Adam sedang jongkok di samping motor ketika Tri tiba di pujasera keesokan pagi. Tali pengikat tasnya terselip pada penyangga, dan semakin ditarik semakin erat melilit. Ia menolak gunting yang ditawarkan Mang Ucup, lalu akhirnya meminta gunting juga setelah lima menit berlalu.
'Kalau tadi langsung dipotong, sudah selesai,' komentar Tri.
'Aku sedang berusaha menyelamatkan barang.'
'Barangnya selamat, kuliahnya terlambat.'
Adam mendongak, hendak membalas, tetapi bunyi alarm pada ponselnya membuat ia buru-buru berdiri. Tri menahan tawa sambil mengambil tas yang sudah bebas. Ia membantu menyelipkannya dengan benar, lalu menanyakan jam pulang. Ada sesuatu yang hendak dibicarakan sesudah jualan.
Senyum Adam mereda sedikit. Ia mengatakan akan selesai kuliah menjelang sore. Tri mengangguk. Ia tidak mengatakan persoalannya sekarang, ketika lelaki itu sudah dua kali melihat jam dan masih harus menyeberangi halaman kampus.
Pagi berjalan sibuk. Seorang pembeli yang biasanya memesan durian meminta vanila untuk anaknya, sementara dua mahasiswa di belakangnya ikut mengganti pilihan. Persediaan vanila habis lebih cepat daripada perkiraan. Tri mencoret tulisan pada daftar rasa sebelum menerima uang orang berikutnya, kemudian menawarkan durian atau kembali besok.
'Yang kemarin buat acara kampus enak, Mbak,' kata pembeli terakhir. 'Teman saya kira ini toko di dalam kampus.'
'Kalau toko di dalam kampus, mungkin saya ikut ujian juga.'
Gurauan itu dibalas tawa. Namun setelah antrean reda, Tri memandang cetakan dengan pikiran yang berbeda. Ada kesempatan mendapatkan pembeli baru, tetapi stok dan waktunya tetap terbatas. Ia menulis tambahan bahan vanila untuk besok, lalu menghitung berapa pesanan tetap yang mesti didahulukan sebelum menerima tawaran kafe Lucky.
Ia pulang membawa wadah kosong. Nini sedang merajuk karena Aki menyuruhnya menunggu bantuan sebelum berpindah dari kursi. Kedua orang tua itu berdebat tentang siapa yang lebih keras kepala. Tri meletakkan tas, membantu sesuai kebiasaan yang sudah diajarkan, lalu membiarkan Nini memilih hendak duduk dekat pintu atau dekat televisi.
'Dekat pintu. Biar tahu siapa yang lewat,' jawab Nini.
'Kalau tukang tagih lewat, kita pindah lagi?'
Nini menepuk lengannya pelan. Tri tertawa, tetapi nama Kardi yang tidak disebut tetap membuat dadanya sesak. Ia belum membalas pesan Bapak lebih jauh daripada mengatakan keluarga masih memeriksa catatan. Tidak ada uang baru yang tiba hanya karena Lucky mengucapkan perasaannya kemarin.
Menjelang sore, Adam mengirim kabar sudah berada di rumah Engkong. Tri memastikan Aki bisa menemani Nini, lalu berjalan ke sana. Engkong menyambut dari dekat timbangan sambil bertanya apakah kali ini mereka mau membeli durian atau sekadar membuat terasnya penuh sandal.
'Saya mau bicara sebentar, Kong.'
'Kalau begitu, sandal ditaruh yang bener. Orang mau lewat jangan disuruh lompat.'
Adam menggeser sandalnya tanpa membantah. Biasanya Tri akan ikut menggoda. Kali ini ia duduk lebih tenang, menunggu Engkong kembali mengurus pembeli sebelum mengatakan bahwa Lucky sudah menyatakan ingin mengenalnya lebih serius.
Adam menatap gelas di tangannya. Jarinya berhenti mengetuk permukaan meja. Beberapa detik lewat sebelum ia bertanya apakah Tri sudah menjawab.
