Durian yang dibelah pagi itu menghasilkan daging lebih sedikit daripada perkiraan Tri. Ia tidak bisa memaksa kulit besar berubah menjadi isi banyak. Setelah memisahkan bagian yang bisa dipakai, ia menghitung ulang jumlah porsi dan mengganti keterangan pada papan sebelum pembeli berdatangan.
Rasa durian tersedia terbatas. Vanila dan cokelat tetap bisa dipesan. Tri memasang tulisan itu cukup besar, tidak ingin orang baru diberi tahu setelah uang diserahkan. Pelajaran dari pasar bersama Memet akhirnya dipakai sungguhan, bukan hanya menjadi bahan obrolan ketika harga buah sedang mahal.
Seorang pelanggan yang biasa membeli campur meminta semuanya durian. Tri menunjukkan jumlah yang masih tersedia dan menawarkan sisanya vanila. Orang itu menawar agar rasa durian dibagi lebih tipis saja. Ia menggeleng, menjelaskan bahwa harga dan rasa akan terasa berbeda jika isinya dipaksa kurang.
'Kalau Abang mau lebih banyak vanila, bisa. Tapi jangan saya tulis duren lalu Abang cuma mencari aromanya.'
Pelanggan tertawa, akhirnya menerima campuran yang tersedia. Tri mengerjakan pesanannya tanpa menambah adonan secara sembarangan. Ia masih bisa menikmati pekerjaan meskipun semalam nama Adam terus muncul setiap kali hendak tidur.
Bangku di sebelah meja kosong sampai menjelang siang. Tri beberapa kali menoleh tanpa sadar. Biasanya pemuda itu bisa datang sebentar di sela kegiatan, mengomentari bentuk pancake, lalu meminta varian yang tak berbau durian. Hari ini ia tidak datang, dan Tri mendapati dirinya memikirkan apakah pengakuan kemarin membuatnya menjauh.
Ia hampir mengetik pertanyaan, tetapi menghapusnya sebelum terkirim. Adam punya kegiatan yang tak selalu berkaitan dengannya. Baru beberapa hari lalu Tri sendiri mengeluh dianggap perlu diawasi. Tidak adil kalau kini ia menuntut pemuda itu muncul setiap kali bangku kosong terasa mengganggu.
Mang Ucup menanyakan apakah ia sedang menunggu pembeli yang belum mengambil pesanan. Tri menggeleng terlalu cepat, membuat lelaki itu memandangnya sejenak. Untung sebuah panggilan mi ayam menyela sebelum pertanyaan bertambah.
Ketika rombongan dari kampus lewat, Tri melihat Adam berjalan bersama Rama dan Baim. Mereka membawa berkas, berbicara sambil sesekali menunjuk halaman. Adam menoleh setelah Rama menyapa Tri, lalu melambaikan tangan.
'Masih rapat, Teh. Nanti aku kabari,' katanya dari jarak yang tak menghalangi orang lewat.
Tri mengangguk, membalas dengan mengangkat spatula. Pemuda itu tersenyum singkat dan melanjutkan jalan. Tidak ada wajah dingin yang menghukumnya karena belum menjawab cinta. Ia baru sadar sejak tadi sudah menyiapkan kemungkinan itu di kepala sendiri.
Sesudah rombongan berlalu, ia kembali ke kompor. Porsi vanila yang hampir otomatis disiapkan untuk Adam diletakkan bersama dagangan biasa. Ia tidak akan menyimpannya sampai lewat waktu hanya untuk menunggu orang yang tak pernah memesan hari ini. Seorang pembeli berikut akhirnya memilih porsi tersebut.
Ada rasa lucu ketika Tri menyerahkannya. Pancake tetap laku, tangan tambahan tidak diperlukan, dan ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Yang dirindukannya ternyata suara komentar menyebalkan di sebelah meja, bukan semata bantuan menutup kotak.
