Porsi vanila milik Adam sudah dibungkus ketika ia datang pagi berikutnya. Tri menyerahkannya sebelum lelaki itu sempat melirik cetakan. Ada tulisan namanya pada kertas kecil di atas wadah, lengkap dengan garis bawah yang terlalu panjang.
'Supaya tidak tertukar dengan pembeli lain,' kata Tri.
'Pembeli lain ada yang bernama Adam juga?'
'Belum. Siapa tahu nanti datang rombongan.'
Adam tertawa, lalu mengambil pesanannya dan berangkat. Ia tidak menunggu membantu membereskan barang. Tri sempat memperhatikan punggungnya, kemudian beralih kepada orang yang meminta dua porsi durian. Ada rasa kehilangan pada kebiasaan kecil yang berubah, tetapi ia tidak bisa sekaligus meminta waktu berpikir dan berharap Adam selalu berdiri di tempat yang sama.
Mang Ucup membantu mengangkat wadah berat setelah Tri bertanya lebih dulu. Sebagai gantinya, ia menjaga sebentar tempat mi ayam ketika lelaki itu mengambil barang yang tertinggal di belakang. Mereka saling berteriak menanyakan letak sendok. Seorang pembeli tertawa melihat penjual pancake memegang daftar pesanan mi dengan wajah lebih tegang daripada saat mengurus cetakan sendiri.
'Jangan tertukar pedasnya, Mbak. Saya yang tidak pakai sambal.'
'Saya cuma mencatat. Kalau rasanya berubah, protes kepada pemilik.'
Mang Ucup kembali sebelum Tri benar-benar harus meracik apa pun. Tri menyerahkan catatan dengan lega, lalu membereskan lapaknya lebih awal. Hari itu ia membawa dua contoh kemasan kosong ke kafe Lucky, bukan makanan yang sudah seharian diletakkan di meja jual.
Lucky menunggunya dekat etalase. Ia menyapa hangat meskipun beberapa saat pertama masih terasa canggung. Tri meletakkan dua kotak di meja dan bertanya di bagian mana produk hendak ditawarkan. Jika hanya diselipkan di belakang brownies, orang tidak akan melihat tulisan rasanya.
Pria itu mencoba menaruh kotak pada satu sisi etalase, kemudian menyadari lebarnya menghalangi nampan lain. Mereka menggeser beberapa penanda harga. Sebuah kartu jatuh dan Tri meraihnya lebih dulu, hampir membenturkan kepala pada tangan Lucky yang melakukan hal sama.
'Kalau begini, belum jualan sudah ada korban,' keluhnya.
Lucky tertawa. Kecanggungan berkurang cukup untuk membuat mereka membicarakan pekerjaan tanpa berhenti pada setiap tatapan. Ia meminta uji dua puluh kotak untuk lusa, sepuluh vanila dan sepuluh durian. Tri menghitung waktu produksi sebelum mengangguk. Jumlah itu masih bisa dikerjakan bersama porsi harian jika ia membatasi pesanan tambahan.
Mereka memilih harga kepada pembeli dua belas ribu untuk vanila dan lima belas ribu untuk durian. Bagian yang diterima Tri untuk setiap kotak terjual tetap sepuluh ribu dan dua belas ribu. Selisihnya menjadi bagian kafe. Selama percobaan, barang yang tidak terjual tidak dibayar dan harus diambil Tri pada sore yang sama.
Tri menahan penanya. Ia mengulang bagian terakhir, bukan karena tak mendengar, melainkan ingin memastikan kerugiannya sendiri. Lucky menawarkan percobaan lebih kecil jika dua puluh terlalu berat.
'Dua puluh dulu. Tapi kalau banyak tersisa, berikutnya saya kurangi. Saya tidak bisa terus menutup bahan yang tidak terjual.'
'Setuju. Kita lihat hasilnya, bukan memaksa jumlahnya tetap.'
Mereka menyepakati penerimaan pukul sepuluh dan pengambilan sisa menjelang kafe melewati jam sore. Produk dibuat pagi itu, bukan stok semalam. Kotak harus diberi penanda rasa serta waktu pembuatan. Jika kemasan rusak karena penanganan kafe, Lucky akan menggantinya; produk yang memang tidak dibeli pelanggan tetap menjadi risiko uji Tri.
Tri mencatat perkiraan pengeluaran bahan dan kotak sebesar seratus enam puluh ribu. Jika seluruhnya laku, ia menerima dua ratus dua puluh ribu. Enam puluh ribu sisanya belum tentu menjadi keuntungan bersih karena ia masih harus mengantarkan dan mengambil barang. Lucky memandang catatannya, lalu mengatakan ia boleh menghitung ongkos sebelum menyanggupi.
'Dekat sekali dari lapak. Saya bawa dengan motor setelah wadah besar disimpan. Yang mahal justru kalau saya menerima terlalu banyak pekerjaan lalu membuatnya berantakan.'
Ia tidak perlu menguraikan kejadian tiga puluh kotak yang gagal dipenuhi. Ingatan tentang uang lima puluh ribu yang dikembalikan masih cukup jelas untuk menahan keinginan mengatakan bisa terhadap semua tawaran.
Lucky meminta salah satu kotak contoh ditutup dengan cara yang direncanakan. Tutupnya sulit masuk karena sekat di dalam terlalu tinggi. Tri menekannya, lalu berhenti ketika sisi karton mulai mengembung. Kotak itu terlihat bagus saat kosong, tetapi tidak menyisakan ruang yang tepat untuk isi.
'Untung yang dibawa belum dua puluh,' katanya.
Mereka mencoba pilihan kedua yang lebih sederhana. Bentuknya tidak semewah kotak pertama, tetapi tertutup tanpa menekan makanan. Lucky mengambil penanda harga yang tadi jatuh dan mengukur letaknya. Kali ini tangan mereka tidak saling berebut menolong.
Selesai membahas percobaan, Tri memotret catatan yang telah disepakati dan mengirim salinannya kepada Lucky. Pria itu bertanya apakah ia ingin makan. Tri menolak karena sudah berjanji pulang membawa sayur untuk Nini. Ia tidak menambah alasan yang menghapus kehangatan di antara mereka, dan Lucky tidak mengulang tawaran pinjaman keluarga.
Di pasar kecil dalam perjalanan pulang, Tri mengganti kotak pilihannya sesuai hasil uji. Penjual hanya memiliki dua puluh lima buah dengan ukuran itu. Ia membeli semuanya, memeriksa bagian yang terlipat, lalu menyimpan kuitansi bersama catatan bahan.
Ia lalu memilih sayuran sebelum mengabari Aki bahwa belanjanya hampir selesai. Nini rupanya meminta satu jenis sayur lain. Tri menukar pilihan yang belum dibayar, dan tersenyum mendengar Aki menyampaikan protes dari belakang telepon. Setelah membayar sayur pengganti, ia menyimpannya terpisah dari kemasan baru. Kesibukan di kafe tidak membuat urusan makan di rumah berhenti menunggu.
Di rumah, Nini ingin tahu apakah brownies sudah berhasil dikalahkan pancake. Tri mengatakan keduanya baru akan diletakkan berdampingan. Aki, yang sedang membagi sayur, berkomentar bahwa pembeli mungkin justru mengambil keduanya kalau uangnya cukup.
'Nah, itu yang saya harapkan,' sahut Tri.
Ia menuliskan kebutuhan untuk pagi percobaan sebelum mulai membantu menyiapkan makan. Dua puluh kotak kini mempunyai tempat dan hitungan. Apakah benar ada dua puluh orang yang mau membelinya, ia baru akan mengetahui setelah etalase dibuka.