Foto tanda terima datang pada Sabtu siang. Tri baru selesai mematikan kompor ketika Bapak mengirimkannya. Ia membuka gambar, memperbesar tulisan, lalu menelepon karena dua bagian tertutup bayangan tangan.
'Pak, tolong difoto lagi di tempat terang. Saya tidak bisa membaca tanggalnya.'
'Itu sudah ditandatangani.'
'Saya bukan bilang belum. Saya ingin bisa membaca semuanya.'
Ujang menggerutu pendek, tetapi beberapa menit kemudian gambar baru masuk. Dua juta telah diterima Kardi sebagai pembayaran utang. Jumlah tersebut sesuai kiriman Tri kemarin. Di bawahnya, lelaki itu menuliskan sisa tagihan menurut perhitungannya sendiri: empat belas juta.
Tri duduk di bangku yang masih hangat terkena matahari. Enam belas juta versi sebelumnya berkurang dua juta, tetapi tambahan empat juta dan transfer lama kepada Ningsih belum selesai dibicarakan. Ia menanyakan apakah Bapak menyanggupi angka empat belas juta itu. Jawaban di seberang tidak langsung terdengar.
'Bapak bilang akan dibicarakan dengan anak-anak.'
'Kalau begitu, jangan nanti berubah menjadi sudah setuju.'
Ujang mengatakan Kardi tidak senang ketika bukti lama kembali disebut. Ia meminta keluarga datang membawa semuanya, bukan terus membicarakan foto lewat telepon. Tri belum menjanjikan tanggal perjalanan. Nini masih perlu ditemani, lapak harus diatur, dan ia sendiri tidak mau datang hanya untuk mendengar perintah menikah sekali lagi.
Sesudah panggilan selesai, ia mengirim foto kepada Tama dan Dwi. Ia menambahkan catatan bahwa empat belas juta merupakan tagihan Kardi, bukan jumlah yang sudah mereka setujui. Bukan semua angka yang ditulis seseorang berubah menjadi kewajiban hanya karena letaknya berada di dekat tanda tangan.
Tama menelepon ketika Tri sudah tiba di rumah. Ia berbicara dari tempat yang lebih sepi setelah urusan pekerjaannya selesai sebentar. Shinta sudah membantu mencari bukti transfer lengkap; sekarang ia dan Dwi ingin menentukan bantuan yang dapat benar-benar disediakan untuk menyelesaikan sisa pokok.
'Kalau pembayaran dua juta lama itu cocok dengan catatan Ningsih, sisanya delapan juta, kan?' tanya Tama.
Tri mengulangi hitungannya. Pokok delapan belas juta, pembayaran lama enam juta yang sudah diakui, tambahan bukti dua juta, lalu dua juta dari dirinya kemarin. Jika seluruh pembayaran itu diakui sesuai tujuannya, tinggal delapan juta. Empat juta biaya tambahan tetap belum mempunyai dasar yang mereka sepakati.
'Saya bisa menyediakan empat juta,' kata Tama. 'Dwi tiga juta. Kami sudah bicara, tapi jangan menyerahkan janji kepada Kardi sebelum catatannya jelas.'
Tri terdiam. Nominal itu lebih nyata daripada perintah agar dirinya berkorban. Ia meminta kakaknya mengulangi apakah empat juta tersebut bantuan atau pinjaman yang nanti harus dikembalikan dari lapak.
'Bagian saya untuk utang Bapak. Bukan saya pinjamkan kepadamu.'
Jawaban itu membuat bahunya sedikit turun. Tama tidak menyebutnya hadiah agar Tri memaafkan semuanya. Ia mengakui bantuan itu terlambat dan menjelaskan uang belum ditransfer hari ini karena mereka harus menentukan cara menyerahkan setelah sisa sebenarnya disepakati. Tri mencatatnya sebagai kesediaan, bukan saldo rekening yang sudah bertambah.
