Tiga hari sesudah panggilan itu, pemberitahuan dari rekening muncul ketika Tri sedang membeli bahan. Jumlah yang masuk satu juta tiga ratus ribu. Ia berhenti di samping rak, membaca nama pengirim, kemudian membuka pesan Tama yang menyusul beberapa saat kemudian.
Satu juta untuk mengganti uang ongkos Mak yang dahulu diambil. Tiga ratus ribu tambahan untuk bantuannya menyiapkan dan membereskan acara akikah, yang dulu dijanjikan akan dibayar tetapi tak pernah sampai. Tidak ada permintaan membuat pesanan baru sebagai gantinya.
Tri membacanya dua kali. Yang membuatnya lama memegang ponsel bukan semata jumlah uang. Ia ingat tubuh pegal dan perasaan seperti menjadi tenaga yang selalu tersedia setiap kali keluarga membutuhkan. Hari ini, setidaknya satu orang mengingat pekerjaan itu sebagai sesuatu yang memang telah dilakukan.
Ia menelepon Tama setelah selesai membayar belanja, tidak menghalangi orang di depan kasir. Kakaknya menjawab di sela pekerjaan dan segera menanyakan apakah jumlahnya sudah diterima.
'Sudah, Kang. Saya mau memastikan yang tiga ratus ini untuk bantuan waktu acara, bukan bagian pinjaman yang kemarin.'
'Iya. Kang dulu bilang nanti ditransfer. Ternyata yang datang cuma nanti terus.'
Tri hampir tertawa mendengar cara kakaknya mengakuinya. Ia mengatakan terima kasih, lalu menjelaskan satu juta akan kembali ke dana belajar. Tiga ratus ribu upah disimpan pada cadangan kebutuhan Nini. Tidak dicampur dengan uang bahan yang baru saja dipakai berbelanja.
Tama menyanggupi ketika ia menegaskan pinjaman Engkong tidak perlu dibayar lagi. Perkara itu sudah selesai dengan uangnya sendiri. Penggantian sekarang memulihkan simpanan Tri, bukan menciptakan pelunasan kedua kepada orang yang sama.
'Emak sama Bapak sudah kembali ke kampung?' tanyanya.
'Sudah. Kemarin berangkat. Soal Kardi belum selesai, tetapi Kang masih menunggu jawaban rincian yang diminta.'
Mereka tidak berbicara lama. Tama harus kembali bekerja, Tri pun membawa bahan yang tidak ingin dibiarkan panas di motor terlalu lama. Ia mengakhiri telepon dengan perasaan yang sulit disebut gembira penuh. Tetapi kali ini uang yang dijanjikan benar-benar masuk, dan ia bisa pulang tanpa menebak apakah dirinya terlalu berharap.
Di kontrakan, ia menurunkan belanja dan menunjukkan kabar kepada Aki. Nini yang mendengar nama Tama langsung bertanya apakah ada acara baru. Tri tertawa, menjelaskan justru ini sisa urusan acara lama. Ia tidak diminta datang untuk mencuci piring lagi.
'Kalau diminta, sekarang bawa sabun sendiri?' goda Aki.
'Bawa daftar harga, Ki.'
Nini tertawa kecil. Tri menyimpan belanja sebelum mengeluarkan buku simpanan. Dua ratus ribu yang tersisa ditambah penggantian satu juta menjadi satu juta dua ratus ribu lagi. Upah tiga ratus ribu ditempatkan terpisah sebagai bagian cadangan perawatan. Angka itu tidak membuatnya bebas menerima semua pesanan, tetapi memberinya sedikit ruang bernapas.
Siang hari, Tama mengirim kabar kedua. Shinta menemukan versi lebih lengkap dari bukti kiriman lama. Ada transfer dua juta kepada rekening atas nama Ningsih. Tanggal dan jumlah kini terbaca. Bapak mengingat pernah diminta Kardi menitip pembayaran melalui istrinya, tetapi kuitansi dari Kardi untuk transaksi itu belum ditemukan.
