Adam datang ke lapak dengan buku terbuka di tangan tiga hari setelah pembicaraan Tri dengan Lucky tentang uji jual. Ia berdiri dekat sisi yang tidak menghalangi pembeli, memandangi satu halaman sampai Tri mengira lelaki itu sedang membaca daftar harga yang salah.
'Kalau mau membeli, menunya di sini,' katanya sambil menunjuk tulisan rasa.
'Aku cuma mau vanila satu. Ini materi ujian.'
'Pantas mukanya seperti orang menunggu hasil pemeriksaan.'
Adam menutup buku, tetapi jarinya masih menyelip di antara halaman. Ia mengatakan ada bagian perhitungan yang terus membuatnya salah. Tri tidak mengerti istilah yang disebutnya. Ia hanya menyarankan agar buku disimpan cukup jauh dari wadah adonan, sebab angka yang terkena percikan juga tidak akan semakin mudah dibaca.
Ponsel Adam berbunyi. Rama menanyakan tempat berkumpul untuk belajar. Ia membalas bahwa akan segera datang, kemudian mengambil porsi yang baru selesai. Ketika membayar, uang kecilnya jatuh di dekat kaki meja. Ia jongkok mengambilnya, menyenggol tas sendiri, dan buku yang tadi diselamatkan dari adonan justru meluncur ke lantai.
Tri menahan ujungnya sebelum terbuka seluruhnya. 'Pelan-pelan, Mahasiswa.'
'Hari ini semua benda melawanku.'
'Mungkin bendanya juga mau ujian.'
Ia tertawa sebentar, lalu berangkat. Tidak ada waktu untuk percakapan panjang. Tri melihat ia masih memandang buku ketika berjalan dan memanggil supaya memperhatikan kendaraan. Adam mengangkat tangan sebagai jawaban, akhirnya memasukkan materi ke dalam tas sampai tiba di gerbang.
Hari itu Tri menjadwalkan percobaan kafe berikut untuk dua hari kemudian. Ia mengirim jumlah delapan kotak sesuai pembicaraan terakhir: tiga vanila, lima durian. Lucky membalas setuju. Tidak ada tambahan jumlah mendadak untuk mengganti enam kotak yang pulang kemarin. Ia menuliskan bahan yang harus disediakan, kemudian melayani pembeli sampai adonan yang dibatasi untuk hari itu habis.
Di rumah, Aki bercerita bahwa Adam terlihat belajar di teras Engkong sebelum berangkat kuliah pagi tadi. Engkong sempat meminta cucunya memeriksa pesanan buah, lalu akhirnya membiarkannya setelah salah satu angka dibaca dua kali dengan jumlah berbeda. Tri membayangkan wajah lelaki tua itu dan tertawa.
'Banyak yang dipikirkan,' ujar Aki.
Tri mengangguk, sedikit malu mengingat beberapa hari terakhir ia terlalu sibuk memikirkan pengakuan Adam. Kehidupan pemuda itu bukan hanya menunggu jawabannya. Ada pelajaran yang harus dikuasai, pekerjaan yang perlu dibagi, dan rencana lama yang tidak hilang hanya karena ia jatuh cinta.
Menjelang sore, ia mengantar satu wadah kecil makanan ke rumah Engkong setelah memastikan Aki bisa menemani Nini. Adam masih bersama Rama dan Baim di teras. Kertas memenuhi meja, sementara Engkong duduk agak jauh dengan koran yang tidak sungguh-sungguh dibaca. Setiap suara tawa terdengar, lelaki itu menurunkan koran untuk bertanya apakah belajar sudah selesai.
'Belum, Kong. Tadi jawaban Baim saja yang aneh,' sahut Rama.
'Kalau aneh, jangan ditiru.'
