Jumat siang Tri menutup buku jualan setelah mengembalikan modal untuk belanja berikutnya. Ia menghitung enam puluh ribu yang bisa ditambahkan ke tabungan pendidikan hari itu, lalu menyandingkannya dengan jumlah semalam: satu juta sembilan ratus empat puluh ribu. Kini genap dua juta.
Hampir tiga pekan sejak pengembalian uang oleh Tama, tambahan delapan ratus ribu terkumpul dari hari-hari yang hasilnya tidak sama. Ada yang lebih ramai, ada percobaan kafe yang rugi kecil, ada pekerjaan menyelamatkan bahan setelah Ana berhenti memesan. Ia tidak pernah memasukkan seluruh omzet ke amplop itu. Modal harus tetap tersedia agar besok kompor masih dapat dinyalakan.
Tri menatap angka dua juta cukup lama sampai Mang Ucup bertanya apakah ia sedang menghitung undian. Ia menutup buku dan mengatakan sedang menghitung sesuatu yang jauh kurang menyenangkan. Lelaki itu mengangkat bahu, lalu menyuruhnya minggir sedikit karena seseorang hendak melewati meja.
Ia membantu menarik bangku yang menghalangi jalan. Urusan kecil itu memutus lamunan sebelum ia kembali memandang selebaran di tas. Dengan uang tersebut, rencana kuliah mulai mempunyai bentuk. Belum cukup untuk semua keperluan, tetapi bukan lagi angan yang hanya diucapkan ketika melihat mahasiswa masuk gerbang.
Di rumah ia menunggu Nini selesai beristirahat sebelum berbicara dengan Aki. Ia hendak memberi dua juta kepada Bapak untuk mengurangi pokok utang, dengan bukti penerimaan yang jelas. Bukan uang untuk menjawab lamaran Kardi, bukan pula pengakuan bahwa setiap biaya yang diminta sudah benar.
Aki tidak langsung menyahut. Ia memandang amplop, kemudian menanyakan apa yang akan terjadi pada rencana kuliah. Tri menjawab mungkin harus menunggu lebih lama. Mengatakannya keras-keras membuat matanya panas, tetapi ia tidak mengubah jawaban menjadi lelucon.
'Kalau kamu mau menunda, akui kamu sedih,' kata Aki. 'Jangan nanti menganggap diri sendiri tidak pernah menginginkannya.'
Tri mengangguk sambil mengusap ujung mata. Ia tidak meminta kakeknya mengatakan pengorbanan itu pasti akan dibalas. Ia hanya ingin seseorang di ruangan itu memahami apa yang hendak ia lepaskan, sehingga dua juta tidak terdengar seperti uang sisa yang kebetulan tidak dipakai.
Nini memanggil dari dekat televisi. Tri duduk di sisinya dan menjelaskan seperlunya. Perempuan tua itu menyentuh lengannya, tidak mengucapkan nasihat panjang. Ketika menanyakan apakah Tri masih bisa berjualan, gadis itu menjawab bahwa modal sudah dipisahkan. Simpanan perawatan juga tidak diambil untuk pembayaran tersebut.
Sesudah itu ia menelepon Bapak. Ujang lebih dulu menanyakan apakah Kardi boleh diberi kabar akan ada uang. Tri meminta ia mendengarkan sampai selesai. Dua juta akan dikirim ke rekening Bapak; setelah diteruskan kepada Kardi, ia membutuhkan tanda penerimaan yang menyebut pembayaran utang.
'Bukan uang tanda jadi pernikahan, Pak. Saya tidak setuju dinikahkan dengannya.'
'Iya, Bapak dengar.'
'Tolong jangan hanya dengar sekarang. Kalau ada orang mengatakan lain nanti, Bapak yang harus membetulkan.'
Suara di seberang melemah. Ujang mengatakan ia akan meminta catatan pembayaran. Tri mengulang bahwa bukti lama dua juta kepada Ningsih tetap harus dicocokkan. Bantuan kali ini tidak menggantikan bukti lama atau membuat tambahan empat juta yang belum jelas menjadi otomatis disetujui.
