'Nah, ini yang baru makan sama juragan brownies!'
Seruan Engkong Udin membuat Tri hampir tersandung pinggir keranjang. Ia baru masuk kios di Pasar Sinar Asih, belum sempat menaruh helm, tetapi wajah beberapa orang sudah menoleh kepadanya. Di belakang meja, Memet menunduk menahan tawa.
'Kong, pakai pengeras suara saja sekalian. Biar yang parkir di luar juga dengar.'
'Gue cuma menyapa. Lu yang wajahnya langsung merah.'
'Panas, Kong. Ini pasar, bukan ruang berpendingin.'
Ia menanyakan dari mana kabar itu datang. Engkong menjawab Lucky tadi singgah untuk urusan buah. Ketika ditanya apakah pernah mengajak Tri datang lagi setelah pengiriman, pria itu menyebut makan malam mereka. Di mulut Engkong, kabar sederhana itu rupanya sudah mendapat tambahan nada dan volume.
Engkong terkekeh. Tri menaruh helm dan menyebut buah yang hendak dibelinya. Ia sengaja berbicara keras tentang dagangan agar orang yang masih mendengarkan mengerti bahwa ia datang bukan membawa pengumuman pernikahan. Namun kakek itu belum puas. Ia menggoda bahwa jika pancake dan brownies sudah berteman, pembuatnya jangan kelamaan saling menunggu.
Tri membuka mulut untuk membalas ketika suara Adam terdengar dari sisi kios. Pemuda itu baru selesai membantu memindahkan beberapa keranjang. Tangannya kotor dan ujung kausnya basah oleh keringat.
'Engkong kalau jual duren saja tidak pernah menjelaskan sepanjang itu.'
Kakeknya menoleh. 'Lu juga mau dijelaskan? Sini, duduk.'
'Aku mau cuci tangan.'
Adam pergi ke belakang sebelum godaan beralih kepadanya. Tri memandangi punggungnya, bertanya-tanya berapa banyak yang sudah didengar. Ia belum sempat menceritakan undangan Lucky, tetapi ternyata mulut Engkong sudah bekerja lebih cepat daripada pesan yang tadi malam tak jadi ditulis.
Ketika pelanggan lain pergi, Tri mendekati meja dan menurunkan suara. Ia tidak marah karena makan bersama Lucky diketahui orang. Yang membuatnya kesal ialah cara berita makan malam bisa berubah menjadi dugaan tentang masa depan, padahal dirinya sendiri masih sedang memahami perasaannya.
'Kong, jangan bicara seolah saya sudah menentukan kapan menikah. Nanti orang lain menyambung ceritanya sendiri.'
'Aye kan bercanda.'
'Yang dengar belum tentu tahu. Mak saya saja kalau dengar, bisa langsung bertanya berapa tokonya.'
Engkong tidak jadi tertawa. Ia ingat perjodohan yang membuat Tri dan keluarganya sampai tinggal bersama di Jakarta. Kakek itu menggaruk pelipis, lalu mengalihkan pandangan ke keranjang yang tadi hampir membuat Tri tersandung.
'Iya, gue kebanyakan bunyi. Sudah, sekarang lu pilih duren. Yang nikah nanti jangan sama kulitnya.'
Tri akhirnya tersenyum, meskipun belum ingin mengalahkan semua rasa kesalnya dengan satu gurauan. Ia membantu Memet memindahkan keranjang yang menghalangi jalan supaya orang berikutnya tak mengalami hal yang sama. Engkong mengawasi, kali ini membicarakan harga dan buah, bukan lelaki yang mungkin menjadi suaminya.
Pembeli yang tadi berdiri agak jauh sempat bertanya kapan undangan dibagikan. Engkong cepat menjawab bahwa belum ada undangan apa-apa; dirinya saja yang kebanyakan menggoda. Ia kemudian menawarkan buah yang baru diturunkan, mengembalikan pembicaraan ke alasan orang itu datang. Tri mendengarnya sambil menarik napas lega. Setidaknya kakek itu mau membetulkan ucapannya di depan orang yang sama, bukan hanya mengaku bercanda ketika mereka tinggal berdua.
