Kamis pagi terasa ganjil tanpa dua kantong besar yang biasanya menunggu Ana atau Dhifa. Tri membawa persiapan lebih sedikit, menuliskan jumlah pesanan yang benar-benar masuk, lalu menyalakan kompor. Ia tidak membuat dua puluh kotak dahulu dan berharap orang yang membatalkan akan berubah pikiran setelah melihatnya bekerja.
Salah seorang pelanggan yang dihubungi kemarin datang sebelum berangkat bekerja. Ia mengambil empat kotak durian, membayar, dan menanyakan apakah harga murah sedang berlaku. Tri menjelaskan harganya tetap seperti biasa. Yang ditawarkan lewat pesan adalah ketersediaan tambahan, bukan potongan tanpa hitungan.
'Oh, saya kira ada promosi. Tapi tidak apa-apa, yang penting kebagian,' kata pembeli itu.
Tri tersenyum lega. Ia sempat khawatir keterusterangannya akan membuat pembeli pergi. Setelah orang itu berangkat, ia memeriksa bahan lagi. Sebagian sudah dipakai, sebagian bisa dijadikan porsi tambahan dalam jumlah kecil. Ia tidak menyebut seluruh sembilan puluh ribu kembali hanya karena uang pertama sudah masuk.
Menjelang siang, penjualan bahan khusus menghasilkan penerimaan seratus dua ribu. Masih ada bagian yang tidak dipakai dan tidak layak disimpan lebih lama, serta kemasan kosong yang belum tersentuh makanan. Tri membuang bagian yang harus dibuang, lalu menghitung biaya gas dan kebutuhan lain sebelum menentukan hasil bersih. Hari itu pekerjaan tambahan hampir tidak menyisakan keuntungan; yang berhasil diselamatkan terutama uang bahan, bukan penghasilan dua puluh kotak penuh seperti rencana awal.
Mang Ucup melirik wadah kecil yang dibawa ke tempat sampah. 'Sayang juga, ya.'
'Lebih sayang kalau ada yang sakit karena saya merasa rugi.'
Ia mengatakannya sambil tetap kesal. Pekerjaan menyelamatkan bahan menghabiskan waktu yang seharusnya dipakai untuk hal lain. Ia harus menjawab pesan satu per satu, menghitung ulang persediaan, dan pulang tanpa hasil sebesar yang diharapkan. Membatalkan pesanan tidak hanya menghilangkan angka pada buku.
Ketika lapak hampir tutup, Adam datang mengambil air minum di dekat tempat Mang Ucup. Ia menunggu sampai Tri selesai melayani orang terakhir sebelum mengatakan sudah berbicara dengan Ana lewat telepon. Gadis itu masih marah. Adam tidak meminta pesanan dibuka kembali dan tidak membicarakan jawaban Tri sebagai sesuatu yang sudah dimilikinya.
'Aku bilang aku tidak bisa membalas perasaannya,' ujarnya. 'Soal pesanannya, aku minta dia membicarakan langsung denganmu kalau ada yang belum selesai.'
'Dia bilang akan menelepon lagi?'
'Tidak. Teleponnya ditutup lebih dulu.'
Tri mengangguk. Ia tidak tahu apakah Ana akan menyesal, tetapi untuk hari itu tidak ada orang datang menuntut agar ia menghibur pelanggan yang membatalkan pekerjaannya. Ia meminta Adam membantu sebentar menggeser satu wadah kosong, kemudian mengucapkan terima kasih dan meneruskan berkemas.
Lelaki itu mengangkat alis melihat barang yang dibawa lebih ringan. Tri menjelaskan bahan sudah digunakan sebisanya. Adam hendak menanyakan hasil uang, lalu berhenti. Tri sendiri membuka buku untuk menunjukkan angka, sebab ia tidak ingin cerita kehilangan pelanggan berkembang menjadi dugaan bahwa dirinya sama sekali tidak mendapatkan pemasukan hari itu.
