Adam dan Baim mengambil dua puluh kotak vanila dua hari kemudian, sebelum kegiatan kampus dimulai. Tri sudah menyiapkannya terpisah dari pesanan lain. Jumlah diperiksa, pembayaran dua ratus ribu diterima, lalu Baim mengangkat kantong sambil mengeluh ia selalu mendapat bagian membawa konsumsi.
'Karena kalau dititip ke kamu, kami yakin akhirnya sampai ke orang,' sahut Adam.
'Maksudnya kalau dititip ke yang lain habis dimakan?'
Tri tertawa dan mengingatkan kotaknya jangan dimiringkan. Hari itu tangannya bekerja lebih tenang. Ia menerima jumlah yang memang bisa dibuat dan masih sempat menghabiskan sarapan sebelum pembeli harian datang.
Sesudah kedua pemuda itu pergi, ia menemukan kantong tisu yang belum ikut terbawa. Ia memotretnya dan mengirim kepada Adam. Balasan datang dengan keluhan singkat bahwa Baim rupanya terlalu sibuk menuduh orang lain akan menghabiskan makanan.
Tri menawarkan mengantarkan ketika keramaian pagi reda. Letak kampus dekat; ia bisa mampir sebentar sebelum pulang dan menyiapkan kebutuhan rumah. Adam memberi petunjuk ruangan serta mengatakan ia boleh melihat kegiatan jika mau, bukan hanya menyerahkan barang di pintu.
Menjelang siang Tri menutup lapak. Peralatan yang sudah dibersihkan disimpan dulu di tempat yang biasa dipakai, sementara ia membawa tisu dan tas kecil. Ia mengabari Aki akan mampir sebentar ke kampus, lalu berjalan melalui pintu yang ditunjukkan Adam.
Di dekat ruangan, suara mahasiswa yang berbicara bergantian terdengar sampai lorong. Tri berhenti, mendadak ragu dengan kaus dan jeans yang dipakainya. Orang lain membawa buku dan berkas, dirinya memegang kantong tisu. Kalau begini, ia lebih mirip kurir yang salah masuk seminar.
Baim melihatnya dan lekas keluar. Ia menerima barang sambil mengucapkan terima kasih. Tri baru membaca keterangan bahwa diskusi usaha kecil itu terbuka bagi mahasiswa serta undangan, bukan rapat tertutup pengurus. Baim menunjukkan daftar hadir sebelum memanggil Adam yang sedang membantu mengatur kursi.
Tri meminjam pena. Pada kolom asal, tangannya sempat berhenti. Ia tidak punya nama kampus untuk ditulis. Baim mengatakan nama usaha juga boleh, dan Tri akhirnya menulis Pancake Tiga di bawah nama lengkapnya. Tulisan itu terasa asing di antara beberapa jurusan, tetapi ia merapikannya sampai selesai.
'Jangan nanti saya dikira mau membuka lapak di dalam ruangan,' katanya.
'Kalau boleh, kami yang antre duluan.'
Ia tertawa, mengembalikan pena, lalu melipat kantong tisu yang sudah kosong. Ketika Adam mendekat dengan senyum, keraguan Tri sedikit surut. Ia tidak harus pura-pura menjadi mahasiswa agar boleh duduk mendengarkan pembicaraan tentang pekerjaan yang dilakukannya setiap hari.
'Masih ada tempat duduk. Mau masuk?'
'Kalau ada pertanyaan, saya cuma bisa menjawab soal pancake.'
'Bagus. Pertanyaannya pasti tidak kurang matang.'
Tri menyikut lengannya pelan, lalu mengikuti ke sisi ruangan. Seseorang bertanya apakah ia juga panitia. Adam memperkenalkannya sebagai Tri, pemilik Pancake Tiga yang menyiapkan konsumsi. Tidak ada sebutan pacar yang diumumkan tanpa bertanya. Gadis itu mengangguk kepada orang yang menyapa, tiba-tiba senang pekerjaannya disebut dengan cara biasa dan bangga sekaligus.
