Tri mengganti kaus dua kali sebelum akhirnya kembali memakai yang pertama. Bedanya, kaus itu sekarang dipadukan dengan jaket yang bersih dan celana jeans yang tidak belel. Ia menyisir rambut pendeknya, memeriksa kaca, lalu menghela napas karena tetap melihat wajah yang sama.
'Kalau terlalu lama, nanti orangnya makan duluan,' kata Nini dari ranjang.
'Saya tidak lama, Ni. Ini baru sebentar.'
'Aki sudah bolak-balik mengambil air dua kali.'
Tri tak punya jawaban. Ia memeriksa keperluan Nini, memastikan Aki sudah makan, lalu meminta pamit. Lucky menjemput di ujung gang sesuai percakapan mereka siang tadi. Motor Tri tetap di rumah; untuk malam ini mereka akan pergi dengan mobil pria itu dan kembali ke tempat yang sama.
Melihat Lucky turun sebentar, Tri baru sadar ia juga tidak memakai kemeja kerja seperti biasa. Penampilannya lebih santai, tetapi senyum yang membuatnya lupa menyiapkan jawaban masih sama. Tri menyapa sambil berusaha tidak terlihat seperti orang yang baru saja berdiskusi lama dengan cermin.
'Maaf menunggu, Mas.'
'Saya baru sampai. Kamu kelihatan beda.'
'Biasanya membawa cetakan. Sekarang cuma tas.'
Lucky tertawa. Mereka berangkat setelah Tri mengunci ponsel dan menyimpannya. Ia sudah memberitahu Aki ke mana pergi. Malam itu ia ingin memperhatikan orang yang duduk di sebelahnya, bukan terus memeriksa apakah ada pelanggan meminta pancake untuk esok.
Tempat makan yang dipilih Lucky tidak terlalu ramai. Ada meja di dekat teras dan halaman kecil yang membuat Tri tak perlu terus merapatkan siku karena orang lewat. Mereka memesan ayam dan beberapa lauk yang bisa dibagi. Ia kembali menanyakan campuran makanan sebelum memilih, tidak malu terlihat cerewet karena alerginya memang bukan bahan untuk mencoba berani.
Ketika minuman datang, Tri refleks memandangi harga pada buku menu sekali lagi. Lucky menyadarinya dan bertanya apakah ada yang belum dipesan.
'Tidak. Saya cuma sedang memastikan mata saya tidak salah membaca.'
'Terlalu mahal?'
'Kalau di warung, uang minum ini sudah bisa mengajak teman mengobrol lebih lama.'
Lucky ikut tertawa, lalu mengatakan mereka bisa memilih tempat lain lain kali. Tri menggeleng. Ia tidak sedang protes supaya pria itu menanggung rasa bersalah. Ia hanya belum terbiasa makan sambil tidak menghitung berapa bungkus terigu yang setara dengan satu pesanan.
Obrolan awal mereka sempat kembali kepada durian. Lucky menanyakan apakah kiriman Engkong sudah lancar, dan Tri menjawab dengan cerita Memet yang mengajarinya tidak tertipu ukuran kulit. Namun setelah itu ia meletakkan buku kecil yang hampir dikeluarkan dari tas.
'Tidak bawa daftar harga malam ini?' goda Lucky.
'Saya takut Mas menyebut seratus kotak lagi sebelum nasinya datang.'
'Bukan itu alasan saya mengajakmu.'
Tri menatapnya, lalu pura-pura merapikan sendok. Kalimat tersebut sederhana, tetapi bunyinya bertahan lebih lama daripada candaan mereka. Lucky tidak segera menambahkan pengakuan besar. Ia bertanya apa yang Tri suka lakukan kalau sedang tidak berjualan.
'Tidur,' jawabnya spontan.
Pria itu tertawa sampai bersandar. Tri ikut tertawa, lalu mengaku dulu ia suka memperhatikan resep dan membayangkan punya tempat sendiri. Sekarang waktu luangnya sering dipakai mengurus rumah, tetapi keinginan belajar tata boga belum hilang. Ia jadi bersemangat saat bercerita tentang makanan yang ingin dicoba. Lucky harus mengingatkan minumannya yang nyaris tersenggol tangan.
