Bram baru menurunkan kiriman buah yang kemarin dititipkan Tri di kios Engkong ketika sebuah suara memanggil dari depan lapak. Tri masih menggeser keranjang agar tidak menghalangi pembeli. Ia mendongak, lalu tangannya berhenti pada pegangan kayu.
Kardi berdiri dengan pakaian rapi, seolah pujasera tempat yang biasa disinggahinya setiap hari. Lelaki itu tersenyum kepada orang di sekitar, kemudian kembali memandang Tri. Senyum tersebut justru membuat perutnya mengencang.
'Dagangannya ramai juga,' katanya.
'Ada perlu apa?'
'Masa orang datang tidak disuruh duduk dulu?'
Tri menatap kursi yang biasanya dipakai pembeli. Ada dua orang sedang menunggu, satu lagi berdiri memegang uang. Ia tak hendak menciptakan pertunjukan di depan mereka, tetapi juga tidak bisa menyambut Kardi seperti kerabat yang datang membawa kabar menyenangkan.
'Kalau mau membeli, tunggu sebentar. Kalau urusan keluarga, sekarang saya bekerja.'
Kardi tertawa pendek. Ia menyebut harga pancake pada papan, lalu mengatakan ia bisa membeli jauh lebih banyak daripada orang yang datang satu dua kotak. Tri tidak menjawab tawaran itu. Ia membalik adonan yang sudah waktunya diangkat, menyelesaikan satu pesanan, dan menyerahkan kembalian dengan tangan yang sengaja dijaga agar tidak gemetar.
Kardi mengeluarkan selembar seratus ribu dan menaruhnya di sudut meja, terlalu dekat dengan wadah kembalian. Tri tidak segera mengambil. Ia menanyakan berapa kotak yang hendak dibeli. Lelaki itu mengibaskan tangan, menyebut uang belanja dan mengatakan tak perlu dihitung seperti kepada pelanggan lain.
Tri mengangkat lembar uang itu lalu mengulurkannya kembali. Kalau ia memasukkannya ke kotak, nanti pemberian akan disebut sebagai sesuatu yang lain lagi. Kardi menatap tangan yang menolak uangnya, seolah lebih tersinggung daripada ketika diminta menunggu. Tri tetap mengulurkannya sampai akhirnya uang tersebut diambil. Ia kembali memegang alat masak, sementara pembeli terdekat berpura-pura memperhatikan ponsel agar tidak terlihat sedang menyaksikan.
Pembeli di sampingnya bertanya pelan apakah pesanan masih bisa dibuat. Tri mengangguk dan meminta maaf karena ia sudah menunggu, lalu mengangkat piring yang tadi disiapkan.
'Kamu masih marah karena waktu itu?' tanya Kardi.
'Saya sudah mengatakan tidak mau menikah. Itu bukan karena sedang marah sebentar.'
Orang di kursi terdekat menoleh. Mang Ucup yang sedang mencuci mangkuk ikut memandang ke arah mereka. Bram berhenti merapikan tali keranjang, tetapi belum mendekat. Tri berharap percakapan bisa diakhiri tanpa ia harus meminta siapa pun membantu.
Kardi menyebut utang Bapak, lalu bertanya apakah Tri sudah tahu betapa sabarnya ia menunggu. Suaranya tidak berteriak, cukup keras untuk membuat pembeli lain mendengar. Tri merasakan malu yang dulu mudah membuatnya diam. Kali ini ia mengangkat wajah.
'Saya sudah melihat catatan yang Bapak kirim. Ada pembayaran yang masih dicari buktinya dan biaya yang perlu dijelaskan. Kalau mau membahas, bicarakan dengan Bapak. Jangan menawarkan saya sebagai penggantinya.'
'Bapakmu sendiri yang setuju membicarakan pernikahan.'
'Saya tidak setuju.'
Kardi merapat sedikit ke meja, membuat pembeli yang hendak membayar harus bergeser. Mang Ucup segera datang dari samping dengan gelas kosong, meminta jalan untuk pelanggan. Kalimatnya biasa saja, tetapi ia tetap berdiri di sana setelah gelas diletakkan.