Ia duduk beberapa saat, mendengarkan bagian pembicaraan yang bisa dipahami. Ada yang berbicara lancar, ada yang berhenti mencari kata, lalu teman lain membantu melanjutkan. Kampus tidak seluruhnya berisi orang yang tahu jawaban sejak masuk ruangan. Pemikiran itu membuat dadanya hangat. Keinginan kuliah terasa dekat, meskipun ia belum duduk di sana sebagai mahasiswa.
Adam beberapa kali berdiri untuk pekerjaan kecil. Ia membetulkan susunan kursi yang menghalangi jalan, mencari lembar yang diminta, lalu berbeda pendapat dengan Rama mengenai pembagian tugas. Tri melihat ia bisa jengkel tanpa selalu berhasil menyembunyikannya. Ada saat ia memotong pembicaraan temannya, kemudian diminta menunggu sampai orang itu selesai.
Tri menahan senyum. Di lapaknya ia sering merasa Adam paling pandai menjawab. Di sini ia sama-sama belajar menghadapi orang yang tak langsung menerima caranya. Setelah kegiatan jeda, ia menggodanya bahwa rapat ternyata lebih ramai daripada antrean pancake.
'Kalau pembeli tidak suka, bisa pergi. Kalau panitia pergi, aku yang mencari,' keluh Adam.
'Makanya jangan semua kamu komentari.'
'Sekarang Teteh ikut memarahi juga.'
Mereka tertawa. Tri mengecek waktu, mengatakan ia hanya bisa duduk sebentar lagi. Adam mengajaknya ke bangku di luar ruangan yang tidak menghalangi peserta, lalu mengeluarkan buku yang selama ini ditutup cepat setiap dilirik.
'Dua halaman yang sudah kurapikan. Teteh tadi janji mau memberi komentar.'
Tri menerima setelah diminta, bukan mengambil dari sela tangan. Ia membaca cerita tentang seseorang yang mendengar pintu bergerak padahal rumah kosong. Kali ini ia bisa mengikuti lebih jauh daripada potongan yang jatuh di pujasera. Ada bagian yang membuatnya mengerutkan dahi, ada kalimat yang tanpa sadar dibacanya dua kali.
'Orangnya kenapa tidak keluar saja?' tanyanya.
'Karena dia harus tahu apa yang ada di dalam.'
'Kalau saya, tahu dari luar juga cukup.'
Adam tertawa. Ia menjelaskan alasan tokohnya bertahan, lalu mengaku beberapa bagian masih belum selesai dipikirkan. Tri menanyakan detail yang belum dipahami, tidak memberi pujian asal agar pemuda itu senang. Adam sempat mempertahankan satu bagian, kemudian membaca ulang dan mengangguk karena maksudnya ternyata belum jelas.
Mereka tidak membicarakan perasaan sampai waktu Tri pulang tiba. Namun gadis itu merasa baru mengunjungi tempat lain yang selama ini berada sangat dekat: kepala Adam ketika tidak sedang memikirkan uang sewa, kuliah, atau cara membantunya mengangkat wadah.
Ia mengembalikan buku, mengucapkan terima kasih karena diperbolehkan membaca. Adam menawarkan mengirim halaman yang sudah selesai lain kali. Tri menyanggupi, lalu menambahkan bahwa cerita tidak boleh tiba-tiba menyuruh penjual pancake menyelesaikan urusan hantu.
'Belum tentu. Aku pertimbangkan,' jawabnya.
Tri tertawa sepanjang beberapa langkah menuju gerbang. Ia kembali mengambil motor serta peralatan di pujasera, lalu pulang sesuai waktu yang dikabarkan. Di tasnya tidak ada hadiah mahal atau janji pembiayaan sekolah. Tetapi siang itu ia membawa beberapa pertanyaan baru tentang cerita Adam, dan kesadaran bahwa ia ingin mengenalnya lebih jauh daripada lelaki yang selalu tersedia ketika dirinya kesulitan.