Adam kembali dengan tangan bersih. Ia mengambil kursi yang tersandar, tetapi tidak langsung mendekat kepada Tri. Pemuda itu menanyakan apakah jumlah barang yang dibawa pulang cukup aman di motor. Ia menjawab akan mengambil sebagian dulu, sisanya minta dititipkan sampai pengiriman berikut.
'Tidak usah semua dibawa hanya karena sudah dipilih,' katanya. 'Nanti saya yang kelihatan seperti pohon duren berjalan.'
Adam tersenyum tipis. Ia membantu mengangkat bagian yang akan dibawa, lalu kembali membereskan tali keranjang tanpa bertanya tentang Lucky. Diam itu terasa lebih jelas daripada sindiran yang mungkin disiapkan Tri untuk membalasnya.
Setelah urusan belanja selesai, ia berjalan ke tempat motor bersama Adam. Engkong masih melayani pembeli baru dan tidak ikut mengejar. Tri menaruh helm di jok, lalu meminta Adam berhenti sebentar sebelum kembali ke kios.
'Saya memang sudah pergi makan dengan Mas Lucky,' katanya.
'Aku dengar.'
'Harusnya saya bilang sendiri, bukan kamu dengar teriakan Engkong.'
Adam menatap ikatan kantong, kemudian bahu Tri. 'Teteh tidak harus meminta izin kepadaku.'
'Saya tahu. Saya tidak sedang meminta.'
Ia mengangguk, tetapi wajahnya masih kaku. Tri menunggu. Ada bagian dirinya yang ingin mengajak bercanda sampai keadaan kembali seperti biasa. Namun jika Adam sungguh sedang kesal, menertawakannya mungkin justru membuatnya menutup diri.
'Aku cuma agak kaget. Tadi Engkong bicaranya seperti semuanya sudah pasti,' kata Adam akhirnya.
'Belum ada yang pasti. Kami baru pergi makan. Saya senang, tapi tidak sedang menyiapkan undangan.'
Kalimat saya senang terasa lebih berat saat diucapkan kepada Adam daripada kepada diri sendiri. Tri tak ingin menghapusnya hanya untuk membuat sahabatnya nyaman. Adam mengangguk sekali lagi, kali ini sambil menarik napas lebih panjang.
'Kalau begitu, semoga makanannya tidak mengecewakan.'
'Enak. Tapi saya tetap lebih suka harga bakso langganan.'
Adam tertawa kecil, walau belum selepas biasanya. Ia lalu menunjuk bagian kantong yang perlu diikat lebih tinggi. Mereka menyelesaikan urusan praktis itu bersama. Tri merapikan ujung tali, sesekali menoleh pada wajah pemuda yang masih lebih banyak diam di sampingnya.
Bram lewat sambil menyapa, menanyakan apakah Tri hendak membeli separuh pasar. Gadis itu membalas bahwa badannya tidak cukup besar untuk membawanya. Candaan mereka menarik perhatian Adam sebentar, dan suasana di dekat motor mulai lebih ringan.
Tri memakai helm lalu mengucapkan terima kasih atas bantuan mengangkat barang. Ia pulang sendiri; Adam masih punya tugas untuk Engkong dan pertemuan kampus setelahnya. Sebelum menyalakan motor, ia sempat melihat pemuda itu kembali ke kios, menerima instruksi Memet sambil mengangkat ujung keranjang.
Dalam perjalanan, Tri memikirkan dua macam diam. Bersama Lucky, ia kadang diam karena gugup dan ingin terlihat menyenangkan. Bersama Adam hari ini, ia diam karena tak ingin asal mengobati perasaan yang belum dimengertinya. Ia tidak langsung memperoleh jawaban tentang arti perbedaan itu. Yang diketahuinya, saat tiba di kontrakan dan menurunkan barang, ia masih ingin Adam kembali bisa tertawa seperti biasa.