Lucky mengajak Tri makan siang keesokan harinya setelah jam jualan paling ramai lewat. Mereka bertemu di kafe, bukan di ruang kerja lantai atas. Tri datang dengan membawa catatan persediaan karena pria itu sempat menyebut kemungkinan bekerja sama lagi.
Di tengah memesan makan, ponselnya bergetar. Pesan Bapak berisi kabar Kardi kembali bertanya kapan keluarga bisa memberikan uang. Tri membaca, lalu membalik layar di meja. Gerakannya terlalu cepat untuk tidak diperhatikan Lucky.
'Kalau perlu menjawab, silakan,' katanya.
'Nanti saja, Mas. Belum ada jawaban yang berbeda dari kemarin.'
Lucky tidak mendesak, tetapi menanyakan apakah keadaan Nini memburuk. Tri menggeleng dan akhirnya menjelaskan persoalan yang belum pernah diceritakan langsung kepadanya. Bapak mempunyai utang kepada Kardi. Lelaki itu ingin menjadikannya istri ketiga, dan keluarganya menghubungkan dua urusan tersebut meskipun ia menolak.
Senyum Lucky hilang. Ia meletakkan buku menu, mendengarkan sampai Tri selesai menyebut bagian yang ia ketahui. Ada angka yang diakui, ada pembayaran yang masih ditelusuri, dan biaya tambahan yang belum dijelaskan. Tri tidak membacakan semua kuitansi seperti laporan makan siang; ia cuma ingin Lucky tahu mengapa wajahnya berubah saat nama Bapak muncul.
'Dia pernah datang ke sini?' tanya Lucky.
'Ke lapak saya. Tidak ke kafe. Waktu itu saya sedang melayani pembeli.'
Pria itu menggeleng, tampak benar-benar terganggu. Tri mulai menyesal membuka persoalan ketika seharusnya mereka makan. Namun Lucky mengatakan ia boleh bercerita, dan menunggu sampai makanan datang sebelum melanjutkan pertanyaan.
Sesudah beberapa suap, ia mengatakan ada alasan lain mengajak Tri bertemu. Bukan pesanan seratus kotak, bukan juga pertanyaan tentang stok buah. Gadis itu menurunkan sendok, merasakan kegugupan yang dikenalnya sejak kunjungan pertama.
Lucky meraih gelas, tetapi justru hampir menyenggol buku menu yang masih diletakkan terbuka. Ia memindahkannya ke tepi dan tertawa malu. Tri belum pernah melihatnya kesulitan memulai percakapan seperti itu.
'Mas biasanya lancar sekali kalau menjelaskan rasa brownies.'
'Brownies tidak bisa bertanya balik.'
'Kalau saya terlalu banyak tanya, bilang saja.'
'Justru itu yang membuat saya ingin mengajakmu lagi.'
Tri terdiam. Pria itu mengatakan ia senang mendengar pendapatnya yang kadang membuat kaget, bukan hanya menerima ucapan menyenangkan tentang toko. Ia masih ingat kritik rasa durian waktu kunjungan pertama dan cara Tri menagih janji makan gratis. Lucky tersenyum saat menyebutnya, tetapi setelah itu kembali serius. Kali ini ia tidak bisa menyerahkan bagian sulit kepada pegawai atau menyelesaikannya dengan mencetak daftar pesanan.
'Saya menyukaimu, Tri. Saya ingin mengenalmu dengan niat yang lebih serius daripada sekadar mengajak makan.'
Tri menatapnya. Kalimat yang dahulu mungkin membuatnya melayang kini datang bersama pengakuan lain yang masih disimpan dalam kepala. Ia tetap senang mendengarnya. Justru karena itu ia tidak mau menjawab seolah perasaannya sudah selesai dipilih.
'Saya juga senang bersama Mas. Bukan cuma karena brownies gratis,' katanya, mencoba tersenyum.
