Minggu pagi Nini masih ingin duduk di dekat pintu, tetapi tidak lama kemudian meminta kembali beristirahat. Tri menanyakan apakah ada yang terasa berbeda. Perempuan tua itu hanya mengatakan badannya lelah. Aki menyuruh Tri berjualan lebih singkat saja; ia akan menemani istrinya dan mengabari jika ada perubahan.
Tri berangkat membawa jumlah yang sudah dikurangi. Ia tidak menerima tambahan pesanan mendadak. Satu pelanggan yang ingin menunggu dibuatkan lagi terpaksa diberi penjelasan bahwa hari itu ia harus pulang lebih awal. Orang itu kecewa, tetapi akhirnya mengambil porsi yang tersedia dan tidak memperpanjang percakapan.
Menjelang ia selesai berkemas, Emak menelepon. Suara kendaraan terdengar di belakangnya. Asih mengatakan ia dan Ujang sudah berada di Jakarta, datang bersama Kardi dan Juned yang mengemudikan mobil. Mereka hendak menuju kontrakan setelah mampir mencari makan.
Tri membeku dengan kantong di tangan. 'Kenapa tidak bilang dari tadi?'
'Kardi mengajak sejak pagi. Katanya kalau kamu belum bisa pulang, dia yang datang membicarakan sisanya.'
'Nini sedang kurang enak badan, Mak. Jangan datang membawa pembicaraan itu ke depan Nini.'
Emak terdiam, lalu menanyakan keadaannya. Tri menjawab belum tahu lebih jauh dan sedang hendak pulang. Ia meminta mereka menunggu kabar, tetapi Asih mengatakan mobil sudah mendekati tempat yang dikenali dari kunjungan sebelumnya. Panggilan berakhir sebelum Tri berhasil memastikan di mana mereka akan berhenti.
Ia menelepon Aki lebih dulu agar tidak terkejut mendengar ketukan. Kemudian ia membawa motor pulang, menahan keinginan memacu lebih cepat. Ketika tiba, mobil sudah berhenti tidak jauh dari deretan kontrakan. Juned berdiri di sisinya, sedangkan Kardi dan kedua orang tuanya berada dekat pintu.
Kardi menyapa seperti kedatangannya memang telah ditunggu. Tri menjawab singkat, melepas helm, lalu bertanya apakah Emak sudah melihat Nini. Asih mengangguk dan mengatakan ibunya sedang berbaring. Bapak berdiri di belakangnya dengan tas kecil yang tampak terlalu penuh untuk kunjungan sebentar.
Salah satu kantong di motor bergeser ketika Tri melepaskan pengikat. Ujang bergerak mengambilnya, tetapi hampir mengangkat dari sisi yang terbuka. Tri segera menahan dan menunjukkan pegangan yang benar. Di dalamnya ada wadah bekas jualan, bukan makanan yang bisa disajikan kepada tamu. Bapak menurunkannya di tempat yang ditunjuk tanpa mengomentari bau sisa adonan. Emak menyuruhnya mencuci tangan sebelum mendekati Nini lagi. Gerakan kecil itu memberi Tri waktu menyimpan helm serta kunci, namun tidak menghapus kegelisahan melihat Kardi berdiri seolah berhak menunggu jawaban di depan pintunya. Ia menutup tas jualan, menyingkirkannya dari jalan, lalu kembali menghadapi lelaki itu sebelum ia melangkah lebih jauh ke dalam rumah.
'Saya datang baik-baik, Tri,' kata Kardi sambil membetulkan ujung lengan bajunya. 'Sudah ada pembayaran, sekarang tinggal memastikan sisanya.'
'Saya juga ingin sisanya jelas. Tapi bukan sekarang di depan orang yang sedang sakit.'
Kardi melirik ke dalam. 'Kalau semuanya terus ditunda, saya juga perlu kepastian.'
'Ada foto transfer lama yang harus dicocokkan dengan catatan Bu Ningsih. Saya tidak bisa mengganti pemeriksaan itu dengan pembicaraan pernikahan.'
