaraan, lalu pamit karena harus mengurus keperluan kuliah dan mengabari Engkong langsung. Ia meminta Tri menelepon bila ada kebutuhan, tetapi tidak menjanjikan bisa meninggalkan semua kegiatan setiap saat.
Ujang sempat kembali ke kontrakan dengan kendaraan pesanan untuk mengambil pengisi daya dan satu helai pakaian Aki yang tertinggal. Tri menggambar letak barang pada kertas kecil karena petunjuk lisan membuat Bapak mengulang pertanyaan sampai tiga kali. Ketika kembali, ia menyerahkan pakaian itu dalam kantong bersih dan mengeluarkan pengisi daya dari saku lain. Asih segera membantu mencari tempat aman untuk menyambungkan telepon. Ujang bertanya apakah Aki ingin berganti pakaian sekarang atau menunggu pagi. Kakek itu memilih menyimpan dahulu, lalu meminta tas diletakkan di dekatnya. Kertas petunjuk yang sudah terlipat dikembalikan kepada Tri; ia memasukkannya ke tas agar tidak tercecer bersama barang lain.
Malam semakin larut. Ujang duduk di ruang tunggu, Aki beristirahat sebentar setelah menyerahkan catatan kepada Tri, dan Asih menata pakaian yang tadi sempat salah dicari. Suara mereka lebih pelan daripada siang hari. Di dekat Nini, Tri memandang kuitansi setoran awal sebelum menyimpannya kembali. Satu juta telah dibayar, enam ratus ribu simpanan perawatannya habis, dan hari-hari tanpa berjualan baru saja dimulai. Ia menggenggam tangan Nini dengan hati-hati, belum tahu berapa lama ia harus bertahan sebelum keadaan membaik.