Keluarga Tri datang lebih cepat daripada waktu yang dibicarakan. Ia sedang mengangkat pesanan ketika Mak Asih muncul lebih dulu, diikuti Bapak dan Tama. Kakak sulungnya berhenti di tepi pujasera, melihat papan harga, lalu memandang gerobak seolah baru menyadari inilah tempat yang selama ini menghidupi adiknya.
'Masih lama?' tanya Mak.
'Yang ini tinggal dibungkus. Tadi saya bilang menjelang siang, Mak.'
'Jalan lancar. Masa disuruh menunggu di luar?'
Tri menunjuk kursi kosong dekat lapak Mang Ucup. Ia tidak menyuruh siapa pun pergi, hanya belum bisa meninggalkan kompor. Tama menarik kursi untuk Mak, Bapak duduk di sebelahnya dengan tas kain di pangkuan. Tri melihat ujung map dari dalam tas itu dan sedikit lega. Setidaknya dokumen yang dibicarakan benar-benar ikut datang.
Mak mulai menanyakan keadaan Nini. Tri menjawab sambil memeriksa isi kotak, lalu menyerahkan kepada pembeli. Ada pertanyaan lanjutan, tetapi pelanggan berikutnya sudah menyodorkan uang. Ia meminta Mak menunggu sebentar. Raut ibunya berubah seolah bantuan kepada orang asing sedang diutamakan daripada keluarga.
'Ini pekerjaan saya, Mak. Kalau ditinggal, kuenya tidak ikut berhenti matang.'
Tama melirik cetakan, lalu bertanya berapa banyak yang biasa terjual sehari. Tri menyebut jumlah yang berubah-ubah, tidak menambah agar terdengar mengesankan. Kakaknya menghitung cepat dari harga pada papan, kemudian mengangguk seperti baru mendapat angka penghasilan bersih.
'Berarti lumayan juga. Katanya selalu tidak punya uang.'
Tri hampir menjawab sambil mengangkat spatula, tetapi menahan diri. Ia menunjuk tepung, telur, dan wadah di belakangnya. Semua itu dibeli, bukan muncul setiap pagi setelah gerobak dibuka. Selain bahan, ada belanja rumah dan kebutuhan Nini. Tama hendak menyela, namun seorang pelanggan memanggil sehingga percakapan berhenti dulu.
Bapak memperhatikan dari kursinya. Ketika satu kantong hampir jatuh, ia refleks berdiri untuk membantu. Tri menerima kantong itu dengan ucapan terima kasih, lalu meminta Bapak meletakkannya di sisi yang kering. Gerakan kecil ayahnya terasa asing setelah telepon keras beberapa malam lalu.
Rombongan pembeli berikutnya datang bersamaan dengan Adam. Pemuda itu menyapa keluarga Tri lebih dulu, menanyakan kabar mereka, lalu berdiri di samping antrean. Ia ingat sudah diberi tahu mereka akan datang. Bukan waktunya menyelonong duduk di bangku yang biasa dianggap miliknya.
'Ini yang dulu kamu maksud punya calon?' tanya Mak tiba-tiba.
Adam membeku. Tri lekas menurunkan api agar tidak mengulang pancake gosong gara-gara terkejut. Ia menatap ibunya, lalu menjawab dengan suara lebih rendah.
'Adam teman saya. Waktu di kampung saya bilang punya calon karena dipaksa bertemu Kardi. Bukan berarti saya bertunangan.'
Mak mendecak, seolah mendapati bukti bahwa Tri selalu membuat urusan rumit. Wajah Adam memanas, tetapi ia tidak mengambil kesempatan mengumumkan sesuatu yang belum pernah dibicarakan dengan gadis itu. Ia hanya memesan vanila dan mengeluarkan uang.
