Map Bapak dibuka sore itu setelah Nini beristirahat. Ruang depan terlalu sempit untuk semua orang duduk mengelilingi meja, jadi Tri membentangkan tikar dan memindahkan gelas ke sisi lain. Tama mengeluarkan ponsel, menyalakan panggilan kepada Dwi setelah memastikan adiknya bisa ikut mendengar.
Tiga kuitansi diletakkan berjajar. Jumlahnya sama dengan foto yang sudah dikirim: dua juta, satu juta, dan tiga juta. Di sebelahnya ada catatan tagihan versi Kardi, enam belas juta. Tri menyerahkan rangkuman yang dibuatnya sendiri, lalu membiarkan Tama memeriksa dari awal.
'Ini empat juta apa?' tanya kakaknya.
'Tambahan yang Kardi tulis. Bapak belum bisa menjelaskan rinciannya,' jawab Tri.
Tama menatap ayahnya. Ujang merapatkan lutut, menyebut pembayaran terlambat dan kesabaran yang diminta selama menggarap sawah. Itu belum menjelaskan empat juta. Aki bertanya apakah pernah ada kertas yang ditandatangani tentang tambahan tersebut. Bapak menggeleng, kemudian menambahkan bahwa tidak semua urusan di kampung memakai tulisan.
'Tapi sekarang angka tambahannya ditulis,' kata Tama. 'Kalau diminta membayar, kita perlu tahu dari mana.'
Tri menahan komentar. Ia sudah mengatakan hal yang sama lewat telepon, tetapi baru kali ini Bapak tidak langsung menyuruh orang yang bertanya memperhalus ucapan. Mak menyela, takut pembicaraan seperti ini membuat keluarga dianggap tidak tahu terima kasih. Tama menjawab bahwa bertanya jumlah tidak sama dengan menyangkal pernah berutang.
Dari ponsel, Dwi meminta foto bagian belakang kuitansi. Ia sedang membandingkannya dengan satu gambar yang ditemukan, tetapi ternyata gambar itu termasuk pembayaran tiga juta yang sudah dihitung. Mereka tidak bisa menambahkannya lagi hanya karena salinannya ditemukan di tempat berbeda.
'Berarti yang hilang masih belum ketemu,' gumam Bapak.
'Bapak ingat mengirim lewat siapa?' tanya Tri.
Ujang mengusap lutut. Ia ingat pernah menitipkan uang agar dibantu dikirim karena waktu itu tidak bisa pergi sendiri. Ia menduga jumlahnya dua juta, tetapi tidak bisa menyebut tanggal dengan yakin. Tama menoleh ke ponsel, meminta Dwi memeriksa percakapan yang menyangkut permintaan tolong itu, bukan sekadar mencari nama Kardi pada kuitansi.
'Nanti aku cocokkan lagi sama arsip Shinta,' kata Dwi. 'Jangan dimasukkan ke jumlah yang sudah lunas dulu.'
Beberapa saat kemudian Dwi menemukan gambar lain dalam percakapan lamanya. Nominalnya dua juta, tetapi bagian tanggal dan penerima terpotong. Ia mengirimkannya kepada Tama. Mereka mendekatkan layar bergantian, mencoba membaca huruf yang masih tersisa. Bapak mengatakan mungkin itulah kiriman yang dimaksud, lalu buru-buru menambahkan bahwa ia belum yakin.
Tri meminta gambar disimpan bersama keterangan asalnya. Mereka membutuhkan versi utuh, bukan memperbesar potongan sampai semua orang merasa melihat apa yang diharapkan. Tama akan menanyakan langsung kepada Shinta setelah pulang. Dwi mengingatkan bahwa foto terpotong itu baru petunjuk, belum menjawab apakah uang tersebut benar diterima sebagai pembayaran utang. Ia menuliskan dari percakapan mana gambar itu diambil, termasuk perkiraan waktunya. Tama mencatat agar nanti Shinta tidak harus mencari dari awal tanpa petunjuk. Setidaknya ada sesuatu yang bisa ditelusuri, bukan hanya ingatan Bapak yang terus diperdebatkan.