Lucky tertawa pendek, lalu menunggu bagian kalimat yang belum terucap. Tri mengusap tangan pada sisi celana sebelum melanjutkan.
'Tapi saya perlu jujur. Adam sudah mengatakan perasaannya kepada saya. Saya belum menjawab. Selama ini saya menganggapnya sahabat, sekarang saya sedang memahami apakah perasaan saya berubah.'
Pria itu bersandar perlahan. Ada kecewa yang tidak dapat disembunyikan oleh senyum sopan. Ia menanyakan apakah selama mereka pergi makan, Tri sudah mengetahui pengakuan tersebut. Gadis itu menjawab urutannya: makan malam mereka lebih dulu, baru beberapa hari kemudian Adam bicara.
'Saya baru menceritakan sekarang karena Mas juga baru menyampaikan ini. Saya tidak mau membiarkan Mas mengira saya sudah memilih.'
Lucky mengangguk, tetapi beberapa saat tidak menyentuh makanannya. Tri membiarkan jeda itu ada. Ia tak bisa meminta dua lelaki bersikap gembira hanya karena ia sendiri belum memperoleh jawaban.
'Saya berharap jawabannya berbeda,' kata Lucky akhirnya. 'Tapi saya lebih suka tahu sekarang.'
Mereka melanjutkan makan dengan percakapan yang lebih pelan. Ketika pembicaraan kembali pada Kardi, Lucky menawarkan bantuan talangan agar tekanan keluarga berkurang. Ia menyebutnya pinjaman yang bisa dibicarakan pengembaliannya, tidak menyuruh Tri menikah sebagai syarat.
Tri tetap meletakkan sendok. Tawaran itu mungkin berasal dari niat baik, tetapi datang di meja yang baru dipakai menyatakan cinta. Ia tahu dirinya bisa terlalu lega melihat jalan keluar uang sampai mengabaikan keraguan hati yang tadi susah payah diucapkan.
'Terima kasih, Mas. Saya belum bisa menerima. Jumlah utangnya sendiri masih kami periksa. Dan setelah pembicaraan tadi, saya takut nanti sulit membedakan mana jawaban perasaan saya dan mana rasa terima kasih.'
Lucky membuka mulut seperti hendak meyakinkan, lalu menutupnya. Ia menatap gelas dan akhirnya mengatakan tawarannya tidak harus diterima. Tri mengangguk, lega karena tidak perlu terus memperhalus penolakan sampai maknanya hilang.
'Saya masih ingin membicarakan kerja sama pancake,' katanya kemudian. 'Kalau Mas memang membutuhkan produknya. Tapi jangan karena merasa harus membantu masalah keluarga saya.'
'Saya membutuhkan produk yang cocok untuk kafe. Itu bisa kita uji dalam jumlah kecil.'
Kali ini pembicaraan menjadi lebih mudah. Mereka tidak menandatangani apa-apa saat itu. Lucky hanya meminta Tri menyusun jumlah yang sanggup disediakan dan pilihan cara jual, supaya pertemuan berikut bisa membahas makanan dengan jelas. Perasaan yang belum selesai tidak harus dipaksa menjadi jawaban lewat pesanan.
Ketika makan berakhir, Tri membantu merapikan buku kecilnya ke tas. Lucky mengantarnya sampai pintu kafe, tidak kembali menahan dengan tawaran uang lain. Mereka berpisah dengan kehangatan yang masih ada, disertai kecanggungan baru yang tidak bisa ditertawakan seluruhnya.
Tri berjalan kembali ke pujasera untuk mengambil motor. Ia tidak membawa talangan, tidak pula janji bahwa dirinya akan menjadi pasangan Lucky. Di seberang jalan ada lapak dengan cetakan yang tetap harus dicuci, di rumah ada Nini yang menunggu, dan di kepalanya kini ada dua nama yang tak lagi bisa dihindari dengan mengatakan sedang sibuk. Ia menarik napas sebelum memasang helm, lalu pulang untuk menjawab pesan Bapak yang tadi ditunda.