Pagi berikutnya Tri bangun lebih lambat daripada biasanya. Kepalanya terasa lebih baik setelah beristirahat, tetapi Aki tidak membiarkannya langsung meraih kantong bahan. Sarapan sudah disiapkan. Ia makan bersama Nini, mendengarkan neneknya sengaja bertanya tiga kali apakah nasinya benar-benar habis.
'Iya, Ni. Kalau ditanya lagi, nanti saya foto piringnya.'
'Foto bisa pakai piring Aki.'
Aki tertawa, membuat Tri menyerah mengangkat kedua tangan. Ia tahu mereka masih khawatir, meskipun Nini memilih memperlihatkannya lewat omelan yang akrab. Setelah makan, Tri mengabari beberapa pelanggan bahwa lapak baru dibuka lebih siang dengan jumlah terbatas.
Motornya masih berada di pujasera. Ia meminta Adam menemani mengambil setelah memastikan dirinya cukup nyaman berjalan dan tidak kembali pusing. Pemuda itu datang ke kontrakan menjelang waktu yang disepakati dengan motor yang semalam sudah diambil. Ia tidak langsung duduk seperti biasa.
'Sudah makan?' tanyanya.
Tri membuka mulut, lalu berhenti sebelum menjawab sambil bercanda. Ia mengatakan sudah sarapan bersama Aki dan Nini. Adam melirik ke dalam ketika Nini berseru membenarkannya. Baru setelah itu wajahnya sedikit melonggar.
Mereka berangkat ke pujasera dengan motor Adam. Tri dibonceng dan hanya membawa bahan secukupnya, tidak menumpuk wadah besar seperti biasanya. Dalam perjalanan pendek itu Adam lebih diam daripada biasanya. Ia menjawab pertanyaan tentang pertemuan kampus, mengatakan Rama sudah mengambil alih bagian yang tertunda, tetapi tidak menawarkan cerita lucu. Sesampai di pujasera, ia memarkir motor di samping motor Tri yang masih dititipkan di sana.
'Kamu masih marah,' kata Tri ketika mereka sampai dekat gerobak.
'Aku kesal. Kemarin Teteh bilang sudah sarapan, padahal bekalnya belum dibuka.'
'Saya tahu. Saya salah menjawab.'
'Kalau aku tidak datang, Teteh mau terus memasak?'
Tri memandang cetakan yang sudah dingin. Jawabannya mungkin iya, sampai tubuhnya sendiri berhenti. Mengakuinya tidak menyenangkan. Ia tidak sedang ingin mendapat pengampunan cepat, hanya tak mau menambah kebohongan untuk melindungi satu jawaban yang sudah keliru.
'Mungkin. Saya terlalu memikirkan pesanan. Tapi jangan bicara seolah saya anak kecil yang tidak bisa dibawa ke mana-mana.'
Adam menatapnya. 'Aku tidak bilang begitu.'
'Wajahmu bilang saya harus diawasi terus.'
Ia menghela napas, lalu menunduk pada tali wadah yang belum dilepas sejak kemarin. Ada kalimat tentang takut yang hampir keluar. Bukan takut kehilangan pembantu lapak, bukan pula takut pesanan gagal. Namun di depan gerobak, bersama pembeli yang mulai lewat dan Mang Ucup yang sedang menata mangkuk, ia belum sanggup mengatakannya.
'Aku tidak ingin mendapat jawaban sudah cuma supaya berhenti bertanya,' katanya akhirnya.
Tri mengangguk lambat. Itu kalimat yang bisa ia terima tanpa merasa seluruh kemampuannya dihapus. Ia menyampaikan apa yang akan dikerjakan hari ini: membersihkan alat yang tertinggal, membuka sebentar dengan bahan baru, lalu pulang pada jam yang sudah ditentukan. Tidak menerima tambahan mendadak.
Mang Ucup menanyakan keadaan Tri dan membukakan tempat penyimpanan alat yang dititipkan semalam. Adam membantu menurunkan barang, memindahkannya ke dekat gerobak. Ia mengambil tas dari motornya sendiri, mengucapkan sampai jumpa kepada Tri, lalu berangkat ke kampus setelah melihat perempuan itu mulai membereskan meja.