Ujang bergerak seolah hendak menyela. Tri memandangnya lebih dulu, mengingatkan kalimat yang telah diucapkan saat uang dua juta dikirim. Pembayaran itu untuk utang. Ia tidak datang ke Jakarta untuk memilih hari menjadi istri ketiga.
Asih menarik napas keras. Tri menunggu ia memarahi, tetapi Emak justru menoleh ke dalam rumah ketika Nini memanggil. Ia masuk lebih dulu dan duduk di sisi tempat tidur. Aki keluar ke ambang pintu, menatap Kardi tanpa ikut mengundangnya membicarakan angka di ruangan sempit itu.
'Kalau mau mencocokkan catatan, tentukan pertemuan setelah keadaan Icih memungkinkan,' kata Aki. 'Jangan berdiri di sini membuatnya ikut memikirkan semuanya.'
Kardi tidak segera mundur. Ia menyebut perjalanan jauh yang sudah ditempuh. Tri menjawab perjalanan itu tidak pernah dijanjikan olehnya. Nada suaranya terdengar lebih keras dari yang diinginkan, dan sesaat ia takut Nini mendengar setiap kata.
Ia menurunkan suara, meminta Kardi membawa catatan yang lengkap pada pertemuan berikut. Jika Ningsih yang menerima transfer, penjelasannya juga diperlukan. Kardi mengatakan ia akan membicarakan dengan istrinya, tetapi tetap menganggap biaya tambahan bagian dari urusan yang harus diselesaikan.
'Itu yang belum kami setujui,' jawab Tri.
Tidak ada kesepakatan baru siang itu. Kardi akhirnya kembali ke mobil setelah mengatakan tidak bisa terus menunggu. Ujang hendak mengikutinya beberapa langkah, lalu berhenti ketika Asih meminta ia mengambil tas dari kendaraan. Kedua orang tua Tri akan tinggal melihat keadaan Nini; Kardi dan Juned pulang tanpa membawa persetujuan pernikahan.
Setelah mobil pergi, Tri masuk dan mendapati Emak mengelus tangan ibunya. Nini menjawab pertanyaan lebih lambat daripada biasanya. Ketika Tri mendekat, tubuh perempuan tua itu terasa panas. Aki mengatakan sejak tadi ia semakin ingin berbaring dan tidak banyak minum.
Tri tidak melanjutkan perdebatan mengenai Kardi. Ia menghubungi layanan kesehatan yang biasa didatangi untuk menanyakan ke mana mereka perlu membawa Nini dengan perubahan keadaan tersebut. Sesudah menjelaskan keluhannya, ia mengikuti arahan untuk segera mendapatkan pemeriksaan langsung. Ia menyiapkan catatan yang biasa dibawa saat kontrol, sementara Aki mengambil kebutuhan Nini.
Emak tampak panik dan beberapa kali menanyakan apakah harus menunggu besok. Tri menjawab mereka akan berangkat sekarang. Ia meminta Bapak membantu menyingkirkan barang dekat pintu agar perjalanan keluar tidak terhalang. Ujang segera bergerak, tidak menunggu persetujuan lain atau kembali membicarakan permintaan Kardi yang belum memperoleh jawaban.
Adam menerima telepon Tri ketika sedang berada di rumah Engkong. Ia segera datang membantu perjalanan, sementara kendaraan untuk membawa Nini dipesan. Engkong menyusul ke depan kontrakan, menanyakan barang yang masih kurang, lalu menyuruh Adam mengambil tas Aki yang tertinggal dekat kursi.
Tri memeriksa ponsel, tas, dan wajah Nini bergantian. Masih ada pesan keluarga tentang rencana pembayaran, tetapi ia tidak membukanya. Sore itu persoalan yang menunggu di kampung harus tetap menunggu. Nini membutuhkan pertolongan sekarang, dan tidak ada angka pada catatan Kardi yang boleh membuat mereka menunda berangkat.