Tri belum bisa langsung mengirim seluruhnya. Sebagian tabungan masih berupa uang tunai dari lapak. Ia meminta Aki menemani Nini sebentar, memasukkan lembaran yang sudah dihitung ke tas, lalu pergi menyetorkannya ke rekening sendiri. Pada percobaan pertama, mesin mengembalikan beberapa lembar yang terlipat. Ia merapikannya satu per satu, semakin kesal ketika lembar terakhir kembali ditolak. Orang yang mengantre di belakang bergeser ke mesin lain. Tri menarik napas, mengganti lembar itu dengan uang bernilai sama dari dompet, kemudian mengembalikan lembar kusut ke tempat uang pribadinya.
Setelah saldo diperiksa dan sesuai, ia pulang tanpa mengirim dari depan mesin. Ia ingin mencocokkan rekening Bapak dengan pesan yang baru diterima, bukan mengetik terburu-buru karena merasa menghalangi antrean. Di rumah Aki sedang membetulkan letak bantal Nini. Tri meletakkan tas, mencuci tangan, lalu duduk lagi di depan meja.
Ia memeriksa nama penerima sebelum mengirim. Jarinya sempat berhenti pada layar konfirmasi. Di meja, selebaran kuliah tertindih buku persediaan; dekat pintu, Nini meminta Aki menggeser kursi sedikit agar kakinya nyaman. Tri menarik napas, lalu menyelesaikan transfer.
Setelah bukti terkirim kepada Bapak, ia menyimpan salinannya bersama catatan dan menuliskan tanggal pengiriman pada halaman yang sama agar tidak tertukar dengan pembayaran lama. Ujang membalas uang sudah masuk, tetapi belum diserahkan kepada Kardi. Ia baru bisa menemui lelaki itu esok. Tri tidak mencatat utang sudah berkurang sebelum ada kabar penerimaan berikutnya.
Menjelang sore Adam datang mengantar buku yang dipinjam Aki dari Engkong. Ia melihat wajah Tri dan menanyakan apakah ada kabar buruk tentang Nini. Gadis itu menggeleng, lalu mengatakan tabungan pendidikannya baru dikirim untuk mengurangi utang keluarga.
Adam menatapnya, tampak ingin mengatakan sesuatu dengan cepat. Ia akhirnya bertanya apakah Tri sudah yakin memilih jumlah itu. Tri menjawab ia tidak yakin akan merasa ringan, tetapi sudah memutuskan sesudah memisahkan modal serta kebutuhan perawatan. Ia tidak meminta uang tersebut digantikan oleh Adam.
'Aku tahu,' jawabnya. 'Aku cuma kesal kamu harus mulai lagi.'
'Saya juga.'
Jawaban singkat itu membuat keduanya terdiam. Adam meletakkan buku di meja Aki, kemudian membantu membetulkan gantungan tas yang hampir jatuh dari paku. Ia tidak menawarkan janji bahwa semua persoalan akan selesai minggu depan. Tri justru merasa lebih leluasa mengakui ia ingin menangis daripada ketika orang berlomba mengatakan dirinya kuat.
Setelah Adam pulang untuk melanjutkan pekerjaannya, Tri membilas wajah dan kembali menyiapkan makan malam. Ia mengambil amplop pendidikan, mengeluarkan sisa catatan yang terselip, lalu menulis angka nol pada halaman baru. Selebaran kuliah tetap disimpan di dalamnya.
Ia tidak merobek rencananya. Tetapi malam itu, ketika menghitung bahan untuk besok, ia tahu perbedaannya: memulai dari nol sesudah memilih memberi bantuan tetap menyakitkan. Yang tidak boleh ikut kosong adalah haknya menentukan kepada siapa ia akan menikah dan kapan ia akan kembali mencoba belajar.