Ujang menelepon ketika Tri baru selesai membantu Nini makan malam. Ia meminta Aki menemani neneknya, lalu menerima panggilan di ruang depan. Suara Bapak langsung terdengar keras, belum didahului pertanyaan tentang keadaan di lapak.
'Kamu mempermalukan Kardi di depan orang banyak?'
Tri memejamkan mata sebentar. Ia ingin marah karena pesan yang dikirimnya sendiri ternyata kalah cepat dengan cerita orang lain. Tetapi sebelum membalas, ia bertanya apa tepatnya yang sudah didengar Bapak.
'Katanya kamu mengusir, membawa-bawa orang untuk mengancam.'
'Siapa yang katanya saya bawa?'
'Laki-laki besar yang pernah menjemput kalian itu.'
Tri menjelaskan Bram memang sedang mengantar buah titipan Engkong. Mang Ucup bekerja di lapak sebelah. Tidak ada orang yang dipanggil untuk berkelahi dan tidak ada pukulan. Kardi datang ketika ia melayani pembeli, lalu menyebut pernikahan yang sudah ditolaknya.
'Bapak boleh tanya kepada orang yang ada di sana. Tapi jangan mulai dengan menyalahkan saya sebelum mendengar.'
'Kalau bicaramu lebih halus, mungkin dia tidak tersinggung.'
'Saya sudah bilang sedang bekerja. Dia tetap bicara. Harus sehalus apa lagi supaya kata tidak terdengar?'
Mak Asih menyela dari dekat Bapak, mengatakan Kardi tidak pernah pelit membantu keluarga. Tri menatap pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia tak ingin Nini mendengar cucunya kembali bertengkar, tetapi tidak mungkin semua persoalan disimpan di luar rumah hanya karena mereka sedang merawat orang sakit.
'Mak, bantuan uang bisa dibahas sebagai uang. Kenapa selalu saya yang harus menjawab soal menikah?'
'Karena dia maunya kamu.'
'Saya tidak mau dia.'
Jawaban pendek itu membuat percakapan berhenti sejenak. Tri menunggu, kali ini tidak menambahkan alasan tentang pekerjaan, keadaan Nini, atau laki-laki lain. Kalau penolakannya selalu disertai daftar syarat, mereka akan terus mencari cara mengganti syarat tanpa pernah mendengar keputusan utamanya.
Bapak menurunkan suara ketika menyebut garapan. Kardi memberi isyarat bahwa kelonggaran selama ini tidak bisa diminta terus. Penghasilan dari sawah itu penting bagi Ujang dan Asih. Tri sudah tahu, tetapi mendengar ketakutannya secara langsung tetap membuat dada terasa sempit.
'Saya mengerti Bapak takut kehilangan kerja,' katanya. 'Tapi kalau saya menikah padahal tidak mau, yang hilang dari saya juga tidak kecil.'
Mak mendecak, menuduhnya selalu pandai membuat kesulitan sendiri terdengar paling berat. Tri mengambil air yang diletakkan Aki di dekat pintu. Kakeknya tidak ikut berbicara; ia hanya memastikan gelas ada, lalu kembali menemani Nini. Tri meneguk sebelum menjawab lagi.
'Kalau Bapak mau datang membahas surat utang, silakan. Ajak Kang Tama juga. Saya tidak mau lagi diajak bertemu dengan tujuan yang baru disebut setelah saya sampai.'
Ujang tidak segera menyanggupi. Ia harus melihat waktu kerja dan berbicara dengan Tama lebih dulu. Tri menerima jawaban itu, tetapi meminta satu hal yang bisa dilakukan sekarang: jangan menyuruh Kardi datang ke tempat usahanya dengan harapan ia akan berubah pikiran di depan orang.
'Bapak tidak menyuruh dia datang tadi,' jawab Ujang.
'Kalau begitu, sampaikan saya juga tidak mengundang.'