Tri mengucapkan terima kasih, mencuci alat, lalu menyiapkan adonan kecil. Papan harga tetap terpasang, tetapi jumlah dagangan tidak dibuat seolah ia harus mengganti seluruh kehilangan kemarin dalam satu siang. Ketika ada orang meminta lebih banyak, ia menawarkan hari lain dan menerima wajah kecewa tanpa buru-buru menarik ucapannya.
Pemesan kantor mengirim pesan untuk memastikan pengembalian lima puluh ribu sudah diterima. Ia mengatakan jumlah yang sempat diserahkan dimakan habis, tetapi untuk acara berikutnya ia perlu mencari orang yang bisa memastikan seluruh pesanan tepat waktu. Tri membaca kalimat itu lama. Pujiannya tidak menghapus hilangnya kepercayaan. Ia membalas terima kasih atas kabar penerimaan dan meminta maaf sekali lagi, tanpa menyodorkan janji diskon supaya lelaki itu segera kembali.
Setelah layar ditutup, ia menaruh papan jumlah yang masih tersedia lebih dekat ke depan. Hari ini ia ingin bisa mengatakan habis ketika memang habis, meskipun orang yang berjalan pergi membawa uang yang sebenarnya ia butuhkan. Ia menunggu putaran terakhir matang, baru membungkus untuk pembeli yang sudah memesan lebih dulu.
Seusai jualan, ia pulang dengan motor sendiri. Perjalanannya pelan dan tidak membawa tumpukan seperti hari pengiriman. Ia menyempatkan makan sebelum membantu kebutuhan rumah. Nini masih mengawasi piringnya, membuat Tri mengancam akan memberi tugas menghitung sendok bila terus dipelototi.
Sore hari Adam mengirim pesan menanyakan apakah ia bisa datang sebentar ke teras rumah Engkong. Tri mengira masih ada pembicaraan kemarin yang belum selesai, tetapi tetap datang setelah Aki menyatakan bisa menemani Nini. Rumah itu hanya berjarak pendek dari kontrakan; ia berjalan tanpa membawa motor lagi.
Engkong sedang sibuk merapikan sesuatu di bagian dalam ketika Tri tiba. Adam duduk dengan buku tertutup di dekat siku. Ia segera menggeser kursi dan menanyakan apakah Tri ingin minum. Gadis itu menunjuk gelasnya, menuduh ia sudah menyiapkan pidato sejak tadi.
'Bukan pidato,' jawab Adam.
'Kalau panjang, saya minta kertasnya saja. Bisa dibaca sambil tidur.'
Pemuda itu tertawa pendek, lalu kembali serius. Ia mengatakan ada yang ingin dibicarakan, tetapi tidak ingin mengaitkannya dengan pertolongan kemarin. Tri berhenti memainkan ujung lengan jaket. Cara Adam menatapnya tidak sama seperti saat menegur soal sarapan.
'Besok sore, setelah Teteh pulang dan istirahat, boleh kita bicara lagi?' tanyanya.
'Kamu membuat saya penasaran. Tidak bisa sekarang?'
Adam menelan ludah. 'Aku masih mencari cara mengatakannya dengan benar.'
Tri hendak menggoda, tetapi melihat jari pemuda itu meremas pinggir buku. Ia akhirnya mengangguk, menyepakati waktu setelah jualan yang tidak terlalu malam. Engkong keluar membawa air sebelum suasana terasa semakin ganjil, langsung mengeluh kedua anak muda itu tampak seperti sedang menunggu pengumuman ujian.
Mereka tertawa, minum, lalu bercakap singkat tentang keranjang di pasar. Tri pamit setelah gelasnya habis. Sepanjang jalan pulang ia masih memikirkan tatapan Adam dan buku yang tak dibuka-bukanya. Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah ada sesuatu di antara mereka yang selama ini terlalu mudah ia sebut biasa.