Tri membuka gambar sambil memastikan itu bukan kuitansi dua juta yang sudah masuk hitungan enam juta. Bentuk bukti dan waktunya berbeda. Ia menyimpan keduanya, lalu menanyakan apakah Kardi sudah mengakuinya.
'Belum,' jawab Tama melalui pesan. 'Dia bilang harus dicocokkan dengan catatannya. Kang minta jangan dihitung sebagai urusan lain tanpa diperiksa.'
Tri tidak mengubah tagihan versi Kardi begitu saja. Ada enam juta yang diakui, ada dua juta yang sekarang punya jejak pengiriman tetapi masih perlu dihubungkan dengan pembayaran utang. Empat juta biaya tambahan pun belum jelas. Ia mengirim rangkuman kepada Dwi dan Bapak supaya semua melihat bagian yang sama.
Sore itu ia keluar sebentar untuk membeli kebutuhan rumah yang tertinggal. Di dekat tempat fotokopi ada selebaran program kuliah tata boga dengan pilihan kelas bagi pekerja yang membuatnya berhenti. Ia meminta satu lembar, lalu membaca biaya dan pilihan jadwal yang tertera sebelum memasukkannya ke tas.
Angka di bagian atas tampak lebih ringan daripada bayangannya, sampai ia membaca tulisan biaya awal. Tri bertanya kepada penjaga tempat fotokopi apakah itu sudah termasuk seluruh kegiatan. Lelaki itu menggeleng, menunjuk nomor penerimaan yang tercetak di bawah; ia hanya membantu menaruh selebaran. Tri meminta maaf dan tertawa malu.
Di tempat yang tidak menghalangi orang lewat, ia menelepon nomor tersebut. Ia menanyakan perbedaan uang pendaftaran, biaya belajar, serta perlengkapan praktik, lalu mencatat jawaban singkat. Ternyata jumlah yang perlu disiapkan tidak sesederhana satu angka besar pada halaman depan. Ia juga meminta keterangan jadwal yang lebih lengkap dikirim. Sebelum menutup telepon, Tri menanyakan dokumen pendidikan yang dibutuhkan, agar bisa memastikan miliknya siap ketika benar-benar mengajukan pendaftaran nanti.
Ia belum mendaftar. Dana yang baru kembali tidak cukup untuk melompat melewati semua biaya, dan kegiatan Nini masih harus ditata. Namun selebaran itu memberi bentuk pada keinginan yang selama ini hanya muncul jika melihat toko Lucky atau mendengar Adam bercerita tentang kuliah.
Sesudah pulang, Tri menunjukkan kepada Nini. Neneknya meminta dibacakan bagian huruf kecil karena matanya lelah. Mereka berhenti pada jadwal yang paling mungkin cocok dengan jualan, kemudian Tri mencatat hal yang perlu ditanyakan kepada penyelenggara. Ia tak hendak memilih hanya karena gambar makanannya tampak indah.
Aki menyela dengan pertanyaan apakah nanti semua hasil praktik bisa dibawa pulang. Nini langsung mengingatkan bahwa ia bukan orang yang membayar untuk menjadi pencicip. Tri tertawa sampai selebarannya terlipat. Untuk beberapa menit rumah mereka membicarakan cita-cita tanpa menimbang siapa yang harus dinikahkan agar biaya hidup selesai.
Malamnya, selebaran itu disimpan bersama amplop belajar, bukan dipajang seperti bukti bahwa semua persoalan sudah berakhir. Tri masih harus bekerja besok dan perawatan Nini belum bisa ditinggalkan. Tetapi saat mematikan lampu ruang depan, ia tahu ada uang yang sudah kembali, pekerjaan lama yang akhirnya diakui, dan sebuah pilihan belajar yang sekarang bisa ditanyakan lebih lanjut. Ia ingin menjaga ketiganya tetap nyata.