Mereka berdiri di sisi meja, memperhatikan coretan yang tidak terlalu rapi. Adam salah membaca satu angka menjadi dua kali lipat, dan Tri langsung menarik buku sambil menuduh ia terlalu lama belajar sampai lupa membaca tulisan manusia biasa. Ia membela diri bahwa angka Tri memang lebih mirip gambar kait daripada angka tujuh.
'Kalau begitu, nanti saya belajar menulis sebelum kuliah,' katanya.
'Kuliah tata boga. Bukan lomba kaligrafi kuitansi.'
Tri tertawa. Ia menyimpan buku, lalu berpamitan karena harus menyiapkan makan di rumah. Adam berangkat ke kampus untuk urusan kelompok, bukan mengikuti motornya sampai kontrakan. Mereka masih bisa berbicara ringan meskipun perkara perasaan belum menemukan akhir.
Sore itu Tri mengeluarkan amplop tabungan pendidikan. Ia menyandingkan isinya dengan catatan sejak pengembalian uang oleh Tama. Satu juta dua ratus ribu yang tersisa setelah restitusi itu bertambah sedikit demi sedikit dari hasil bersih jualan, bukan seluruh uang yang diterima pembeli. Ketika modal, kebutuhan rumah, dan simpanan perawatan dipisahkan, tabungan pendidikannya kini mendekati dua juta.
Ia belum menyebut angka tersebut kepada Emak. Melihat uang terkumpul membuatnya senang sekaligus takut, sebab ia tahu betapa cepat rencana pribadi bisa ditarik menjadi kewajiban keluarga. Selebaran kuliah tata boga masih berada di sela buku. Tri meratakannya, membaca jadwal yang sudah ditanyakan, lalu melipatnya kembali tanpa memasukkan ke tempat sampah.
Nini memanggil karena ujung selimutnya tersangkut pada sisi kursi. Tri membantu melepaskan, kemudian menggeser wadah minum agar tidak mudah tersenggol. Perempuan tua itu menatap uang yang belum sempat disimpan seluruhnya.
'Buat sekolah?' tanyanya.
'Sebagiannya, Ni. Saya masih mengumpulkan.'
Nini mengangguk dan tidak menyuruhnya memberikan semuanya kepada siapa pun. Jawaban sederhana itu membuat tenggorokan Tri terasa penuh. Ia membereskan amplop sebelum kembali ke dapur, sementara Aki menemaninya menyiapkan sayur.
Sesudah makan, Emak menelepon untuk mengabarkan pekerjaan memasaknya memang jadi. Bayaran yang disepakati tiga ratus lima puluh ribu untuk beberapa hari bantuan, dibayarkan setelah tugas selesai. Ia mengeluh salah mengira ukuran panci sehingga harus memindahkan kuah sebelum mendidih. Tri hampir memberikan komentar, lalu mendengar Emak menggerutu bahwa orang yang mempunyai dapur sendiri rupanya tetap bisa bingung di dapur orang lain.
'Makanya dulu saya juga tanya letak barang waktu membantu akikah,' jawab Tri.
Asih diam sebentar. 'Iya. Besok Emak bawa celemek sendiri saja.'
Percakapan itu pendek dan belum menjadi permintaan maaf. Tetapi untuk sekali ini pekerjaan Tri tidak disebut sekadar memasak yang bisa dilakukan siapa saja tanpa lelah. Ia menanyakan kapan tugas Emak selesai, mencatat bahwa bayaran belum diterima, lalu berpesan agar makan dahulu sebelum berangkat.
Menjelang malam, pesan Bapak datang membawa pertanyaan baru dari Kardi. Bukan ancaman panjang, hanya tanggal yang diminta untuk pembayaran berikut. Tri membaca sambil duduk di dekat kompor yang sudah dimatikan. Ia belum menjawab berapa uang yang sanggup diberikan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia sengaja membiarkan telepon terletak sebentar dan mengambil selebaran kuliah lagi. Pilihan yang akan dibuat besok harus diakui sebagai pengorbanan rencananya sendiri, bukan sesuatu yang tidak pernah ingin ia miliki.