Tri meletakkan makanan di bagian meja yang kosong. Ia tidak meminta Adam meninggalkan teman-temannya. Baim langsung mengulurkan tangan, lalu ditahan Rama karena ujung jarinya masih bertinta. Mereka berdebat tentang siapa yang paling banyak menulis sementara Adam merapikan lembar yang hampir terkena wadah.
'Saya tinggal saja. Kalau tidak cocok, jangan dijadikan jawaban ujian,' kata Tri.
Ia hendak berpamitan ketika Engkong memintanya membantu memisahkan satu kantong buah di sisi teras. Seorang pembeli sudah menunggu dengan uang pas, tetapi nama pada dua kantong berdekatan. Tri membacakan tulisan itu keras-keras agar Engkong tidak salah menyerahkan. Ketika pembeli menyebut nama lain, keduanya saling pandang, lalu baru sadar pesanan yang dicari masih berada dekat timbangan. Engkong mengambilnya sambil mengomel kepada tulisan tangannya sendiri.
'Ternyata yang melawan bukan buku ujian saja,' bisik Tri ketika lewat di belakang Adam, sambil membawa kantong kosong kembali ke tempatnya.
Pemuda itu menunduk, berusaha menahan tawa supaya tidak ikut dimarahi. Sesudah pembeli pergi dan pekerjaan kecil itu selesai, anak-anak muda beristirahat. Adam menyusul ke dekat pagar dengan wajah lebih letih daripada saat datang ke lapak.
Tri menanyakan apakah belajarnya sudah selesai. Ia menjawab baru berhenti sebentar, bukan menuntaskan semua materi. Ada nilai yang perlu dipertahankan agar kesempatan kuliahnya tidak terganggu. Selama ini bebas membayar SPP membantu ia menabung, tetapi manfaat itu bukan alasan untuk bersantai dan menganggap semester berikut pasti akan mudah.
'Kamu masih ingin lanjut S2?' tanya Tri.
'Masih. Tapi yang sekarang juga harus selesai benar. Aku tidak bisa melompati ujian hanya karena sudah punya rencana panjang.'
Ia mengatakannya sambil memperhatikan noda tinta pada telapak tangan. Tri teringat buku cerita yang sempat dibaca di kampus. Adam mempunyai lebih banyak keinginan daripada yang terlihat ketika ia membantunya mengangkat wadah. Sebagian saling berebut waktu, dan ia belum tentu selalu pandai menentukan mana yang harus didahulukan.
'Kalau begitu, jangan datang membantu lapak besok pagi. Saya sudah tanya Mang Ucup.'
'Aku belum menawarkan.'
'Saya tahu. Ini supaya kamu tidak berpikir harus menawarkan.'
Adam memandangnya, lalu tersenyum kecil. 'Teteh juga jangan merasa harus berhenti cerita kalau sedang kesulitan.'
'Bercerita boleh. Menyerahkan semua pekerjaan beda lagi.'
Ia mengangguk dan tidak memperpanjang pembicaraan. Dari teras, Rama memanggil karena soal berikutnya sudah dibuka. Adam kembali ke meja setelah mengucapkan terima kasih untuk makanan. Tri berpamitan kepada Engkong, lalu pulang sebelum percakapan berubah menjadi alasan lain menunda belajar.
Malam itu ia menerima foto kertas penuh coretan. Adam menambahkan keluhan bahwa jawaban terakhir ternyata salah hanya karena satu angka tertukar. Tri membalas dengan foto daftar belanja yang sengaja dibuat lebih besar tulisannya. Ia menyarankan cara itu dicoba sebelum menuduh semua benda sedang melawan.
Balasan Adam berupa tawa dan ucapan akan mematikan telepon untuk belajar lagi. Tri tidak mengirim pertanyaan berikutnya. Ia menaruh ponsel di dekat tas, lalu memeriksa kebutuhan pagi. Belum ada kepastian tentang hubungan mereka, tetapi malam itu ia bisa melakukan sesuatu yang sederhana: membiarkan lelaki yang disukainya belajar tanpa menuntut ia selalu siap menoleh.