Tri datang setelah pulang berjualan dan beristirahat seperti waktu yang disepakati. Ia tidak membawa kotak pancake, sebab Adam tidak memesan apa-apa. Di tangan hanya ada kantong kecil berisi minuman yang dibeli di warung dekat gang.
'Biar kalau pidatomu panjang, saya tidak haus,' katanya sambil meletakkan kantong di meja teras.
Adam tersenyum kaku. Hari ini ia tak memegang buku. Kedua tangannya justru saling menggenggam di atas lutut, lalu terlepas ketika Tri duduk. Dari bagian dalam rumah terdengar Engkong menjawab telepon tentang kiriman buah. Mereka tidak disambut godaan seperti biasanya.
Tri menunggu beberapa saat. Pemuda itu menanyakan keadaan tubuhnya dan apakah jualan selesai tepat waktu. Ia menjawab sudah lebih baik, lalu memiringkan kepala. Kalau pertanyaan seperti ini yang membuatnya gugup sejak kemarin, Adam benar-benar perlu latihan rapat tambahan.
'Dam, kamu mau meminjam uang?'
'Bukan.'
'Kalau begitu jangan seperti sedang menunggu saya menolak.'
Ia tertawa pendek, kemudian menarik napas. 'Justru itu yang aku takutkan.'
Tri berhenti membuka kantong minuman. Nada Adam membuat pertanyaan berikut tertahan. Pemuda itu memandangnya, kali ini tidak berlindung di balik sesuatu yang lucu.
'Aku menyukai Teteh. Bukan cuma sebagai teman yang biasa duduk di sebelah gerobak.'
Angin menggerakkan daun di tepi teras. Tri mendengar bunyinya terlalu jelas. Ia pernah bercakap akrab dengan anak Lucky, pernah berdebar ketika pria itu menggeser wadah sambal, tetapi tak siap menghadapi kalimat sederhana dari orang yang sudah sering mendengar semua keluhannya.
'Sejak kapan?'
'Sudah lama. Makin ke sini makin sulit pura-pura itu cuma khawatir biasa.'
Tri menurunkan pandangan pada tangannya sendiri. Banyak hal yang semula ia sebut biasa mendadak bergerak dalam ingatan: Adam membeli keperluan yang membuatnya malu, kegembiraan mereka ketika pemuda itu menerima beasiswa, penjemputan Nini, dan kedatangannya kembali meskipun sering mendapat omelan. Ia tidak ingin mengubah seluruh kebaikan itu menjadi tagihan yang wajib dibalas dengan cinta.
'Kenapa baru sekarang bilang?'
'Karena aku takut kehilangan cara kita berteman. Tapi menyembunyikannya juga membuatku gampang kesal pada orang yang mendekati Teteh. Itu tidak adil.'
Adam mengusap kedua telapak tangannya, lalu melanjutkan sebelum keberaniannya habis. Ia mengingatkan bahwa dahulu ia pernah menyebut Tri pacarnya di depan teman kampus tanpa bertanya. Tri sudah memprotes dan ia sudah minta maaf. Hari ini ia tidak hendak mengulanginya dengan mengumumkan hubungan yang belum disepakati.
'Aku pernah bilang kita selamanya sahabat. Itu sungguh-sungguh. Cuma ternyata perasaanku tidak berhenti di sana.'
Tri memandangnya lagi. Ia lega mendengar Adam tidak memakai lelucon lama sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya sudah bersama. Namun kelegaan itu tidak langsung memberinya jawaban tentang hati sendiri.
'Kamu juga tahu saya lebih tua, kan?' tanyanya lebih dulu. 'Saya sudah bekerja, kamu masih harus menyelesaikan kuliah. Kamu bahkan ingin melanjutkan lagi setelah itu.'
'Aku tahu. Aku tidak sedang mengajak Teteh membatalkan sekolah atau langsung merencanakan pernikahan.'
