Dua hari setelah transfer Tama masuk, Tri menerima pesanan tiga puluh kotak vanila untuk diambil menjelang siang. Pada pagi yang sama ia masih harus menyelesaikan pesanan mingguan Ana. Ia sudah memperkirakan jumlah bahan, tetapi terlalu murah hati memperkirakan tenaganya sendiri.
Ia datang lebih pagi dan menyalakan kompor tanpa sempat menghabiskan sarapan. Nasinya dibawa dalam wadah kecil, diletakkan di sudut yang tidak terkena panas. Nanti setelah kelompok pertama selesai, pikirnya. Namun pembeli harian mulai datang sebelum kantong pesanan pertama ditutup.
Dhifa mengambil pesanan kelompoknya tepat waktu, memeriksa campuran rasa, lalu melunasi bagian yang masih harus dibayar. Tri menandai selesai dan langsung mengerjakan vanila berikutnya. Kabar pembayaran membuatnya lega. Dana belajar yang sudah kembali rasanya harus segera ditambah, supaya kali ini benar-benar cukup untuk mengejar rencana.
Mang Ucup sempat menanyakan apakah ia sudah makan. Tri menjawab nanti sambil mengangkat pancake. Satu rombongan meminta enam porsi untuk dibawa ke kelas. Ia menerima karena adonan ada dan pelanggan sedang berdiri di depan, lupa bahwa menerima pekerjaan baru juga memakai menit yang sudah dijanjikan untuk orang lain.
Ketika Adam mampir sebelum pertemuan kampus, Tri baru menyelesaikan dua puluh lima dari tiga puluh kotak vanila. Pemuda itu menyapa dan bertanya apakah ia tampak pucat karena belum tidur. Tri menggeleng, menyebut panas kompor yang sejak pagi membuat wajahnya lelah.
'Sudah sarapan?'
'Sudah,' jawabnya terlalu cepat.
Adam melihat wadah nasi yang masih tertutup di sudut, tetapi belum sempat bertanya lagi. Tri berbalik mengambil mangkuk, lalu tangannya berhenti di tepi meja. Pandangannya mendadak tak enak, seolah lantai bergeser sedikit padahal tidak ada kendaraan lewat.
Ia mencoba berdiri tegak dan gagal menemukan rasa mantap yang biasa. Adam lekas menahan lengannya sebelum tubuhnya membentur sudut gerobak. Mang Ucup mendekat membawa kursi, sedangkan seorang pembeli mundur memberi ruang.
'Duduk dulu, Teh.'
'Sebentar. Apinya—'
'Sudah dikecilkan,' kata Mang Ucup, lalu mematikan kompor setelah cetakan dipindah dengan aman.
Tri duduk dengan wajah panas dan tangan dingin. Ia tetap sadar, bahkan masih sempat kesal karena melihat lima wadah kosong menunggu. Adam mengambil air yang dimintanya, kemudian menanyakan apakah perlu pergi memeriksakan diri. Ia meminta istirahat dulu, tidak mau langsung menyimpulkan semua pasti baik hanya karena bisa menjawab.
Beberapa menit berlalu sebelum kepalanya terasa lebih ringan. Saat itu ponsel berbunyi: orang yang memesan vanila sedang berangkat mengambil. Tri menatap dua puluh lima kotak yang sudah selesai, lalu mengakui ada lima yang belum bisa dipenuhi. Suaranya lebih malu daripada ketika menawarkan harga kepada Lucky dahulu.
'Saya bisa menyerahkan dua puluh lima. Yang lima saya kembalikan pembayarannya sekarang. Maaf, bukan menunggu sampai Abang tiba baru diberi tahu.'
Pembeli itu kecewa. Ada jeda cukup lama sebelum ia menyetujui jumlah yang tersedia dan mengatakan akan mencari tambahan dari tempat lain. Tri mengembalikan lima puluh ribu dari pembayaran tiga ratus ribu yang sudah diterima. Tidak ada alasan meminta orang membayar semua karena ia sendiri sedang tidak sehat.