Tri menyelesaikan pesanannya setelah pelanggan yang lebih dulu menunggu. Adam menerima bungkusan, bertanya singkat apakah ada barang yang perlu diangkat, lalu memberi ruang ketika Tama berdiri untuk melihat bagian belakang lapak. Ia tidak ikut membahas utang di antara orang yang sedang membeli makanan.
'Nanti di rumah saja bicaranya, Kang,' kata Tri ketika kakaknya mulai menyebut Kardi.
'Kenapa? Takut orang dengar?'
'Saya ingin orang datang untuk membeli pancake, bukan mendengar urusan kita.'
Tama mengatupkan bibir. Bapak akhirnya mengiyakan dan menaruh tas lebih dekat ke kaki. Adam berpamitan setelah selesai makan sebagian vanila, membawa sisanya untuk teman yang menunggu di kampus. Ia mengucapkan salam kepada keluarga Tri dan pergi tanpa meminta gadis itu ikut mengantar.
Setelah antrean reda, Tri menyiapkan porsi untuk keluarganya. Mak bertanya apakah harus membayar juga, membuat Tama tertawa. Tri mengatakan mereka bisa mencicipi, tetapi jangan kemudian menganggap semua pembagian gratis seperti ini sama dengan pemasukan. Ia menyisihkan jumlahnya dari catatan dagangan hari itu.
Ujang mencoba varian durian dan mengangguk kecil. Ia tidak memuji dengan kalimat besar, hanya mengambil satu lagi setelah yang pertama habis. Tri berpura-pura sibuk agar tak terlihat memperhatikan. Di antara semua percakapan yang membuat dadanya sempit, gerakan itu terasa seperti pengakuan yang lebih mudah diterima.
Menjelang siang, Tri menutup pesanan hari itu sesuai batas bahan. Ia tidak meninggalkan wadah kotor begitu saja untuk mengejar keluarga. Tama membantu mengangkat satu bagian setelah diminta Bapak, meskipun wajahnya menunjukkan tidak terbiasa membawa barang yang berbau adonan.
'Hati-hati, Kang. Kalau jatuh, besok saya pinjam tanganmu buat ganti bekerja.'
Kakaknya menatapnya, lalu mendengus kecil. Mereka membawa barang ke motor. Tama memesan kendaraan untuk dirinya dan kedua orangtua menuju kontrakan, sementara Tri mengantar peralatan lebih dulu dengan motor sendiri. Jaraknya dekat, tetapi ia tetap memastikan alamat yang dikirim tepat supaya mereka tidak menunggu di gang lain.
Ketika tiba, Aki sudah membuka pintu. Nini langsung memanggil Asih dari kamar, suaranya lebih hidup daripada beberapa hari terakhir. Tri menurunkan barang dan memberi jalan kepada ibunya. Ia masih membawa banyak kalimat yang belum selesai, tetapi untuk beberapa saat ia membiarkan Mak duduk di dekat Nini dan menanyakan kabar langsung.
Asih hendak membantu ibunya bangkit agar lebih mudah diajak bicara. Nini meringis karena posisi tangannya kurang nyaman, membuat Mak langsung berhenti. Aki mendekat, dan Tri ikut membantu setelah mencuci tangan. Mereka menunggu Nini siap, lalu membetulkan sandarannya pelan-pelan. Bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan berkata ayo sekali saja.
Mak berdiri di samping ranjang, mendadak kehilangan kalimat yang tadi mudah diucapkan di pujasera. Ia bertanya apakah setiap hari Nini perlu dibantu seperti ini. Tri mengangguk sambil merapikan bantal. Kadang lebih mudah, kadang neneknya lelah dan tak ingin diganggu. Setelah Nini nyaman, Tri mengambilkan air. Asih menerimanya untuk diberikan kepada ibunya sendiri, kali ini lebih hati-hati. Bapak dan Tama menunggu di ruang depan. Map di tas akan dibuka setelah semua orang duduk dan Nini bisa beristirahat kembali, bukan di sela tangan yang masih sibuk mengangkat tubuh neneknya.