'Tinggal dua ratus ribu,' kata Tri, sebelum Mak mengira isi amplop itu lebih banyak.
Asih memandangnya tak percaya. Tama baru saja melihat pendapatan dagangan dan jumlah pengeluaran rumah, tetapi tetap ikut menoleh. Tri membuka amplop, memperlihatkan isinya tanpa meletakkan uang itu di tengah tikar seperti undangan untuk diambil.
'Ini dana belajar. Kemarin jumlahnya satu juta dua ratus ribu. Satu juta saya pakai membayar pinjaman Engkong.'
'Kenapa buru-buru membayar orang lain ketika keluargamu ditagih?' tanya Mak.
Tri menatap ibunya. Keningnya terasa panas, tetapi ia tidak akan menjawab dengan sindiran yang membuat semua orang berpaling dari pokok perkara. Ia menyebut kapan uang itu dipinjam: saat Mak membutuhkan ongkos untuk pergi ke rumah Tama, sementara simpanannya tidak bisa dipakai saat itu.
'Saya yang meminjam kepada Engkong. Jadi kemarin saya yang membayar.'
Tama mendadak mengangkat kepala. 'Bukannya waktu akikah sudah Kang ganti satu juta?'
'Kang berikan kepada saya. Lalu Emak mengambilnya.'
Mak segera mengatakan mereka sedang membicarakan Kardi, bukan menghitung setiap pengeluaran lama. Tri mengingatkan bahwa ibunya sendiri baru bertanya mengapa pinjaman Engkong didahulukan. Ia tidak bisa menjelaskan saldo dua ratus ribu tanpa menyebut ke mana satu juta itu pergi.
Bapak menatap Mak, lalu Tama. Kakak sulung Tri tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi berhenti setelah melihat ibunya. Ia jelas tidak menyaksikan uang itu diambil dahulu. Yang diketahuinya, penggantian sudah diberikan kepada adik dan perkara dianggap selesai.
'Mak mengambil uangnya?' tanyanya langsung.
'Waktu itu banyak keperluan. Jangan semuanya dibicarakan di sini,' jawab Asih, belum menatap siapa pun.
Tri menelan ludah. Jawaban itu hampir mengakui, tetapi masih menyisakan tempat baginya untuk dianggap terlalu banyak menghitung. Ia menutup amplop dan menyimpannya di sisi buku, tidak ingin pembicaraan berubah menjadi siapa yang paling berhak merebut dua ratus ribu terakhir.
'Saya tidak menolak membantu keluarga. Tapi kalau uang saya dipakai, lalu saya tetap disebut belum pernah membantu, saya harus menjelaskan.'
Aki menaruh cangkir dengan bunyi sedikit lebih keras. Ujang menatapnya, seolah menunggu kakek itu menengahi. Namun Aki justru bertanya mengapa urusan penggantian itu tidak dijelaskan sejak awal kepada Tama. Tak ada jawaban cepat.
Tri berdiri untuk memeriksa nasi yang sejak tadi dimasak. Ia membutuhkan alasan bergerak sebelum mengucapkan sesuatu yang akan membuat malam itu pecah. Mak tidak mengikutinya kali ini. Di ruang depan, suara Tama terdengar lebih rendah ketika menanyakan soal uang sekali lagi.
Di dapur, Tri membuka tutup panci dan melihat uap naik. Makanan yang tersedia cukup kalau lauk dibagi lebih kecil. Ia menggoreng telur tambahan, lalu menyiapkan sayur yang bisa dihangatkan. Tangan yang mengaduk masih sedikit gemetar, sehingga ia meletakkan alat sejenak dan menunggu napasnya tenang.
Bapak datang membawa piring kosong. Ia bertanya di mana harus diletakkan, bukan langsung menyuruh Tri lebih sabar kepada ibunya. Gadis itu menunjuk tempat di samping nasi. Mereka bekerja beberapa menit tanpa banyak bicara: Tri mengatur lauk, Ujang membawa piring ke depan.
