Dwi menjawab pesan Tri dengan pertanyaan apakah ada keadaan darurat. Tri menatap layar beberapa saat, lalu mengirim foto catatan utang yang sudah dibahas bersama Bapak. Ia menambahkan satu kalimat: mereka perlu memeriksa pembayaran lama yang belum ditemukan buktinya.
Balasan tidak segera datang. Tri menyimpan ponsel dan melanjutkan jualan, menahan keinginan memeriksa setiap bunyi dari tas. Menjelang siang Dwi akhirnya menelepon, tepat ketika ada pembeli menunggu tiga kotak. Tri meminta waktu sebentar untuk menyelesaikan pesanan sebelum menelepon kembali.
'Katanya penting, tapi malah disuruh menunggu,' kata kakaknya saat panggilan tersambung lagi.
'Tadi tangan saya pegang adonan, Teh. Kalau pesanan ditinggal, nanti orangnya yang marah.'
Dwi menggumam. Di belakangnya terdengar suara orang berbicara, lalu pintu ditutup. Ia baru selesai mengajar dan punya waktu sebelum kegiatan berikut. Tri langsung menyebut maksudnya, bukan membuka percakapan panjang tentang kabar keluarga yang selama ini jarang mereka tanyakan.
'Teh pernah membantu transfer untuk bayar Kardi? Bapak ingat ada yang lewat keluarga, tapi belum ketemu buktinya.'
'Aku pernah diminta menghubungi Kang Tama. Uangnya bukan dari aku semua. Ada yang Shinta bantu kirim. Tapi aku tidak ingat itu pembayaran yang mana.'
Tri mengambil pena. Ia meminta Dwi jangan menebak jumlah. Jika pernah meneruskan foto atau kabar transfer, mungkin percakapan lamanya masih ada. Dwi mengaku sebagian arsip berada di ponsel lama yang jarang dipakai, dan ia perlu memeriksa di rumah.
'Nanti aku lihat. Jangan berharap malam ini langsung ketemu.'
'Iya. Kalau tidak ada, bilang tidak ada saja. Biar saya tidak menunggu yang ternyata belum dicari.'
Nada Tri membuat kakaknya terdiam. Ia tahu kalimat itu terdengar tajam, tetapi mereka terlalu sering menutupi ketidakjelasan dengan kata nanti. Untuk sekali ini ia ingin tahu apa yang sungguh akan dikerjakan, meskipun jawabannya tidak menyenangkan.
Dwi kemudian menanyakan apakah Tri sudah menyiapkan bantuan uang. Pertanyaan yang sama muncul lagi, kali ini dari orang yang tinggal jauh dari sawah Kardi dan tidak harus menghadapi laki-laki itu di depan lapak. Tri menyebut kebutuhan Nini serta pemasukan yang sedang dikumpulkan kembali.
'Kalau semua menunggu cukup, utangnya tidak selesai,' kata Dwi.
'Makanya saya menghubungi Teh juga. Bukan cuma untuk menyuruh saya cari uang.'
'Kamu sekarang pandai sekali menjawab.'
Tri memandang pelanggan yang lewat di luar pujasera. Ia tidak ingin berdebat sampai Mang Ucup tahu seluruh isi keluarganya. Ia merendahkan suara dan mengulangi bahwa yang diminta hari ini ialah mencari bukti, bukan menjanjikan transfer yang belum mampu dilakukan.
Di seberang, Dwi menghela napas. Ia mengatakan akan menghubungi Tama untuk menanyakan arsip kiriman Shinta. Jika jumlah pembayaran bisa dibuktikan lebih besar, tagihan pokok dapat diperiksa lagi. Soal empat juta tambahan, ia juga merasa perlu mendengar penjelasan Kardi, bukan sekadar cerita yang berganti melalui Bapak dan Mak.
'Kirim rangkumanmu. Biar aku tidak salah mengulang,' katanya akhirnya.