Lucky mendengarkan sampai makanan tiba. Ia kemudian menceritakan anaknya yang kadang menawar waktu tidur karena ingin menunggunya pulang. Ketika jadwal toko bertabrakan dengan kebutuhan anak, ia pernah merasa semua orang harus menerima kesibukannya. Belakangan ia belajar bahwa ada pertanyaan anak yang tak bisa terus dijawab dengan kata nanti.
'Berarti Mas juga sering ditagih,' kata Tri.
'Iya. Bedanya, penagih yang satu itu memanggil saya Ayah.'
Tri tersenyum. Ia bertanya apa yang paling disukai anak itu selain durian. Lucky menjawab dengan beberapa hal kecil, termasuk kebiasaan membawa boneka yang dilihatnya saat pengiriman. Tri ikut tertawa, mengingat tangan kecil yang sibuk memindahkan kotak kosong seperti sedang melakukan pekerjaan paling penting di kafe.
Saat ponsel Lucky berbunyi, percakapan berhenti. Ia meminta izin menjawab karena panggilan datang dari rumah. Tri melihat perubahan wajahnya, dari lelaki yang santai menjadi ayah yang memastikan keperluan anak sudah disiapkan. Setelah selesai, Lucky minta maaf dan kembali memperhatikan makanan.
'Tak apa, Mas. Saya juga tadi memastikan Nini dulu sebelum berangkat.'
Lucky mengangguk, lalu terdiam sebentar. Ia mengatakan anaknya belakangan sering bertanya tentang ibu yang tak sempat dikenalnya. Pertanyaan sederhana kadang membuatnya lebih sulit menjawab daripada urusan cabang toko. Tri berhenti memainkan sendok. Ia tak hendak menandingi kehilangan itu dengan cerita hidupnya sendiri atau mengatakan semuanya pasti mudah nanti. Ia hanya mendengarkan, kemudian bertanya apakah anaknya suka mendengar cerita tentang ibunya. Wajah Lucky melunak ketika mengangguk. Ada bagian kehidupan pria itu yang sudah terbentuk jauh sebelum Tri muncul, dan malam ini ia melihatnya tanpa harus merasa tersaingi oleh kenangan.
Mereka melanjutkan makan. Tri kebagian potongan ayam yang lebih besar, lalu memprotes karena Lucky terus memindahkan lauk ke sisi piringnya. Ia bisa mengambil sendiri. Pria itu mengangkat sendok seperti menyerah dan membiarkannya memilih. Kejengkelan kecil yang membuat mereka sama-sama tertawa itu justru menolong Tri berhenti menjaga setiap gerakan.
Sesudah piring dibereskan, mereka duduk sebentar sebelum pulang. Lucky bertanya apakah ia boleh mengajaknya lagi di hari lain. Tri tidak langsung menjawab sambil bergurau. Ia menatap pria itu dan mengangguk, merasakan senang yang tidak lagi bisa disembunyikan di balik urusan dagangan.
'Boleh. Tapi jangan selalu tempat yang membuat saya takut menyenggol gelas.'
'Kalau begitu kamu pilih berikutnya.'
'Jangan kaget kalau berakhir di warung bakso.'
Dalam perjalanan pulang, jalan lebih lengang daripada waktu berangkat. Tri mengabari Aki bahwa ia sudah menuju rumah. Lucky menurunkannya di ujung gang, menunggu sampai ia berjalan ke bagian yang terang sebelum melanjutkan perjalanan.
Aki membuka pintu ketika Tri tiba. Nini sudah tidur, televisi juga mati. Ia berbicara pelan saat mengucapkan terima kasih karena ditemani, lalu masuk ke dapur untuk mengambil air. Wajahnya masih terasa hangat meskipun angin malam tadi cukup dingin. Untuk pertama kalinya ia berani mengakui kepada dirinya sendiri: ia bukan sekadar ingin menjadi mitra dagang Lucky. Dan pengakuan itu membuat setiap pertemuan berikut terasa lebih berarti, sekaligus lebih berisiko menyakitkan.