Sebuah mobil berwarna gelap berhenti dekat pintu pujasera menjelang siang. Tri baru melihat bagian depannya ketika seorang lelaki turun sambil memegang ponsel. Ia belum mengenali orang itu, tetapi dadanya sudah menegang sebelum ada yang berbicara.
Kardi tidak datang dengan tanda pengenal yang bisa disiapkan jauh-jauh hari. Sesudah gangguan dua hari lalu, mobil yang berhenti terlalu lama atau orang yang memandang ke arah lapaknya mudah membuat Tri memikirkan kemungkinan buruk. Ia meletakkan sendok adonan, menatap lelaki yang sedang mencari nomor kios.
'Kalau mencari saya untuk urusan Kardi, saya tidak mau bicara di sini,' katanya sebelum orang itu selesai mendekat.
Lelaki itu mengerutkan dahi. 'Siapa?'
'Yang menyuruh datang.'
'Saya mengantar barang. Ini Pancake Tiga, bukan?'
Tri terdiam. Dari sisi kendaraan yang lain muncul Memet, membawa tanda pengiriman dan kantong kecil. Pegawai Engkong itu memanggil namanya, lalu berhenti setelah melihat wajah kedua orang di depan lapak.
'Kenapa, Neng?'
Panas naik ke wajah Tri, kali ini bukan karena kompor. Ia meminta maaf kepada pengantar dan mengakui salah sangka. Lelaki itu menggeleng, kesal karena belum apa-apa sudah dikaitkan dengan orang yang tidak dikenalnya. Memet menjelaskan mereka membawa keperluan yang dititipkan Engkong sekaligus melewati tempat pembeli lain.
'Maaf, Bang. Beberapa hari lalu ada orang mengganggu. Saya terlalu cepat menuduh,' kata Tri lagi.
'Ya tanya dulu. Saya dari pagi cuma mengantar barang.'
Ia mengangguk, menerima teguran itu tanpa meminta orang tersebut memahami semua ceritanya. Memet meletakkan kiriman di tempat yang ditunjuk, lalu Tri memeriksa yang perlu diterima dan membayar sesuai titipan. Urusannya singkat, tetapi rasa malu bertahan lebih lama daripada kendaraan yang kembali berjalan.
Mang Ucup tidak mengejeknya. Ia hanya menggeser satu wadah agar Tri bisa kembali berdiri dekat kompor. Ada pesanan yang masih harus diselesaikan. Tri mencuci tangan, menarik napas, lalu mengecek api yang tadi dikecilkan. Ia tidak ingin rasa takutnya membuat pembeli kedua harus menanggung akibat setelah orang pertama telanjur dituduh.
Setelah antrean reda, ia menelepon Memet sebentar untuk meminta agar kabar permintaan maafnya disampaikan lagi jika sempat. Pegawai itu menjawab pendek bahwa ia sudah mendengar langsung. Tak perlu menelepon berkali-kali; yang penting berikutnya jangan langsung menyimpulkan.
Tri menaruh ponsel dengan wajah masih panas. Ia menatap jalan di luar. Tidak ada Kardi yang menunggu di sana. Namun tubuhnya seperti belum percaya bahwa hari biasa boleh lewat tanpa gangguan. Ia menyesal pada orang yang tadi dimarahi, sekaligus kesal karena Kardi masih bisa memengaruhi pekerjaannya meskipun tak muncul.
Besok harus lebih baik, pikirnya. Bukan dengan pura-pura tak pernah takut, melainkan menahan mulut beberapa detik lebih lama sebelum bertanya. Untuk hari ini, ia masih bisa menyelesaikan pesanan tanpa menambah kesalahan.
Tri menutup lapak sesuai jam yang kini tertulis pada papan. Ada satu pelanggan datang terlambat dan memilih memesan esok, persis seperti yang diharapkannya ketika membuat petunjuk itu. Ia mencatat, membereskan alat, lalu pulang tanpa singgah ke pasar lagi.
