Adam datang bersama tukang yang akan memeriksa lampu pintu pujasera sebelum pukul sembilan. Tri baru selesai menata wadah dan mengangkat dua porsi pertama. Ia menyapa, lalu bergeser ketika tangga diletakkan dekat jalan masuk.
Semula pemeriksaan diperkirakan sebentar. Namun bagian yang perlu diperiksa bukan hanya lampunya, dan orang yang bekerja meminta area di bawah dikosongkan. Adam mengiyakan sambil menelepon penjual perlengkapan. Ia tidak menyadari antrean kecil mulai terbentuk di sisi yang biasa dilalui pembeli.
'Ini bukanya lewat mana?' tanya seorang lelaki kepada Tri.
Tri menunjuk lorong samping, lalu melihat dua orang lain justru berbalik karena mengira semua lapak tutup. Ia meletakkan alat masak dan memanggil Adam. Pemuda itu menutup telepon, wajahnya masih sibuk.
'Bisa nanti dulu? Aku sedang mencarikan barangnya.'
'Justru barang dagangan kami sedang mau dilewati orang, Dam. Yang lain sudah diberitahu jalannya ditutup?'
Adam menoleh. Mang Ucup berdiri memegang baki, tak bisa lewat dari tempat biasa. Pedagang lain baru keluar untuk bertanya. Ternyata kabar pemeriksaan yang disampaikan kepada dua orang belum cukup membuat semua orang tahu area depan harus kosong.
'Aku kira cukup sebentar,' kata Adam.
'Orang yang tadi pergi juga mengira kami tutup.'
Wajahnya berubah. Ia meminta maaf kepada pedagang yang menunggu, kemudian berdiskusi dengan tukang tentang bagian yang aman dilakukan sekarang. Mereka memindahkan barang yang belum dipakai dan menandai jalan alternatif dengan jelas. Pemeriksaan tetap dilakukan, tetapi pembeli bisa masuk lewat sisi lain tanpa melintas di bawah pekerjaan.
Tri menulis petunjuk sementara pada kardus bersih. Hurufnya besar, lebih sederhana daripada papan jam pesanan yang dibuat beberapa hari lalu. Mang Ucup membantu menaruhnya pada bagian yang mudah terlihat. Setelah pelanggan mulai masuk kembali, ia kembali ke cetakan yang tadi sudah dikecilkan apinya.
Adam menyusul beberapa menit kemudian. Ia membeli air dan berdiri di samping meja, menunggu sampai Tri selesai menyerahkan pesanan. Kali ini ia tidak langsung meminta semua orang memaklumi keadaan.
'Aku kurang lengkap memberi tahu. Tadi memang salahku.'
'Saya tahu kamu mau memperbaiki. Tapi orang datang tidak bisa membaca pikiran pemilik bangunan.'
'Kalau bisa, mungkin mereka minta sewa turun semua.'
Tri tertawa pendek. Pemuda itu ikut tersenyum, lalu membantu memindahkan satu kursi yang masih menghalangi lorong. Mang Ucup menanyakan ongkos pemeriksaan dan Adam menjawab akan mengurusnya. Lelaki itu langsung menunjuk lampu lain yang mulai redup. Wajah Adam menggelikan sekali ketika menyadari masih ada daftar berikut setelah keluhan pertama selesai didengar.
Rama datang membawa berkas yang harus diberikan sebelum mereka ke kampus, serta segelas minuman yang diletakkannya di meja. Ia nyaris mengikuti jalan yang sudah ditutup, lalu berhenti setelah membaca petunjuk Tri. Melihat Adam sedang memindahkan kursi, ia bertanya apakah rapat nanti berubah menjadi kerja bakti.
'Kalau mau ikut, pegang yang sebelah sana,' sahut Adam.