'Saya cuma bicara dengan calon keluarga,' kata Kardi.
'Saya bukan calon istrinya,' jawab Tri sebelum Mang Ucup sempat berbicara.
Kali ini senyum lelaki itu hilang. Ia menatap Tri lebih lama, seolah menunggu gadis itu menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Tri tak melakukannya. Ia mengambil uang pembeli yang sejak tadi menunggu, tetapi perempuan itu mengatakan ingin membatalkan satu bagian karena waktunya sudah habis.
Tri mengembalikan pembayaran untuk bagian yang belum selesai. Keputusan pelanggan itu tidak menyenangkan, namun ia tak bisa menyuruh orang terus menunggu demi menyaksikan perdebatan keluarganya. Kardi masih berdiri di depan, sementara api harus dikecilkan agar sisa pancake tidak rusak.
Bram akhirnya mendekat, bahunya harus dimiringkan agar tidak menyenggol kursi pembeli. Ia mengambil keranjang kosong di dekat kaki Kardi, mengangkatnya ke sisi yang lapang, lalu meminta ruang agar sisa barang bisa dipindahkan.
'Kalau bukan belanja, biarkan Neng Tri melayani dulu,' katanya.
'Urusanmu apa?'
'Saya sedang mengantar buah. Jalannya ketutup.'
Jawaban itu membuat Kardi terpaksa bergeser. Beberapa orang memandang terus dari meja makan. Ia tampaknya tidak suka dikelilingi perhatian yang bukan tepuk tangan untuk kedermawanannya. Lelaki itu merapikan ujung lengan dan berkata ia akan bicara lagi dengan Ujang.
'Bilang sama bapakmu, jangan minta dimaklumi terus kalau keluarganya sendiri tidak menghargai.'
Tri mendengar ancaman di balik kalimat itu. Ia tidak membalas dengan janji uang atau seruan menantang. Ia hanya mengatakan Bapak bisa dihubungi langsung, lalu memandang ke arah pintu sampai Kardi benar-benar berjalan keluar pujasera.
Sesudah lelaki itu menghilang dari pandangan, suara ruang makan perlahan kembali biasa. Seseorang memanggil Mang Ucup untuk memesan mi. Bram menaruh keranjang di tempat yang tidak menghalangi kaki dan menanyakan apakah masih ada yang perlu dibawa.
Tri menggeleng, baru menyadari mulutnya kering. Mang Ucup menyodorkan air. Ia minum sambil melihat bagian pesanan yang dibatalkan; beberapa pancake sudah jadi, sebagian belum. Yang belum dimasak dihentikan. Bagian yang matang ditawarkan kepada pembeli lain dengan penjelasan yang jujur, tidak dibiarkan menumpuk sambil ia melamun.
Butuh beberapa menit sebelum suara Tri kembali ramah ketika menyebut rasa dan harga. Bram menunggu sampai keramaian pulih, lalu berpamitan untuk melanjutkan pengantaran. Tri berterima kasih. Ia tidak merasa baru memenangkan sesuatu. Hanya ingin satu hari berdagang tanpa dipaksa mempertahankan penolakan yang sama.
Menjelang tutup, ia mengirim pesan kepada Bapak: Kardi datang ke lapak dan membicarakan pernikahan di depan pembeli. Pesan itu pendek, tanpa tambahan yang tidak terjadi. Balasan belum datang ketika Tri mulai mencuci cetakan.
Ia menyelesaikan pekerjaan sampai meja bersih, kemudian menurunkan papan pesanan. Hari itu ia kehilangan satu bagian penjualan dan hampir kehilangan keberanian untuk kembali menyapa pelanggan. Yang membuatnya sanggup menyalakan kompor lagi bukan karena ancaman sudah lenyap, melainkan karena ia masih ingin pekerjaannya tetap menjadi miliknya, bukan panggung tempat Kardi mengatur hidupnya.