Pagi percobaan, Tri memberi dua warna kecil pada penanda rasa. Tulisan vanila dan durian tetap dibuat besar; warna hanya membantu membedakan ketika ia harus bergerak cepat. Ia tidak ingin satu pelanggan yang tidak menyukai durian membuka kotak yang salah lalu mengira seluruh isi kafe berbau sama.
Sepuluh kotak masing-masing rasa selesai sebelum jam pengantaran. Ia menghitungnya bersama porsi jualan lapak yang disiapkan terpisah. Mang Ucup datang meminjam lap, lalu menunjuk kotak yang hampir ikut terselip pada kantong lain. Tri menariknya kembali dan menghitung ulang dari awal, kali ini tanpa menjawab gurauan lelaki itu sampai selesai.
'Dua puluh. Kalau kurang, nanti bukan saya yang dituduh,' katanya.
'Saya cuma mencari lap, Mbak. Bukan mencari sarapan gratis.'
Tri tertawa setelah kedua kantong ditutup. Bahan serta kemasan menghabiskan seratus enam puluh ribu sesuai perkiraan. Angka itu ditulis pada halaman khusus percobaan, terpisah dari uang belanja rumah dan persediaan untuk pelanggan biasa.
Setelah porsi harian selesai dilayani dan barang besar tersimpan, ia membawa dua puluh kotak ke seberang. Lucky sedang menerima telepon ketika Tri datang. Ia menunjuk meja yang telah disiapkan, lalu mengakhiri pembicaraan sebelum memeriksa jumlah bersama. Tri tidak meninggalkan barang hanya karena pria itu melambaikan tangan dari jauh.
Mereka menuliskan sepuluh vanila dan sepuluh durian pada catatan penerimaan. Satu penanda miring setelah kotak dipindahkan. Tri membetulkannya, lalu menyadari tulisan waktunya menghadap ke belakang. Ia meminta dua menit untuk menyamakan arah seluruh label.
'Sekarang saya yang kelihatan cerewet,' katanya.
'Kalau terbalik, nanti saya yang ditanya pembeli.'
Lucky menaruh dua pilihan itu pada sisi etalase yang sudah dicoba. Pancake terlihat lebih kecil di antara beberapa nampan brownies. Tri mundur selangkah, menahan dorongan memindahkannya lagi. Tempat yang tidak menutupi barang lain memang belum tentu menjadi tempat yang langsung diperhatikan semua orang.
Saat hendak keluar, seorang pembeli menunjuk kotak vanila dan bertanya apakah itu produk baru. Lucky menjelaskan bahwa makanan tersebut berasal dari Pancake Tiga di pujasera seberang. Tri menahan senyum ketika namanya disebut, lalu benar-benar keluar sebelum keinginannya menunggu pembeli kedua membuat ia terlambat pulang.
Sepanjang siang ia beberapa kali memandang telepon. Tidak ada pesan tentang penjualan. Ia membantu Aki mencuci wadah, menyiapkan makan, lalu menanyakan apakah Nini ingin menonton acara yang sama atau berpindah. Kesibukan itu membuat tangannya bekerja, tetapi pikirannya masih berdiri di depan etalase.
'Kalau ditatap terus, teleponnya jadi cepat panas, bukan cepat bunyi,' komentar Aki.
Tri meletakkannya dengan muka malu. Ia baru mengirim satu pertanyaan menjelang waktu pengambilan yang disepakati. Balasan Lucky singkat: ada yang sudah terjual, jumlah akhir akan dihitung ketika ia datang. Tidak ada janji bahwa seluruh barang pasti habis.
Pada sore hari, enam kotak masih berada di etalase. Tri langsung mengenali penanda rasa yang dibuatnya pagi tadi. Empat vanila dan dua durian tersisa, berarti enam vanila serta delapan durian terjual. Lucky mengeluarkan catatan, memperlihatkan jumlah sebelum menyerahkan uang.