Rama langsung memeluk berkasnya lebih erat, membuat Tri tertawa. Namun beberapa saat kemudian ia tetap membantu menggeser meja agar pembeli punya tempat lewat. Ada segelas minuman yang tertinggal di atasnya; Tri mengambil sebelum tumpah. Bertiga mereka menyelesaikan perpindahan itu, lalu Rama mengingatkan jam pertemuan supaya Adam tidak keasyikan mengurus pintu. Tri sempat menuding pemuda itu ketika ia menyebut pekerjaan bangunan lebih mudah daripada mengatur tiga kepala teman organisasi. Padahal beberapa menit lalu ia sendiri hampir membuat semua pedagang kehilangan pembeli.
Rama lebih dulu berangkat ke kampus untuk mengantar berkas. Ia mengambil minumannya yang hampir terlupakan dan melambaikan tangan sebelum meninggalkan pujasera.
Menjelang siang, pekerjaan berhenti sementara menunggu perlengkapan. Area dibersihkan supaya pembeli tidak menginjak sisa bahan, dan jalan utama kembali dibuka setelah dinyatakan bisa dilewati. Adam mengurus pembayaran serta jadwal tukang kembali, kemudian baru duduk di bangku dekat gerobak.
'Sekarang boleh tanya soal kemarin?' katanya.
Tri menoleh, lalu mengambil jeda di antara pesanan. Ia menceritakan kedatangan Kardi sebagaimana yang dilihatnya sendiri, termasuk uang seratus ribu yang dikembalikan. Adam mendengarkan dengan rahang mengeras. Ia sempat berkata seharusnya berada di sana, membuat Tri mengangkat alis.
'Supaya bisa menatap galak dari samping kompor?'
'Supaya Teteh tidak sendirian.'
'Saya tidak sendirian. Ada pembeli, Mang Ucup, Bram yang sedang mengantar. Kamu juga punya kelas.'
Adam mengusap wajah. Ia tahu itu benar, tetapi mendengar Tri diganggu tetap membuatnya ingin melakukan sesuatu yang bisa segera terlihat hasilnya. Kardi tak akan hilang seperti lampu padam yang diganti bagiannya. Pemuda itu terpaksa menahan kalimat yang hampir keluar dan menanyakan apakah Bapak sudah mendengar versi Tri.
'Sudah. Masih ada bagian yang dia percaya dari cerita Kardi,' jawabnya. 'Nanti mungkin mereka datang bersama Kang Tama untuk membahas utang.'
'Teteh ingin aku ada?'
'Belum tahu harinya. Kalau jadi dan saya perlu bantuan, nanti saya bilang.'
Ia menerima jawaban itu meskipun tampak tidak puas. Telepon dari Rama menyela, mengingatkan waktu pertemuan kampus. Adam menatap jam dan berdiri. Tri mendorong kantong vanila yang memang dipesannya sejak tadi, menyuruhnya makan sebelum rapat, bukan sesudah pusing.
Sore hari tukang kembali bersama Adam untuk menyelesaikan bagian yang tertunda. Kali ini pedagang di dekat pintu sudah diberi tahu. Tri mengakhiri pesanan terakhir tanpa harus menebak jalan mana yang boleh dilalui. Ia menyiapkan barang di sisi yang lapang dan menunggu beberapa menit sebelum mendorongnya keluar.
Ketika lampu akhirnya menyala, Mang Ucup bersiul dan mengangkat dua jempol. Adam tertawa, terlihat lega. Tri memperhatikan cahaya yang kini jatuh cukup terang di dekat jalan keluar, lalu mengangkat wadahnya menuju motor.
'Jangan langsung dimatikan kalau saya lewat, ya. Nanti saya kira dendam ditegur tadi,' godanya.
'Kalau mau dendam, aku tambah sewa kursi.'
'Wah, besok saya bawa bangku sendiri.'
Mereka tertawa bersama sebelum Adam membantu menahan wadah agar ikatannya bisa dipasang. Hari itu persoalan Kardi belum berkurang, tetapi ada sesuatu yang lebih sederhana selesai dengan benar. Tri pulang melewati pintu yang terang, sementara Adam kembali memastikan tidak ada alat tukang tertinggal di tempat pembeli biasa duduk.