Tri memberi tanda tanya pada baris pembayaran tersebut. Enam juta yang ada bukti tetap enam, bukan delapan hanya karena mereka berharap. Namun keterangan Bapak juga tidak dibuang. Jika benar ada pembayaran lain, mereka harus bisa memperlihatkannya kepada Kardi.
Tama mencoba menelepon lelaki itu saat semua masih berkumpul. Panggilan tidak dijawab. Ia mengirim pesan memperkenalkan diri dan meminta rincian tambahan empat juta. Mak langsung gelisah, menanyakan apakah kalimatnya terlalu keras. Kakak Tri memperlihatkan layar. Pesannya singkat, menyebut angka dan permintaan penjelasan tanpa makian.
'Kalau ada jawaban, jangan cuma Kang Tama yang tahu,' kata Tri.
'Aku kirim ke kalian.'
Mereka lalu membicarakan pekerjaan Bapak. Ujang mengatakan belum ada keputusan menghentikan garapan, tetapi ia takut itu dilakukan. Aki bertanya apakah ada pekerjaan lain yang bisa dicari jika keadaan memburuk. Bapak menunduk, menjawab bahwa mencari sawah pengganti tidak semudah memindahkan lapak.
Tri merasa tersengat meskipun kalimat itu tidak menyebut namanya. Ia menunjukkan ke arah peralatan yang masih ditiriskan di dapur. Lapaknya pun tidak berpindah dan menghasilkan uang sendiri ketika ia harus mengantar Nini. Semua orang di ruangan itu mengenal kelelahan masing-masing; masalahnya, kelelahan Tri terlalu sering dianggap bisa ditukar dengan suami kaya.
Mak hendak menjawab, tetapi Nini memanggil dari kamar karena ingin minum. Tri bangkit. Asih ikut berdiri, mengambil gelas dari tangan putrinya, lalu masuk lebih dulu. Untuk beberapa menit percakapan uang berhenti karena ada kebutuhan lain yang tak bisa diminta menunggu kuitansi selesai diperiksa.
Tama merapikan kertas yang hampir terinjak saat orang berpindah. Ia menatap adiknya ketika Tri kembali duduk. Kali ini pertanyaannya tidak langsung mengenai calon suami, melainkan berapa biaya yang sudah keluar untuk menjaga Nini di Jakarta.
Tri mengambil buku rumah, berbeda dari buku pesanan. Ia menunjukkan belanja harian dan pengeluaran pemeriksaan yang memang dicatat. Tidak semuanya dapat dirinci sempurna sampai uang kecil, tetapi cukup untuk melihat bahwa pemasukan di papan harga bukan tabungan bebas. Bapak memperhatikan tanpa memotong, sedangkan Dwi meminta angka penting disebut agar ia bisa mendengar dari ponsel.
'Kami juga cucunya,' kata Tama, agak pelan.
'Saya tahu,' jawab Tri. 'Makanya saya senang kalau kalian bertanya sebelum bilang saya selalu tidak punya uang.'
Wajah kakaknya menegang. Ia tidak langsung meminta maaf, tetapi kali ini tidak membalas. Ia menanyakan bagian kebutuhan berikut yang bisa dibantu, lalu mencatat tanggal pemeriksaan yang sudah dijadwalkan. Tri belum menganggap pertanyaan itu sama dengan uang yang benar-benar datang. Namun ia menjawab, sebab bantuan yang mungkin dilakukan lebih berguna daripada mengulang siapa yang paling berjasa.
Panggilan Dwi berakhir ketika ia harus mengurus pekerjaan lain. Tama berjanji mengirim foto kertas yang belum diterimanya. Mak kembali dari kamar setelah memastikan Nini nyaman, lalu menunjuk amplop di dekat buku Tri. Ia bertanya apakah di situlah simpanan putrinya. Tri menoleh pada amplop yang kini tipis, mengetahui pembicaraan berikut akan terasa lebih sulit daripada menghitung enam belas juta milik Kardi.