Dwi kemudian masuk dalam percakapan melalui panggilan bersama yang diatur Tama. Ia membenarkan bagian tiga juta dari dirinya. Namun ia juga mengingatkan tidak mau uang tersebut hanya dipakai menutup biaya tambahan yang terus muncul tanpa akhir. Bukti dan tanda selesai harus diperoleh, bukan sekadar pulang membawa ucapan bahwa Kardi akan mempertimbangkan.
Tri setuju. Ia meminta keduanya tetap menyimpan salinan bukti lama. Tidak perlu semua orang membawa uang sendiri-sendiri lalu membuat pembayaran sulit dilacak. Cara penyerahannya akan dibicarakan setelah pertemuan benar-benar dapat dijadwalkan.
Ketika telepon berakhir, Nini memanggil karena makanan yang disuapkan Aki terlalu banyak. Tri mengambil alih sebentar, mengecilkan suapan, lalu menunggu perempuan tua itu siap. Tidak ada yang bersorak mengenai bantuan tujuh juta. Di ruangan kecil itu, makan siang Nini tetap harus dilakukan pelan-pelan seperti hari sebelumnya.
Emak menelepon sore hari. Bayaran kerja memasaknya sudah diterima, tiga ratus lima puluh ribu. Ia mengeluh kakinya pegal dan ujung jarinya berbau bumbu meskipun sudah dicuci berkali-kali. Ketika Tri bertanya apakah pekerjaannya akan berlanjut, Emak menjawab belum ada pesanan lain yang pasti.
'Uangnya Emak gabung dengan upah terakhir Bapak,' katanya kemudian. 'Jadi satu juta. Kalau memang harus ikut membayar, itu yang ada.'
Tri menggenggam sendok yang hendak disimpan. Ia tidak menyuruh Emak menyerahkan uang saat itu juga. Ia mengulangi bahwa tujuh juta dari kedua kakaknya baru kesanggupan yang harus disiapkan, dan satu juta orang tua perlu tetap disimpan sampai jelas cara pembayarannya.
'Jangan diberikan untuk janji pernikahan,' tambahnya.
'Kamu sudah bilang kemarin.'
'Saya ingin Emak juga mengatakan hal yang sama kalau Kardi bertanya.'
Asih tidak langsung menjawab. Dari kejauhan terdengar suara Bapak meminta sesuatu. Emak mengatakan akan membicarakannya, lalu menutup telepon setelah menanyakan keadaan Nini. Tri meletakkan sendok dan baru menyadari ia belum selesai merapikan alat makan sejak panggilan Emak masuk.
Saat makan malam, Nini lebih banyak diam. Ia menghabiskan beberapa suap lalu meminta berhenti. Tri tidak memaksa menyelesaikan porsi sekaligus. Ia menyimpan makanan yang tersisa sebagaimana mestinya, memberi waktu perempuan tua itu beristirahat, kemudian bertanya kepada Aki sejak kapan Nini tampak cepat lelah. Kakeknya menjawab sejak sore, ketika percakapan telepon beberapa kali membuat ruangan ramai.
Tri mengecilkan televisi dan merapikan tempat tidur. Nini masih menanggapi gurauan pendek tentang acara yang hendak ditonton, tetapi segera ingin berbaring. Setelah membantu bersama Aki, Tri meletakkan kebutuhan yang biasa dipakai dekat jangkauan. Jika keadaan berubah, ia tidak ingin harus mencari barang di antara tumpukan berkas. Uang keluarga yang mulai mempunyai rencana penyelesaian tidak membuatnya bisa mengabaikan orang yang sedang berada tepat di depan mata.
Malam itu ia menyusun salinan bukti sesuai tanggal. Tanda terima dua juta terbaru ditempatkan setelah bukti-bukti lama, bukan menimpa transfer kepada Ningsih yang masih dipersoalkan. Di halaman berikut tertulis bantuan yang disanggupi: Tama empat juta, Dwi tiga juta, orang tua satu juta. Delapan juta itu belum berada di tangannya. Tetapi untuk pertama kali, rencana menyelesaikan pokok tidak memuat namanya sebagai calon istri siapa pun.