Enam kali sepuluh ribu ditambah delapan kali dua belas ribu menghasilkan seratus lima puluh enam ribu. Tri menghitungnya dua kali, lalu membandingkan dengan pengeluaran. Bahkan sebelum memperhitungkan perjalanan, percobaan hari itu kurang empat ribu dari uang bahan dan kotak.
'Saya kira vanila akan lebih cepat habis,' katanya.
'Yang datang hari ini lebih banyak memilih durian. Tapi satu hari belum cukup untuk menebak semuanya.'
Lucky tidak menambahkan uang agar catatannya terlihat bagus. Tri juga tidak meminta enam kotak itu dianggap terjual demi menutup rasa malu. Ia menyimpan uang yang memang menjadi haknya, kemudian mengangkat sisa sesuai kesepakatan.
Ada pembeli masuk sebelum ia sempat berpamitan. Orang itu memilih brownies, melewati kotak pancake yang masih dibawanya. Untuk sesaat Tri ingin menawarkan dengan harga lebih rendah. Ia mengurungkan niat. Mengubah harga diam-diam di depan etalase Lucky hanya akan membingungkan pembeli dan merusak percobaan yang baru dimulai.
Setelah pembeli selesai, mereka membicarakan percobaan berikut. Tri memilih delapan kotak dulu, tiga vanila dan lima durian. Jumlah lebih kecil membuat pengeluaran yang mungkin tidak kembali juga lebih kecil. Mereka akan mencoba pada hari yang berbeda, lalu melihat apakah pilihan rasa itu memang berulang.
Lucky menawarkan memindahkan penanda harga agar lebih mudah terbaca. Tri menyetujuinya, tetapi menolak membuat dua puluh kotak lagi hanya karena lokasi sudah sedikit diperbaiki. Ia membutuhkan bukti penjualan lebih banyak sebelum menambah produksi.
'Saya masih mau mencoba,' katanya. 'Cuma tidak dengan jumlah yang sama dulu.'
'Baik. Kirim kabar kalau sudah menentukan harinya.'
Tri pulang membawa enam kotak yang terasa lebih berat daripada dua puluh saat berangkat. Ia memberi tahu Aki bahwa sisanya bukan barang untuk dijual lagi besok. Porsi yang masih layak dimakan segera dibagikan untuk sore itu, dengan memperhatikan pilihan makan Nini; sisanya tidak dijadikan alasan menyimpan produk sampai hari berikutnya. Kemasan yang sudah terpakai juga masuk hitungan rugi, bukan berubah menjadi persediaan baru.
Ia mencuci wadah pengangkut sebelum makan malam, lalu memisahkan kotak baru yang belum dipakai. Ada lima buah tersisa dari pembelian kemarin. Untuk percobaan delapan kotak, ia hanya perlu menambah tiga, bukan membeli satu tumpuk lagi. Kali ini ia menulis kebutuhan itu segera, sebelum rasa kecewa membuatnya lupa apa yang sebenarnya masih dimiliki.
Malamnya, Adam mengirim pertanyaan tentang percobaan kafe. Tri menjawab jujur: empat belas laku, enam pulang. Ia menambahkan angka penerimaannya sebelum lelaki itu mengira seluruh penjualan berarti untung. Adam membalas bahwa ia pernah membuat perkiraan peserta kegiatan terlalu tinggi dan harus membagi konsumsi yang tersisa. Ceritanya tidak menghapus rugi Tri, tetapi membuat ia berhenti memperlakukan enam kotak itu seperti bukti bahwa dirinya tak becus berdagang.
Ia menyalin pesanan delapan kotak pada halaman baru, belum menuliskan tanggal. Di sebelahnya ada catatan mengamati hari ramai dan pilihan pembeli. Untuk malam itu, kehilangan empat ribu sudah cukup menjadi pelajaran yang nyata. Ia tidak perlu membayar pelajaran berikutnya dengan mengulangi jumlah yang sama.