Tama mengirim pesan suara menjelang siang keesokan harinya. Tri baru mendengarkannya setelah pesanan di depan cetakan selesai. Kakaknya mengatakan ia sudah berbicara lagi dengan Mak di rumah, tetapi ingin mendengar beberapa bagian langsung darinya.
Tri membalas waktu ia bisa menelepon. Ia tidak menutup lapak mendadak untuk panggilan itu. Masih ada dagangan yang harus diselesaikan, dan dirinya tidak ingin mengulang semua hal yang semalam membuat orang sulit memahami bahwa jam kerja pedagang pun pekerjaan.
Saat akhirnya mereka bicara, suara Tama lebih pelan daripada ketika berada di pujasera. Ia meminta Tri mengulangi bagaimana uang satu juta dari tangannya berpindah kepada Mak. Gadis itu menceritakan kejadian yang diingat, bukan menambahkan dugaan tentang ke mana seluruh uang kemudian dihabiskan.
'Kang waktu itu sudah pergi. Emak mengambilnya dari saya. Makanya saya yakin Kang tidak tahu,' katanya.
'Kenapa tidak langsung bilang?'
'Saya sedang berada di rumah Kang. Waktu bicara soal pinjaman saja saya dianggap terlalu menghitung. Mau bilang kepada siapa lagi?'
Tama terdiam. Tri mendengar bunyi pintu di seberang, kemudian suara ibunya. Rupanya Mak berada tak jauh. Kakaknya bertanya apakah ia bersedia berbicara kepada Tri sendiri, tidak melalui orang yang mengulang pesan.
'Kalau masih mau marah, nanti saja,' kata Tri sebelum ponsel berpindah.
'Emak tidak marah.'
Suara Asih tetap kaku. Ia mengeluhkan pembicaraan uang yang membuat malam di rumah Tama tidak nyaman. Tri memegang tepi kursi dan menunggu sampai ibunya selesai. Ia sudah mendengar keluhan yang serupa berkali-kali, tetapi kali ini Tama ikut mendengar dari sisi yang sama.
'Saya cuma ingin yang terjadi diakui, Mak. Uangnya Kang berikan kepada saya, Emak mengambil. Setelah itu saya yang masih berutang kepada Engkong.'
Asih menarik napas. 'Iya. Emak yang mengambil. Kamu bukan menghabiskan uang pengganti dari Tama.'
Tri menunduk. Kalimat yang selama ini seperti tak mungkin keluar ternyata hanya beberapa kata. Tidak ada tepuk tangan atau tangis yang langsung pecah. Ia justru ingin memastikan tidak salah mendengar.
'Jadi kalau Kang Tama bertanya, jawab begitu juga. Jangan saya lagi yang dianggap tidak membayar.'
'Sudah Emak katakan.'
Mak menambahkan alasan tentang kebutuhan belanja dan ongkos. Tri tidak mengubah alasan itu menjadi izin. Ia berkata kalau memang perlu memakai uangnya, seharusnya ditanya dan dijelaskan sejak awal. Bukan direbut, lalu ketika ia menyebutnya lagi dianggap anak tidak tahu terima kasih.
'Kamu sekarang berani sekali kalau bicara,' gumam Mak.
'Saya takut juga, Mak. Tapi kalau diam, ceritanya tidak pernah benar.'
Terdengar suara Tama memanggil ibunya. Percakapan mereka berhenti sebentar sebelum ponsel kembali ke tangan kakaknya. Mak tidak mengucapkan kalimat panjang tentang seluruh masa lalu. Pengakuan soal uang tadi tetap ada, meskipun cara bicaranya belum berubah menjadi lembut.
Tama mengatakan akan mengganti satu juta itu kepada Tri dalam tiga hari. Gadis itu langsung menanyakan apakah ia bermaksud membayar Engkong, karena pinjaman sudah dilunasi sebelum kedatangan keluarga, memakai uang simpanannya sendiri.
'Ke rekeningmu. Untuk mengembalikan dana yang sudah terpakai menutup ongkos Emak,' jawab Tama. 'Kang tahu itu berbeda dari utang Kardi.'