Adam membantu mengecek jumlah yang akan diserahkan, lalu memindahkan kotak ke tempat mudah diambil. Mang Ucup menjaga pembeli lain agar tidak terus berdiri di depan Tri. Tak ada yang meneruskan memasak secara tergesa hanya untuk membuat lima kotak terakhir seolah tidak pernah bermasalah.
Ketika pemesan datang, Tri meminta maaf langsung. Lelaki itu mengatakan makanan tersebut untuk pertemuan kantor dan ia harus memutar mencari tambahan sebelum acara mulai. Nada kecewanya membuat Tri ingin buru-buru menjelaskan semua yang terjadi, tetapi ia menahan diri. Orang itu tak perlu mendengar seluruh kesibukan rumahnya agar boleh kesal. Tri menuliskan jumlah akhir pada kertas pesanan, memastikan yang diserahkan tidak kembali kurang, lalu membantu menunjukkan jalan keluar yang paling dekat ke kendaraannya.
Lelaki itu mengambil dua puluh lima kotak setelah memeriksa, menerima bukti pengembalian uang, lalu pergi lebih cepat daripada pelanggan yang diajak bercanda pada hari biasa. Tri melihat punggungnya sampai keluar. Pengalaman menyelesaikan seratus kotak untuk Lucky tidak membebaskannya dari salah mengukur pekerjaan hari ini.
Sesudah makan sedikit dari bekal yang tadi diabaikan, ia mulai dapat bicara lebih tenang. Adam menelepon Aki atas sepengetahuannya, menjelaskan bahwa mereka akan pulang lebih awal. Nini tidak perlu ditinggal sendirian; Aki tetap di rumah menunggu, sementara Tri memesan kendaraan agar tidak memaksakan diri mengendarai motor.
Peralatan yang tidak harus segera dibawa disimpan rapi dan dititipkan kepada Mang Ucup. Motor dikunci, kuncinya masuk tas Tri. Adam mengantar dengan kendaraan yang dipesan, meninggalkan motornya sendiri juga di pujasera untuk diambil setelahnya. Ia mengabari Rama bahwa ia terlambat ke pertemuan, tidak menghilang tanpa pesan.
Di kontrakan, Aki membuka pintu sebelum kendaraan berhenti penuh. Ia membantu membawa tas, lalu menyuruh Tri duduk. Nini bertanya dari kamar dengan suara cemas. Tri menjawab bahwa ia sempat pusing dan sedang beristirahat, bukan mengatakan cuma lewat pulang mengambil barang.
Adam menyerahkan wadah makan yang belum habis. Aki memandangnya, kemudian memandang cucunya. Tri sudah tahu pertanyaan yang akan datang, jadi ia mengaku sebelum ditegur: sarapan tadi belum sempat dimakan, dan jawaban kepada Adam tidak benar.
'Aku tadi bertanya supaya tahu keadaan Teteh,' kata pemuda itu, suaranya tertahan.
Tri menunduk. 'Saya tidak ingin disuruh berhenti sebelum pesanan selesai.'
Adam tidak langsung menjawab. Ia memastikan Aki sudah bisa mendampingi, lalu berpamitan untuk kembali mengambil motor dan menuju kampus. Kali ini ia tidak menutupi rasa kesalnya dengan gurauan.
Tri berbaring setelah mengganti pakaian dan makan secukupnya. Jika keluhannya kembali atau tidak membaik, Aki akan membantunya mencari pemeriksaan. Dari kamar sebelah terdengar Nini menggerutu karena cucunya kini ikut merebut giliran disuruh istirahat. Tri hampir tertawa, tetapi matanya lebih dulu terasa panas. Lima kotak yang tak selesai itu mungkin kerugian kecil dibanding hari-hari lain. Kepercayaan orang yang terus ia jawab dengan saya kuat terasa lebih sulit diperbaiki.