Menjelang tutup, Lucky menelepon. Ia menanyakan persediaan durian karena kafe juga sedang menunggu kiriman. Tri bercerita tentang buah besar yang ternyata tak banyak isinya. Pria itu tertawa dan menyebut pengalaman serupa.
'Kalau sama-sama kekurangan duren, nanti kafe sama lapak saya bertengkar lagi, Mas.'
'Kita bisa bergantian menunggu kiriman. Kamu masih menyimpan dendam karena lima buah dulu?'
'Dendamnya sudah diberi brownies, lumayan berkurang.'
Lucky tertawa. Tri ikut tersenyum sambil membersihkan ujung meja yang terkena percikan. Ia menanyakan apakah anak pria itu masih mengira pancake akan terasa pedas. Lucky menjawab sekarang justru ditagih kapan bisa membeli lagi. Tri menyuruhnya membawa anaknya ke lapak jika ada waktu, supaya tahu makanan itu dibuat dengan cetakan, bukan muncul dari kotak kafe.
'Nanti malah minta diajari.'
'Melihat boleh. Kompornya tetap saya yang pegang.'
Mereka bercakap sedikit lagi tentang makanan, lalu Lucky berjanji mengabari bila hendak memesan pancake dengan jumlah yang pasti. Ada bunyi orang memanggil dari seberang telepon. Ia pamit kembali bekerja, dan Tri mengucapkan sampai jumpa sebelum melanjutkan membereskan lapak.
Mendengar suara Lucky masih membuatnya senang. Ia tidak bisa menganggap pengakuan Adam kemarin langsung mengganti perasaannya seperti menukar topping. Justru sekarang ia perlu memperhatikan apa yang sungguh diinginkan dari masing-masing pertemuan, tanpa menjanjikan semua orang tempat yang sama.
Tri menutup lapak sesudah pesanan terakhir diambil. Ia membawa pulang peralatan tanpa menunggu kabar Adam lebih dulu. Aki sedang mengajak Nini duduk di ruang depan, memberi kesempatan neneknya melihat suasana gang setelah bosan berada dekat ranjang.
Nini menanyakan mengapa tak ada sisa pancake. Tri menjawab semuanya habis sesuai jumlah yang bisa dibuat. Neneknya pura-pura kecewa, lalu mengaku hanya ingin tahu apakah cucunya sempat makan siang. Pertanyaan itu membuat Tri mengangkat wadah bekal kosong sebagai jawaban.
'Jangan-jangan kosongnya dibuang,' goda Aki.
'Kalian berdua sekarang bekerja sama, ya?'
Mereka tertawa. Tri membersihkan alat sambil mendengarkan Nini bercerita tentang orang lewat yang dikiranya tetangga kampung. Sesekali Aki membetulkan nama, tetapi membiarkan cerita terus berjalan. Rumah terasa lebih ramai daripada bangku yang tadi dipandanginya di pujasera.
Petang hari, pesan Adam akhirnya datang. Ada kegiatan kecil dua hari lagi dan mereka membutuhkan dua puluh kotak vanila. Ia menanyakan apakah Tri bisa membuat sesuai harga biasa, diambil pagi sebelum kegiatan. Tidak meminta gratis atas nama sahabat yang sudah mengaku suka.
Tri memeriksa waktunya, lalu menyanggupi dengan jumlah dan pembayaran yang jelas. Setelah urusan pesanan selesai, ia menanyakan catatan pintu bergerak yang pernah jatuh dari buku Adam. Kali ini pemuda itu tidak langsung mengelak.
'Kamu mau baca kalau sudah kurapikan?' balasnya.
Tri tersenyum sambil mengetik bahwa ia akan menilai seperti pelanggan pancake: kalau kurang matang akan dikatakan. Adam membalas ancaman mengganti tokoh cerewet di dalam cerita dengan penjual kue. Untuk pertama kali sejak pengakuan kemarin, Tri tertawa melihat layar tanpa merasa harus segera memutuskan seluruh masa depannya malam itu juga.