Tri memperhatikan wajahnya. Selisih tiga tahun mungkin terdengar kecil bagi orang yang menggoda mereka, tetapi kebiasaan memanggil Teteh membuatnya kadang lupa memandang Adam sebagai orang yang mempunyai rencana sendiri. Pemuda itu mengaku belum bisa menjanjikan seluruh masa depan. Ia masih harus menjaga nilai dan menyelesaikan yang sudah dimulai, termasuk keinginan belajar lebih jauh. Pengakuan hari ini tidak membuat tanggung jawab tersebut hilang.
Tri mengangguk lambat. Setidaknya ia tidak mendengar tawaran menyelesaikan semua masalah dengan satu keputusan besar. Namun ada hal lain yang juga harus dikatakan sebelum Adam salah berharap.
'Saya sedang dekat dengan Mas Lucky,' katanya.
'Aku tahu. Teteh sudah cerita.'
'Saya memang senang waktu bersamanya. Saya tidak mau bilang sebaliknya supaya kamu tidak sedih.'
Adam mengangguk, tetapi kali ini terlihat sulit. Ia menatap ujung meja sejenak sebelum kembali memandang Tri. Gadis itu bisa melihat rasa kecewa tanpa perlu diberi uraian panjang tentang pengorbanan.
'Terima kasih sudah bilang yang benar,' katanya pelan.
Tri meraih kantong minuman, mengeluarkan satu dan menyodorkannya. Tangan mereka tidak bersentuhan lama. Ia hanya membutuhkan pekerjaan kecil agar bisa berpikir tanpa terus menatap wajah orang yang sedang menunggu jawaban.
'Saya belum bisa menjawab sekarang, Dam. Selama ini saya menganggap kamu sahabat. Saya perlu memahami yang saya rasakan, bukan cuma mengingat kamu banyak membantu.'
'Aku tidak meminta jawaban hari ini.'
'Kalau akhirnya saya tidak memilih kamu?'
Adam terdiam lebih lama. 'Aku pasti sedih. Mungkin aku butuh waktu supaya tidak selalu terlihat kaku. Tapi aku tidak akan membuat Teteh mengganti bantuanku dengan perasaan.'
Ia menjawab seperti orang yang belum tahu seluruh caranya, bukan seolah sudah mempunyai aturan sempurna untuk kecewa. Justru itu membuat Tri lebih percaya. Ia mengenal Adam yang bisa cemberut, iri, dan salah bicara. Mengharapkan semuanya hilang setelah satu pengakuan pun tidak masuk akal.
Dari dalam, suara Engkong mendekat lalu menjauh lagi. Kakek itu rupanya melihat mereka masih serius dan memilih membawa pembicaraan telepon ke belakang. Tri tersenyum tipis sebelum kembali kepada Adam.
'Saya tidak mau kamu menunggu sambil mengira saya sudah menjanjikan sesuatu.'
'Aku dengar. Aku hanya ingin Teteh tahu, supaya berikutnya tidak perlu menebak kenapa aku kadang aneh.'
'Kadang?'
Adam tertawa kecil. Untuk beberapa detik wajah yang dikenalnya kembali muncul, membuat dada Tri hangat dan sedih sekaligus. Ia tahu setelah ini mereka tak akan bisa sekadar menghapus percakapan dengan berkata bercanda.
Mereka minum sambil duduk lebih tenang. Tidak ada pelukan sebagai jawaban pengganti. Tri tetap menyimpan perasaannya yang belum selesai, dan Adam tidak mencoba menyelesaikannya dengan mendekatkan kursi.
Saat langit mulai gelap, Tri berdiri. Aki sedang menemani Nini, tetapi ia ingin kembali membantu makan malam. Adam mengantarnya sampai pagar, berhenti sebelum jalan kecil menuju kontrakan.
'Terima kasih sudah mendengarkan sampai selesai,' katanya.
Tri mengangguk. 'Terima kasih sudah berani bilang.'
Ia pulang dengan langkah lambat. Di depan pintu, suara Nini menanyakan lauk menyambut seperti hari-hari biasa. Tri menjawab sambil tersenyum, lalu masuk mencuci tangan. Semuanya masih berada di tempat yang sama, hanya nama Adam di dalam pikirannya tidak lagi terdengar persis seperti sebelum ia pergi ke teras Engkong sore itu.