'Belum memilih siapa-siapa. Saya juga bilang kepadanya kamu sudah bicara, dan saya masih memikirkan perasaan saya.'
'Jadi dia tahu tentang aku?'
'Dari saya. Kemarin waktu makan.'
Adam mengangguk pendek. Ia mencoba minum, baru sadar gelasnya kosong, lalu meletakkannya lagi. Tri melihat gerakan itu dan menyesal betapa kalimat yang sudah disusun sepanjang jalan tetap terdengar menyakitkan ketika diucapkan.
'Aku memang bilang Teteh boleh berpikir,' katanya akhirnya. 'Ternyata mendengar ada orang lain menunggu juga tetap bikin kesal.'
'Kalau kamu perlu marah, saya mengerti.'
'Aku tidak mau marah lalu berharap Teteh merasa bersalah dan memilihku.'
Nada suaranya lebih tajam daripada biasanya. Setelah mengucapkannya, Adam mengusap muka. Tri tidak buru-buru membantah bahwa ia tidak merasa bersalah. Ia memang merasa bersalah, meskipun belum menjanjikan hubungan kepada salah satu dari mereka.
Ia menjelaskan tawaran pinjaman Lucky dan penolakannya. Adam mendengarkan, tetapi kali ini tidak langsung memberikan jalan keluar untuk semua hal. Ia hanya menanyakan apakah ada rencana kerja sama yang tetap akan dibicarakan. Tri mengatakan ingin menguji penjualan dalam jumlah kecil, dengan perhitungan yang bisa ia tanggung.
'Kalau cocok untuk usahamu, coba saja,' jawab Adam. 'Tapi jangan tanya aku harus senang atau tidak dulu. Aku belum pintar soal itu.'
Tri mengangguk. Kejujuran itu terasa lebih berguna daripada senyum yang dipaksakan. Ia menanyakan jadwal Adam beberapa hari ke depan, sebab selama ini terlalu sering menganggap ia bisa dipanggil setiap saat. Adam menyebut tugas kelompok dan persiapan ujian. Besok ia tidak dapat membantu memindahkan barang pagi.
'Saya minta Mang Ucup membantu yang berat. Kamu kerjakan tugasmu.'
'Mang Ucup juga jualan.'
'Makanya saya tanya dulu, bukan langsung menaruh wadah di depannya.'
Adam tersenyum sedikit. Dari dalam, Engkong memanggil untuk menanyakan letak buku pesanan. Pemuda itu bangkit mencarinya, lalu kembali membawa dua buku karena ternyata keduanya sama-sama bersampul biru. Engkong mengomel bahwa cucunya bisa menulis cerita hantu tetapi tidak bisa membedakan catatan utang dengan pesanan buah.
Tri tertawa sebelum sempat menahan diri. Adam menatapnya, lalu ikut tertawa dengan wajah masih agak murung. Percakapan mereka belum membuat segalanya ringan. Namun kesal dan sayang ternyata bisa duduk di teras yang sama tanpa harus diselesaikan dalam satu sore.
Sebelum pulang, Tri mengatakan vanila habis lebih cepat hari itu. Adam mengeluh karena belum kebagian, dan ia berjanji menyisihkan satu porsi besok jika lelaki itu memesannya sekarang. Adam mengeluarkan uang dari saku, meletakkannya di meja dengan gaya seorang pembeli yang sedang sangat serius.
'Tolong dicatat. Jangan sampai ada yang mengambil tempatku.'
Tri mengetahui ia sedang bergurau sekaligus tidak sepenuhnya bergurau. Ia menerima uang untuk pancake, menyebut jam pengambilan, lalu berpamitan kepada Engkong. Dalam perjalanan pulang ia membuka daftar belanja. Besok membutuhkan tambahan vanila, satu percakapan dengan Lucky tentang uji jual, dan keberanian untuk tidak terus menunda memahami hatinya sendiri.