'Pancake tadi enak,' kata Bapak tiba-tiba.
Tri berhenti sebentar. 'Terima kasih, Pak.'
Tidak ada pelukan setelah itu. Pujian makanan tak menghapus tamparan atau paksaan yang masih membuatnya berjaga. Tetapi ia menerimanya sebagai satu kalimat yang memang diucapkan, bukan menebak apakah ayahnya akan berubah seluruhnya malam ini.
Mereka makan setelah Nini dibantu lebih dulu. Mak menyuapkan beberapa bagian kepada ibunya ketika Tri menyiapkan air. Tama mengambil piring sendiri dan meminta tambahan nasi tanpa menyuruh adiknya meninggalkan makan. Ruangan tetap sesak, percakapan pun belum cair, tetapi setidaknya makanan tidak dibiarkan menjadi tugas satu orang.
Sesudah makan, Tama membawa beberapa piring ke dapur. Ia meletakkannya terlalu dekat dengan tepi, membuat Tri segera menggeser sebelum tertendang orang lewat. Kakaknya menanyakan tempat sabun cuci, lalu meraih spons yang ternyata dipakai membersihkan kompor. Tri menunjuk yang benar tanpa menertawakan, meskipun wajahnya sulit menahan senyum.
'Di rumah Kang biasanya tinggal menaruh piring,' kata Tama, agak canggung.
'Di sini kalau ditaruh terus, besok tidak ada tempat masak.'
Ia akhirnya mencuci bagiannya sendiri. Air membasahi ujung lengan yang belum digulung, membuatnya menggerutu. Tri memberikan kain lap dan kembali ke ruang depan membawa piring bersih untuk disimpan. Bantuan kecil itu tidak membayar pekerjaannya saat akikah dulu, tetapi setidaknya malam ini ada tangan lain yang ikut basah.
Tama kemudian memeriksa waktu kendaraan menuju Depok. Ia akan membawa kedua orangtuanya pulang ke rumahnya malam itu. Kuitansi asli tetap disimpan Bapak dalam map, sedangkan salinannya dipotret dengan jelas untuk Tri. Biaya tambahan Kardi belum diterima begitu saja, dan tidak ada keputusan bahwa seluruh simpanan Tri harus diserahkan.
Sebelum berangkat, Mak kembali bertanya apakah ia yakin hanya punya dua ratus ribu. Tri menjawab bahwa itu isi dana belajar, bukan seluruh uang yang beredar di tangannya. Modal besok serta kebutuhan rumah disimpan terpisah dan sudah mempunyai kegunaan. Menghabiskannya berarti menutup lapak, bukan menjadi anak yang tiba-tiba kaya sesudah membuka laci lain.
Tama mendengar dan kali ini mengajak ibunya bersiap tanpa menambah pertanyaan. Ia mengatakan masih akan berbicara tentang uang satu juta yang diambil dahulu. Tri mengangguk, belum menuntut hasil saat mereka berdiri di pintu.
Mak memeluk ibunya sebelum keluar kamar, lalu kepada Tri hanya berpesan agar berhati-hati jika pulang malam. Gadis itu menjawab singkat. Ia belum bisa membaca semua maksud di balik pesan tersebut. Ketika kendaraan datang, Tri dan Aki mengantar keluarga sampai ujung gang. Mereka menunggu semua penumpang masuk, kemudian melambaikan tangan ketika mobil mulai bergerak menuju Depok.
Sesudah tamu pergi, kontrakan terasa mendadak lengang. Tri kembali mengambil piring, Aki membantu mencuci, dan Nini memanggil karena lupa di mana gelasnya. Hal yang sama seperti malam lain, tetapi kini dua ratus ribu di amplopnya mempunyai cerita yang didengar orang selain dirinya. Ia berharap besok cerita itu tidak kembali dikecilkan menjadi anak perempuan yang terlalu pandai menjawab orangtua.