Mak mengambil ponsel. Ia menanyakan uang yang bisa disisihkan Tri dan mengingatkan bahwa dahulu keluarga juga mengeluarkan biaya untuknya. Kalimat itu membuat Tri hampir tertawa, bukan karena lucu. Ia teringat uang yang diberikan Tama untuk mengganti pinjaman satu juta, lalu berpindah ke tangan Mak sebelum sempat digunakan membayar Engkong.
'Ada uang yang dulu Kang Tama berikan untuk mengganti ongkos Emak,' katanya. 'Emak mengambilnya dari saya. Utang saya ke Engkong belum terbayar sampai sekarang.'
'Jangan menghitung semua kepada orangtua.'
'Tapi kalau saya diam, yang dianggap belum mengembalikan tetap saya.'
Mak tidak menjawab perkara itu. Ia justru kembali menyebut kesulitan rumah. Tri tahu percakapan tak akan menyelesaikan dua utang sekaligus malam ini. Ia mencatat bahwa soal satu juta belum dijawab, bukan menganggap sudah selesai hanya karena ibunya mengganti pembicaraan.
Mereka akhirnya menutup telepon setelah Bapak mengatakan akan mengabari rencana kedatangan. Suara Mak masih terdengar bersungut sebelum panggilan diputus, membuat telinga Tri terasa panas. Ia menaruh ponsel dan duduk lama sampai gelasnya hampir kosong.
Pesan Adam muncul saat ia masih duduk di sana. Mang Ucup sudah memberitahunya ada gangguan tadi siang, tetapi ceritanya belum lengkap. Tri membalas bahwa Kardi sudah pergi dan ia sudah pulang. Pemuda itu hendak menelepon, namun Tri meminta besok saja; tenggorokannya letih setelah berbicara panjang.
Adam menyanggupi, lalu mengabari ia akan datang bersama orang yang memeriksa lampu pintu pujasera. Mang Ucup rupanya sudah mengeluh sejak kemarin karena lampu itu kadang padam. Tri baru ingat bagian depan memang gelap ketika ia menutup terlalu sore. Ia membalas agar pemeriksaan dilakukan sebelum keramaian siang, kemudian meletakkan ponsel. Besok ada pekerjaan yang benar-benar bisa diperbaiki tanpa harus menunggu Kardi mengubah sikap.
Aki keluar setelah Nini mulai mengantuk. Ia bertanya apakah Kardi datang lagi ke rumah. Tri menggeleng, lalu menjelaskan bahwa kali ini lelaki itu mendatangi pujasera. Kakeknya mengencangkan rahang, tetapi duduk dulu ketika Tri memintanya mendengarkan sampai selesai.
'Tidak ada yang memukul, Ki. Saya cuma ingin Bapak tahu apa yang terjadi, bukan cerita bahwa saya mengajak orang berkelahi.'
Aki mengangguk, jarinya menekan ujung kain yang hendak dipakai membersihkan meja. Kakeknya menatap gelas kosong, lalu bertanya apakah Tri masih ingin minum. Ia menggeleng. Aki pun mengambil kain lap dan membantu mengeringkan meja yang masih basah oleh tetesan gelas.
Sesudah itu mereka membereskan makan malam. Nini sempat memanggil karena ingin minum. Tri mengantarkan air, menerima pertanyaan pendek tentang dagangannya, lalu menjawab bahwa hari itu melelahkan. Neneknya menggeser tangan yang sehat, menepuk sisi ranjang agar ia duduk sebentar.
Tri menurut. Nini tidak menanyakan isi telepon lagi. Ia membiarkan cucunya duduk di dekat ranjang sampai napasnya kembali teratur, sesekali menepuk punggung tangannya. Besok pagi lapak harus dibuka lagi. Malam ini, sebelum memikirkan siapa yang akan datang berikutnya, Tri ingin duduk lebih lama mendengar Aki menggerutu tentang remote yang lagi-lagi terselip di bawah bantal. Suara kecil rumah itu lebih menyenangkan daripada mengingat perkataan Kardi di pujasera.