Tri mengangguk meskipun kakaknya tak melihat. Ia memberikan rekening yang benar dan meminta kabar setelah dikirim. Tidak langsung menambahkan uang itu ke jumlah simpanan hari ini. Janji transfer sudah cukup sering ia dengar; kali ini ia akan menunggu sampai benar-benar masuk.
Sebelum panggilan berakhir, Tama menyebut foto terpotong yang sedang dicari Shinta. Istrinya sudah mengenali percakapan asal, tetapi belum menemukan bukti lengkap. Ia akan mengirim jika ada perkembangan, bukan menyuruh Tri menghubungi semua orang kembali dari awal.
Tri berterima kasih atas kabarnya. Setelah ponsel disimpan, ia merasa lelah sekaligus sedikit lega. Pengakuan Mak tidak membuatnya ingin berlari pulang untuk berpura-pura semuanya sudah baik. Ia hanya tidak lagi sendirian memegang satu kejadian yang selalu dibuat tampak seperti keluhannya sendiri.
Adam mampir ketika ia mulai membereskan. Pemuda itu melihat wajahnya dan bertanya apakah pertemuan keluarga kemarin berlangsung buruk. Tri menjawab tidak sederhana, lalu menceritakan bagian yang sudah selesai: uang Engkong sudah lunas dan Mak mengakui mengambil penggantian dari Tama dahulu.
'Akhirnya ada yang mau bilang terus terang,' kata Adam.
'Iya. Tapi jangan menyuruh saya langsung gembira. Saya masih kesal kalau mengingatnya.'
'Aku belum menyuruh apa-apa.'
Tri tertawa pelan, menyadari ia sudah menyiapkan jawaban bahkan sebelum pertanyaan datang. Ia meminta Adam memegang satu wadah ketika tali hendak dipasang. Mereka menyelesaikan pekerjaan sambil membicarakan pelanggan yang hari itu salah menyebut nama pancake menjadi panekuk pisang, padahal meminta durian.
Satu lembar kertas terlepas dari sela buku Adam ketika ia membungkuk. Tri mengambilnya sebelum terkena genangan. Ada beberapa baris kalimat tentang pintu yang bergerak sendiri, tetapi ia belum selesai membaca ketika Adam buru-buru mengulurkan tangan.
'Catatan pribadi,' katanya, wajahnya agak merah.
'Hantunya jangan ditinggal di lapak saya.'
'Itu belum tentu hantu.'
'Kalau pintu bergerak sendiri, bisa juga engselnya rusak. Kamu baru memperbaiki lampu, sekarang pintu.'
Adam mendengus, mengambil kertas dan menyelipkannya lebih dalam. Tri tertawa karena jarang melihat pemuda itu begitu ingin menyembunyikan sesuatu yang bukan uang jajan. Ia tidak melanjutkan membaca setelah kertas diminta kembali. Namun ketika Adam sibuk mengikat wadah berikutnya, Tri sempat melirik buku yang sekarang ditutup rapat. Rupanya ada pekerjaan sahabatnya yang tidak dibawa ke rapat dan tidak pula dibicarakan di bangku sebelah kompor.
Di rumah, Tri menyampaikan kabar kepada Aki tanpa membangunkan Nini yang sedang tidur. Kakeknya mendengar, mengangguk, lalu menanyakan apakah ia mau ikut makan sayur yang baru matang. Tri menerima piring dan duduk. Untuk sore itu, makanan hangat terasa lebih berguna daripada mengulang percakapan tadi kepada setiap orang.
Malam datang dengan pekerjaan kecil yang masih biasa: mencuci alat, menyiapkan bahan kering, membantu Nini mengambil posisi nyaman. Tri melakukannya dengan bahu yang tidak setegang pagi. Satu pengakuan belum menyelesaikan keluarga, tetapi ia ingin memberi tempat pada hal yang benar-benar terjadi tanpa memaksanya menjadi janji tentang semua hari sesudahnya.