Panggilan dari Dhifa masuk tepat ketika Tri selesai mengupas buah untuk persiapan pesanan mingguan. Dua puluh kotak biasanya diambil pada Kamis pagi. Hari itu ia sengaja memisahkan bahan agar tidak habis untuk pembeli yang datang langsung.
'Mbak, yang minggu ini kami tidak jadi mengambil,' kata Dhifa setelah salam singkat.
Tri memandang catatan di sisi meja. 'Dua puluh kotak itu? Besok pagi?'
'Iya. Alana bilang dihentikan dulu. Saya kira dia sudah mengabari.'
Tri menutup wadah buah sebelum menjawab. Ia belum menerima pesan apa pun dari Ana. Bahan memang belum dimasak, tetapi sebagian sudah dibeli khusus untuk pesanan sepuluh vanila dan sepuluh durian tersebut. Uang dua ratus dua puluh ribu yang diharapkan masuk besok bukan lagi sesuatu yang bisa ia hitung pasti.
Ia memeriksa riwayat pembayaran sebelum menutup telepon. Untuk minggu ini belum ada uang muka yang masuk; ia sudah terlanjur mengandalkan pola pengambilan beberapa minggu terakhir. Dhifa membenarkannya. Tidak ada uang pelanggan yang harus dikembalikan, tetapi juga tidak ada pegangan untuk menutup bahan yang telanjur dibeli. Tri menyadari dirinya melonggarkan cara pemesanan karena sudah terbiasa menerima dua orang yang sama setiap Kamis. Ia meminta Dhifa menyampaikan bahwa pembatalan sudah diterima, lalu menghubungi Ana sendiri. Panggilan pertama tidak dijawab. Pada panggilan kedua gadis itu mengangkat dengan nada terburu-buru, mengatakan sedang berada di luar dan tidak dapat bicara lama.
'Saya hanya mau memastikan pesanan besok dibatalkan dan mingguan berikutnya juga berhenti,' ujar Tri.
'Iya. Memangnya tidak boleh?'
'Boleh berhenti memesan. Tapi kalau sudah mendekati waktu pengambilan, tolong kabari saya langsung. Bahannya sudah disiapkan.'
Ana terdiam sebentar. Kemudian ia mengatakan Tri sekarang pasti lebih sibuk mengurus Lucky dan Adam daripada pesanan kecil mereka. Nama kedua lelaki itu membuat tangan Tri menegang pada telepon. Ia tidak tahu kabar mana yang didengar Ana dan dari siapa, tetapi penjualan pancake tidak berubah menjadi bahan menebak hubungan pribadi hanya karena pemesannya merasa kesal.
'Kalau soal pesanan, saya tetap mengerjakannya. Kalau ada keluhan makanan, bilang. Jangan menyuruh saya menebak dari nama orang lain.'
'Saya tidak menyuruh menebak.'
'Kalau begitu, cukup kita selesaikan pesanannya.'
Suara Ana meninggi. Ia menyebut Adam selalu membela Tri dan tidak pernah menyediakan waktu yang sama untuk dirinya. Tri hampir membalas tentang pertunangan Ana dengan Reyhan, lalu menahannya. Ia tidak perlu mempermalukan orang untuk mempertahankan hak diberi kabar ketika pesanan dibatalkan.
Ia mengatakan tidak akan memaksa Ana membeli setiap minggu. Namun sesudah ini, pesanan baru perlu dipastikan lebih dulu sebelum bahan disediakan. Mereka mengakhiri telepon tanpa ucapan manis. Tri duduk beberapa saat, masih memegang tutup wadah yang tadi hendak dipasang.
Mang Ucup menanyakan apakah ia sedang membutuhkan bantuan menghabiskan pancake. Tri menjelaskan bahwa yang tersisa masih bahan, belum dua puluh kotak makanan matang. Ia menunjukkan wadah yang baru ditutup, sementara kemasan kosong masih tersusun rapi di dalam kantong, belum terkena makanan. Lelaki itu menyarankan agar ia memasak semuanya lalu menjual murah. Tri menggeleng setelah memeriksa jam dan jumlah pembeli yang mulai berkurang.
