Pesan dari Bapak masuk dua hari kemudian ketika Tri sedang menata delapan kotak untuk dibawa ke kafe. Tiga vanila, lima durian. Ia menghitungnya sekali lagi sebelum mengeringkan tangan dan membuka pesan. Isinya pendek: ia diminta menelepon kalau sudah senggang.
Tri mengirim kabar akan menelepon setelah pengantaran. Tidak ada kata tentang uang dalam pesan itu, tetapi tubuhnya sudah lebih dulu menegang. Ia menyimpan telepon, memeriksa penanda waktu, lalu membawa barang menyeberang. Kalau ia menunda sampai selesai berbicara dengan Bapak, makanan yang sudah dibuat justru akan menunggu urusan yang tidak jelas ujungnya.
Lucky menerima delapan kotak sesuai jumlah yang disepakati. Kali ini Tri tidak berlama-lama melihat etalase. Ia menjelaskan harus menelepon keluarga, lalu kembali ke sisi pujasera yang lebih sepi. Dari sana ia menghubungi Bapak sebelum mengambil motor untuk pulang.
Ujang menjawab dengan suara serak. Kardi tidak lagi menyuruhnya mengerjakan lahan yang biasa digarap. Upah terakhir sudah diberikan, enam ratus lima puluh ribu. Ia diminta tidak datang kembali setelah pekerjaan yang tersisa diselesaikan pagi itu.
'Kenapa mendadak?' tanya Tri, meskipun ia sudah mempunyai dugaan.
'Dia bilang kalau keluarga kita tidak mau mendengar, jangan terus berharap pekerjaan darinya.'
Tri memejamkan mata. Orang yang ingin menjadikannya istri ternyata masih bisa menekan orang lain ketika ia sendiri tidak datang. Ia bertanya apakah ada upah yang ditahan. Bapak mengatakan tidak; uang terakhir sudah dihitung di depannya. Yang hilang justru pekerjaan untuk hari-hari berikutnya.
'Bapak mau saya bagaimana?'
Pertanyaan itu keluar lebih keras daripada yang direncanakan. Beberapa saat tidak terdengar jawaban. Tri menurunkan suara setelah menyadari Mang Ucup berdiri cukup dekat, pura-pura sibuk dengan kain lap agar ia tidak merasa ditonton.
Ujang akhirnya berkata ia belum tahu. Ia hanya ingin memberi kabar dan meminta Tri tidak menganggap jumlah tagihan akan berhenti ditanyakan. Kardi masih menyebut perhitungannya sendiri, termasuk biaya tambahan yang belum dijelaskan. Uang dua juta yang dikirim kepada Ningsih pada masa lalu juga belum dianggap mengurangi utang sampai catatan mereka diperiksa.
'Berarti jangan menyanggupi angka lain dulu, Pak. Kita sudah punya bukti transfernya. Saya tidak mau nanti membayar hal yang sama lagi karena semuanya cuma diucapkan.'
'Bapak masih harus mencari kerja.'
'Saya tahu. Tapi menikahkan saya tidak membuat pekerjaan itu jadi benar.'
Suara Tri bergetar pada kalimat terakhir. Ia menunggu bantahan, perintah pulang, atau tuduhan tidak mengenang orang tua. Kali ini Bapak hanya menghela napas. Ia mengatakan uang upah terakhir akan disimpan, sementara kebutuhan harian sementara harus dibicarakan dengan Emak.
Setelah telepon selesai, Tri tetap berdiri di tempat yang sama. Mang Ucup menanyakan apakah ia membutuhkan kursi. Ia menggeleng, lalu mengambil tas dari sisi lapak. Tidak ada gunanya membiarkan dirinya lupa membereskan barang sambil menatap layar yang sudah gelap.
Di rumah ia menceritakan kabar itu kepada Aki setelah Nini selesai makan. Kakeknya terdiam cukup lama. Kebun miliknya sendiri bukan lahan Kardi, tetapi ia memahami mengapa kehilangan pekerjaan membuat Ujang mudah kembali pada orang yang baru saja menekannya.