Tri segera meneruskan foto dan catatan. Sesudah memeriksa sudah diterima, barulah ia menanyakan keadaan kakaknya. Dwi menjawab singkat tentang pekerjaan yang menumpuk. Suaranya mulai tergesa ketika seseorang mengetuk pintu. Mereka mengucapkan salam dengan sopan, lalu panggilan berakhir.
Tri menaruh pena, merasakan lelah yang berbeda dari berdiri sejak pagi. Ia tidak baru saja bertengkar besar, tetapi setiap kalimat seperti harus dipertahankan agar tidak didorong kembali menjadi anak kecil yang tinggal menurut. Ia duduk sampai Mang Ucup lewat membawa wadah kosong.
'Sudah selesai rapatnya?'
'Belum rapat, Mang. Baru mengumpulkan orangnya.'
'Kalau orangnya susah, jangan pakai umpan pancake. Nanti yang datang semut.'
Ia tertawa pendek, lalu bangkit ketika pembeli baru mendekat. Pekerjaan masih ada dan kompor tidak peduli siapa yang menelepon kakaknya. Tri mengelap meja, memasang kembali wajah ramah yang sedikit kaku, lalu menanyakan rasa yang diinginkan.
Sore hari, pesan dari Dwi masuk. Kakaknya sudah menanyakan kepada Tama, tetapi Shinta belum sempat memeriksa arsip. Tidak ada angka baru yang bisa dipastikan. Tri membalas terima kasih atas kabarnya. Setidaknya ia tidak perlu mengarang kesimpulan bahwa diam berarti semua orang sudah menyelidiki.
Sesudah pulang, ia menceritakan perkembangan itu kepada Aki sambil membantu mengangkat jemuran yang hampir kena gerimis. Kakeknya berhenti sebentar ketika nama Kardi disebut. Ia mengenal keluarga itu lama, tetapi tidak pernah memegang uang yang dipinjam Ujang. Pengetahuannya tentang sifat Kardi tak bisa menggantikan kuitansi yang belum ditemukan.
'Kalau Bapak nanti menemukan kertas, suruh simpan di satu tempat,' kata Aki.
'Sudah saya bilang. Tinggal mudah-mudahan dikerjakan.'
Mereka memindahkan cucian ke ruang yang tak menghalangi jalan Nini. Tri memutar kain yang masih basah, kesal melihat air menetes lagi meski tadi sudah diperas. Aki mengambil alih bagian yang berat dan menyuruhnya memegang gantungan. Pekerjaan kecil itu membantu tangannya bergerak tanpa harus terus membuka ponsel.
Nini meminta beberapa pakaian yang sudah kering diletakkan di sisinya. Ia ingin ikut melipat, tetapi tangan kanannya belum mudah diajak bekerja. Aki hampir mengambil semuanya kembali. Tri menahan sebentar, lalu memberikan saputangan yang ringan dan membantu membuka kainnya di pangkuan. Lipatannya tidak rata. Nini merengut dan menyuruh mereka berhenti memandangi, seolah dua penonton itulah penyebab pekerjaannya lambat.
Tri pindah duduk sambil melipat kaus sendiri. Sesekali ia membantu menahan sudut kain yang bergeser, kemudian melepaskan ketika Nini ingin mencobanya lagi. Tak ada yang bertepuk tangan saat saputangan akhirnya terlipat, tetapi Aki langsung menyimpannya di bagian paling atas. Nini terlihat puas, lalu meminta satu lagi. Tri menyerahkan kain berikut sambil menuduh neneknya sedang merebut pekerjaan agar bisa menagih upah. Kali ini Nini tertawa.
Malamnya, Lucky menanyakan apakah ia sudah sampai rumah dengan aman semalam dan bagaimana dagangannya hari ini. Tri tersenyum sebelum menjawab, lalu menyadari ia belum menceritakan makan malam itu kepada Adam. Ia tidak merasa harus melaporkan semua pertemuannya, tetapi membayangkan reaksi sahabatnya membuat senyumnya mereda sedikit. Ia meletakkan ponsel untuk mengambilkan air Nini, menunda satu pesan yang belum tahu bagaimana hendak ditulisnya.