Di rumah, Nini ingin menelepon Bi Nining. Ia sudah beberapa hari tidak mendengar cerita kampung dan merasa pembicaraan Aki hanya berkisar pada harga sayur. Tri menyalakan panggilan video, membantu memposisikan ponsel supaya neneknya tidak perlu terus memegang dengan tangan yang mudah lelah.
Wajah Bi Nining muncul dari dapur. Di belakangnya terdengar Mang Atang menanyakan letak tali pengikat sayur. Nini langsung menegur menantunya dari jauh agar mencari sendiri sebelum berteriak. Aki tertawa, lalu ikut mendekat ketika pembicaraan beralih pada kebunnya.
Kebun kecil milik Aki berbeda dari sawah Kardi yang digarap Ujang. Aki ingin tahu keadaan tanaman yang sementara dititipkannya saat berada di Jakarta. Mang Atang muncul sebentar, memberi kabar bagian yang sudah dipetik dan pekerjaan yang masih menunggu. Kakek Tri menyimak dengan mata lebih hidup daripada ketika membicarakan kuitansi utang.
'Jangan-jangan Aki lebih rindu tanaman daripada Nini,' goda Bi Nining.
'Tanaman tidak mengomel kalau telat disiram lima menit,' jawab Aki.
'Coba saja tidak disiram berhari-hari,' sahut Nini. 'Dia bisa marah lebih mahal.'
Bi Nining sempat mengarahkan kamera ke halaman. Terlihat kursi yang biasa diduduki Nini, sekarang ditutup kain agar tidak berdebu. Neneknya diam beberapa saat, lalu bertanya mengapa tanaman dekat pagar tidak dipindahkan ke tempat yang lebih teduh. Bibi mengeluh baru saja menunjukkannya sebentar sudah mendapat pekerjaan tambahan. Mang Atang malah menyuruh kamera dialihkan sebelum Nini menemukan bagian lain yang harus dibenahi.
Tri tertawa di belakang ponsel. Ia membetulkan letak layar ketika Nini ingin melihat lebih dekat, menunggu sampai suara bibinya kembali jelas setelah sempat terputus. Percakapan berlanjut pada hal-hal kecil: tetangga yang panen, jalan depan rumah yang becek, dan barang yang masih tertinggal di kamar kampung. Tidak semua kabar harus membuka pintu bagi Kardi. Nini tampak senang bisa ikut mengeluh tentang hal yang biasa, bukan selalu ditanya apakah tubuhnya sakit.
Sebelum panggilan berakhir, Nini menitip salam kepada Asih jika bertemu di pasar. Ia ingin anaknya menelepon langsung sesekali, bukan semua kabar lewat Tri. Bi Nining menyanggupi. Tri memperbaiki posisi selimut di pangkuan neneknya, baru sadar Nini pun menunggu suara anak sendiri meskipun mereka sering tidak sependapat.
Setelah panggilan berakhir, Aki duduk sebentar dengan pandangan jauh. Tri bertanya apakah ia ingin pulang. Kakeknya mengangguk, tetapi melihat ke arah Nini lebih dulu. Ia tidak akan meninggalkan istrinya tanpa rencana hanya karena rindu mengecek kebun.
'Nanti kalau keadaan memungkinkan, kita atur, Ki,' kata Tri.
'Tidak harus besok. Aki cuma jadi ingat baunya tanah habis hujan.'
Ia menyimpan ponsel, kemudian menyiapkan air hangat untuk mencuci alat. Nini meminta pintu kamar tetap terbuka agar bisa mendengar mereka. Tri memenuhi permintaan itu, bersiul pelan ketika menata piring. Seharian ia sempat merasa semua pandangan di jalan tertuju pada dirinya. Di rumah, mendengar Aki dan Nini berdebat soal kebun, ia kembali ingat bahwa dunia masih berisi banyak hal selain orang yang menuntutnya menikah.