'Uang terakhir itu jangan langsung habis untuk janji baru,' kata Aki.
Tri mengangguk. Ia tidak meminta kakeknya menjual kebun. Kebun itu menghasilkan keperluan hidup mereka dan tidak berubah menjadi uang tunai besar hanya karena keluarga sedang dikejar. Ia membantu Aki menyimpan wadah, lalu menghubungi Dwi untuk menyampaikan kabar secara lengkap, tanpa menambah angka yang belum ada.
Dwi meminta foto catatan terakhir tetap disimpan. Ia akan berbicara dengan Tama mengenai bantuan yang bisa benar-benar mereka sanggupi, bukan menyuruh Tri menutup semua persoalan dari hasil lapak. Untuk saat itu belum ada uang yang masuk. Tri mengakhiri percakapan setelah Dwi harus kembali bekerja.
Sebelum berangkat kembali, Tri mendapati bagian bawah kantong pengangkutnya mulai lepas pada satu sisi. Ia mengeluarkan wadah, membersihkan permukaan yang akan direkatkan, lalu menggantinya sementara dengan tas yang lebih kokoh. Aki membantu menahan ujung yang terlipat, tetapi salah satu bagiannya justru menempel pada jari. Mereka tertawa sambil melepaskannya pelan. Kerusakan kecil itu tidak ada hubungannya dengan Kardi, namun tetap harus diurus sebelum makanan berikutnya dibawa. Tri menaruh kantong yang diperbaiki di tempat kering dan memastikan tas pengganti sanggup menahan wadah tanpa miring.
Sorenya ia mengambil hasil penjualan kedua di kafe. Tiga vanila dan empat durian laku; satu durian tersisa. Penerimaannya tujuh puluh delapan ribu. Bahan dan kotak untuk percobaan kecil itu menghabiskan enam puluh empat ribu, sehingga ada selisih empat belas ribu sebelum ongkos. Angkanya tidak besar, tetapi kali ini ia tidak harus mengambil uang lain untuk menutup bahan.
Lucky menanyakan apakah ia ingin melanjutkan delapan kotak pada jadwal berikutnya. Tri menyanggupi satu kali lagi dengan jumlah yang sama. Ia tidak menaikkannya untuk menutupi kehilangan pekerjaan Bapak. Satu lapak tidak mendadak mampu menanggung semuanya hanya karena ia merasa dikejar.
Ketika sampai di rumah, telepon dari Emak menyusul. Asih lebih dulu mengeluhkan Kardi yang tega menghentikan pekerjaan, kemudian mengatakan seorang tetangga membutuhkan bantuan memasak untuk beberapa hari. Ia akan datang besok untuk membicarakan tugas serta bayarannya.
'Emak mau mengambilnya?' tanya Tri.
'Kalau tidak, memang uang jatuh dari mana?'
Nada itu masih mudah melukai. Namun Tri tidak membalas. Ia bertanya apakah ongkos berangkat sudah dihitung agar pekerjaan tersebut tidak justru menghabiskan uang. Emak menjawab tempatnya dekat dan bisa didatangi berjalan kaki. Baru setelah itu ia bertanya tentang keadaan Nini.
Tri menyerahkan telepon sebentar kepada Aki untuk mendekatkannya kepada istrinya. Nini menjawab pendek-pendek, kadang menyuruh Asih mengulang karena suara televisi terlalu keras. Tri mengambil pengendali dan mengecilkan bunyi, lalu duduk menunggu. Di tasnya ada uang penjualan yang harus dipisahkan dari modal. Di kampung ada dua orang yang mulai kehabisan pilihan lama. Ia belum tahu apakah kehilangan itu akan membuat mereka berubah, tetapi hari ini ia tidak lagi bersedia menjadi satu-satunya pilihan yang dikorbankan.