Lebih sepekan setelah salah sangka kepada pengantar barang, Tri mulai bisa melihat kendaraan berhenti tanpa langsung menegangkan bahu. Kardi tidak muncul lagi. Ia tetap waspada ketika orang asing menanyakan dirinya, tetapi sekarang ia mendengarkan keperluan orang itu sampai selesai sebelum menjawab.
Rutinitas jualan kembali mengisi hari. Pesanan mingguan Ana diambil sesuai jumlah, beberapa pembeli lama datang lagi, dan ada dua pelanggan baru yang mengenalnya dari acara di kafe Lucky. Tidak semuanya membeli banyak. Sering hanya satu porsi, tetapi uang kecil yang masuk teratur itulah yang membuatnya bisa membeli bahan esok hari.
Sore itu, Tri mengeluarkan amplop belajar setelah membersihkan dapur. Jumlahnya sudah satu juta dua ratus ribu. Ia menghitung sekali, lalu duduk lama memandangi uang yang dikumpulkan selama beberapa pekan. Dulu ia mengira rasa senang akan penuh jika akhirnya ada angka yang bisa disebut. Ternyata di belakang angka itu masih berdiri satu pinjaman lama.
Satu juta kepada Engkong belum dikembalikan. Uang pengganti dari Tama dulu diambil Mak Asih, tetapi Engkong meminjamkannya kepada Tri. Ia tidak ingin terus mengatakan bukan salah saya sementara orang yang menolongnya menunggu tanpa kepastian.
Tri mengeluarkan satu juta, menyisakan dua ratus ribu dalam amplop belajar. Rasanya seperti mundur jauh, namun ia tak menutup mata pada uang yang sekarang hendak dibawanya. Ia memasukkan bagian untuk Engkong ke amplop lain, meminta Aki menemani Nini sebentar, lalu berjalan ke rumah kakek Adam.
Engkong sedang duduk di teras setelah pulang dari pasar. Ia melihat amplop dan langsung mengira Tri membawa undangan. Gadis itu memutar mata, menuduh mulutnya tidak pernah istirahat meskipun tokonya sudah tutup.
'Ini uang pinjaman saya dulu, Kong. Satu juta. Baru bisa saya kembalikan.'
'Gue pernah bilang jangan dipikirin terus.'
'Saya ingat. Tapi saya tetap meminjam. Kalau sekarang bisa dibayar, saya mau menyelesaikannya.'
Engkong tidak langsung mengambil. Ia menanyakan apakah uang bahan besok masih ada dan kebutuhan Nini tetap disiapkan. Tri menjawab bahwa yang dipakai berasal dari simpanan belajar yang baru dikumpulkan, bukan uang pembeli atau biaya pemeriksaan.
'Uang pengganti dari abang lu dulu sudah dikembaliin?'
'Belum. Emak belum mau membicarakannya. Tapi saya tidak mau menunggu terus.'
Engkong membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada komentar tentang Asih yang tampaknya hendak dikeluarkan, tetapi ditahannya setelah melihat wajah Tri. Gadis itu menggeser duduk, ujung amplop mulai terlipat oleh ibu jarinya. Ia tidak datang untuk meminta Engkong memarahi orangtuanya, meskipun dirinya sendiri masih kesal. Kakek itu akhirnya menyuruhnya berhenti meremas kertas karena uangnya tidak bersalah. Tri tertawa pendek dan meratakan amplop di atas meja. Untuk pertama kalinya sejak mengeluarkan uang dari simpanan, ia bisa melepaskan genggaman tanpa merasa ingin menariknya kembali.
'Berarti sekolah lu mundur lagi?'
'Dananya berkurang. Keinginannya belum.'
Kakek itu menatapnya beberapa saat, lalu menerima amplop setelah Tri kembali menyodorkannya. Ia menghitung jumlah di depan gadis itu, kemudian membuka buku kecil di laci dan menandai pinjaman itu lunas. Catatan diperlihatkan kepada Tri sebelum buku ditutup. 'Sudah selesai. Sekarang lu mau terus memandangi buku gue atau minum dulu?'