'Kalau saya masak semua sekarang, bisa-bisa nanti cuma kita berdua yang harus menghabiskan.'
'Saya sanggup dua porsi. Sisanya jangan dibebankan ke saya.'
Tri akhirnya tertawa. Ia membagi bahan yang masih bisa dipakai untuk jualan biasa dan yang perlu segera diolah. Sembilan puluh ribu sudah keluar untuk sebagian persiapan khusus; bukan seluruhnya menjadi kerugian selama makanan itu masih dapat dijual dengan baik. Ia mencatat angka tersebut, kemudian mengirim tawaran terbatas kepada beberapa pelanggan yang biasa memesan durian.
Ia tidak menuliskan bahwa semua harus dibeli karena dirinya sedang disakiti orang. Pesannya hanya menyebut jumlah porsi yang bisa dibuat sore itu dan waktu pengambilan. Dua orang membalas, tetapi jumlahnya belum menutup seluruh persediaan. Tri menerima pesanan yang sungguh dikonfirmasi dan berhenti menambah adonan. Ia masih harus menyiapkan makan di rumah; memperpanjang jualan sampai malam bukan pilihan yang bisa diambil tanpa mengabari Aki.
Adam datang menjelang ia berkemas. Ia sudah mendengar dari Dhifa bahwa ada pertengkaran, tetapi belum mengetahui isinya. Ketika ia menanyakan, Tri menjelaskan pembatalan serta pembicaraan tentang dirinya. Wajah Adam langsung berubah.
'Aku telepon Ana,' katanya.
'Untuk membicarakan apa?'
'Dia tidak bisa seenaknya memperlakukan usahamu karena kesal kepadaku.'
'Kalau kamu mau menjelaskan perasaanmu, itu urusanmu. Tapi jangan menjanjikan dia akan membeli lagi. Saya tidak mau besok menerima pesanan karena orang dipaksa.'
Adam menatap telepon yang sudah dikeluarkan. Ia mengembalikannya ke saku dengan gerakan kasar, lalu mengaku marah karena dirinya ikut menjadi alasan Tri kehilangan pembeli. Tri tidak mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia juga sedang marah, dan bahan di meja tidak akan kembali menjadi uang hanya karena mereka sepakat Ana keliru.
Seorang pelanggan datang mengambil porsi durian yang tadi dipesan. Tri menyelesaikan pembayaran sebelum kembali berbicara. Adam membantu menahan kantong agar tidak miring, kemudian menanyakan bagian yang masih bisa dikerjakan sore itu. Tri memintanya mengambil foto papan rasa untuk dikirim kepada pembeli lain, bukan menelepon Ana sambil mengancam atas nama lapak.
Setelah foto dikirim, mereka mengangkat barang ke tempat penyimpanan. Adam harus kembali belajar dan tidak ikut mengantar Tri pulang. Ia mengatakan akan berbicara dengan Ana ketika sudah lebih tenang, tanpa membawa janji tentang keputusan Tri. Gadis itu mengangguk, masih kesal tetapi tidak lagi harus menahan percakapan dengan satu tangan sambil memegang wadah pada tangan lain.
Di rumah, ia menghitung persediaan yang dibawa dan pesanan yang telah masuk untuk besok. Belum semua sembilan puluh ribu kembali. Ada sebagian bahan yang harus segera digunakan, sebagian kemasan yang tetap dapat disimpan. Ia mengganti tulisan dua puluh kotak rutin dengan daftar yang lebih kecil dan benar-benar dikonfirmasi. Ruang kosong di halaman itu membuatnya kecewa, tetapi juga mencegah dirinya terus membelanjakan uang untuk pelanggan yang sudah berhenti.