Tri mengembuskan napas. Ia tak menyangka bahunya bisa terasa lebih ringan bersamaan dengan amplop lain yang nyaris kosong. Engkong menawarkan teh, dan ia duduk sebentar sambil menanyakan dagangan buah. Kali ini mereka bisa bercakap tanpa satu perkara kecil terus mengganggu di belakang pikirannya.
Ketika hendak pulang, Adam muncul dari dalam dengan buku di tangan. Ia baru mendengar ujung percakapan. Engkong menyebut pinjaman Tri sudah lunas, membuat pemuda itu menatapnya sebentar, lalu bertanya apakah ia ingin duduk lebih lama.
'Tidak. Nini nanti mencari teman mengomel.'
'Kalau Nini tidak ada, Engkong bisa menggantikan.'
'Eh, lu enak saja,' protes kakeknya.
Tri tertawa. Adam mengantarnya sampai pagar, tidak menanyakan berapa yang tersisa dalam simpanan atau memberi tawaran menutup kekurangan. Ia cuma menanyakan apakah besok lapak buka seperti biasa.
'Buka. Tapi Bapak, Emak, sama Kang Tama mungkin datang. Tadi Bapak baru mengabari rencananya. Mau membicarakan surat utang.'
'Sudah pasti besok?'
'Mau saya telepon lagi setelah ini. Kalau jadi, jangan kaget melihat orang ramai di dekat gerobak.'
Adam mengangguk. Ia mengatakan ada kelas pagi, sesudahnya mungkin mampir membeli makan. Tri mengiyakan, lalu pulang ke kontrakan dengan amplop kosong di tangan.
Sesudah mandi dan makan malam, ia menelepon Bapak untuk memastikan kabar tersebut. Ujang sudah berbicara dengan Tama. Mereka akan datang menjelang siang ke pujasera, membawa catatan yang diminta, lalu ikut pulang ke kontrakan untuk menemui Nini dan Aki.
'Bukan membawa Kardi, kan?' tanya Tri.
'Tidak. Bapak, Emak, sama Tama saja.'
Tri meminta agar mereka datang setelah waktu pesanan pagi yang paling ramai. Bapak menyanggupi. Ia juga memberi tahu bahwa ruang kontrakan kecil. Ujang menjelaskan jika perlu bermalam, ia dan Mak akan ikut Tama ke rumahnya di Depok, bukan meminta Tri mendadak menyiapkan tempat untuk semua orang.
Mak mengambil alih sebentar, bertanya apakah Nini sudah tidur. Tri menyerahkan ponsel kepada neneknya yang masih terjaga. Ia mendengar suara Mak melunak ketika berbicara kepada ibunya sendiri. Ada rasa aneh melihat ponsel yang sama bisa membawa dua nada sangat berbeda, tetapi Tri memilih tidak memotong.
Aki mengajaknya merapikan meja supaya besok tidak berantakan ketika tamu datang. Tri mengangkat wadah yang sudah kosong, memindahkan berkas Nini ke tempat semula, dan menyimpan amplop belajar yang kini hanya berisi dua ratus ribu. Keluarganya mungkin akan melihat jumlah itu besok. Ia tidak hendak menyembunyikan bahwa sebagian hasil kerja sudah dipakai mengembalikan pinjaman yang bukan untuk dirinya seorang.
Sebelum tidur, Tri mencatat pembayaran kepada Engkong sekali saja. Di bawahnya ia menulis dua ratus ribu sebagai awal yang masih tersisa, bukan nol. Ia kecewa harus mengumpulkan lagi, tetapi tidak menyesali keputusan sore tadi. Besok ia ingin membahas utang keluarga sambil tahu ada satu urusan atas namanya sendiri yang sudah benar-benar selesai.