Sebelas hari setelah telepon tentang utang itu, Tri sedang mengangkat porsi terakhir ketika seorang pembeli baru meminta tambahan enam kotak. Bahan yang tersisa tidak cukup. Ia menengok wadah tepung, lalu jam, kemudian pintu keluar pujasera.
Dulu ia mungkin akan berlari membeli bahan dan menahan pelanggan sampai adonan berikutnya jadi. Hari ini Aki menunggu untuk mengantar Nini sesuai jadwal perawatan yang sudah mereka atur. Tidak ada Adam di bangku sebelah untuk diminta mengambilkan belanja. Pemuda itu masih sibuk di kampus, terlebih sejak urusan pencalonan BEM semakin ramai.
'Kalau untuk besok, saya catat. Kalau sekarang, tidak bisa enam kotak,' jawab Tri.
'Dua saja?'
Ia memperkirakan adonan yang masih ada. Dua kotak mungkin cukup, tetapi akan menghabiskan waktu sampai lewat janji berangkat. Tri menyebut waktu menunggu yang sebenarnya. Pembeli menggeleng, memilih mengambil pesanan untuk besok, lalu memberikan nomor yang bisa dihubungi.
Setelah orang itu pergi, Tri merasa seperti baru menolak uang yang sudah berdiri di depan mata. Ia menghabiskan putaran untuk pembeli yang lebih dulu memesan, kemudian mematikan kompor. Langkahnya tetap berat ketika mulai membereskan. Belajar menyebut dagangan habis ternyata tidak semudah benar-benar menjual sampai habis.
Mang Ucup melihatnya beberapa kali menoleh ke pintu. 'Mau dipanggil lagi orangnya?'
'Jangan, Mang. Nanti saya berubah pikiran.'
'Kalau begitu kompor jangan dipeluk terus. Cepat pulang.'
Tri mendengus sambil menaruh cetakan di tempat aman. Ia sudah beberapa kali mengubah jam menutup lapak sejak Nini tinggal bersamanya, tetapi belum pernah memberitahu pelanggan dengan jelas. Akibatnya, orang datang saat ia hendak berangkat dan ia selalu merasa bersalah. Besok akan dibuat tulisan kecil: pesanan tambahan untuk hari yang sama diterima sampai jam tertentu, sesudah itu untuk esok.
Ia tidak akan membiarkan kertas itu menjadi alasan mengusir pembeli yang sudah menunggu. Justru ia ingin bisa menyebut waktu dengan jujur sebelum orang terlanjur menitip harapan pada pancake yang belum ada.
Di kontrakan, Nini sudah mengenakan baju rapi. Aki duduk dengan tas di kaki, ekspresinya lega ketika mendengar motor. Mereka masih punya waktu berangkat tanpa tergesa. Tri menurunkan peralatan dan mengganti kaus, lalu membantu persiapan terakhir.
'Tadi nyaris terlambat, ya?' tanya Aki.
'Belum terlambat, Ki. Baru nyaris kaya.'
'Kaya kok wajahnya sedih,' sahut Nini.
Tri tertawa. Ia menceritakan pesanan yang dipindah ke besok sambil membantu Nini keluar. Sesudah pemeriksaan sebelumnya, mereka kini lebih tahu apa yang perlu dibawa dan bagaimana membantu tanpa saling menghalangi. Tetap melelahkan, tetapi tidak seluruhnya terasa seperti pekerjaan yang baru pertama dicoba.
Sesi latihan yang disarankan setelah kontrol itu selesai menjelang sore. Nini tampak lelah dan masih perlu dibantu saat berpindah ke kendaraan. Yang membuat Tri senang justru Aki kini berani bertanya sendiri ketika ada arahan yang belum jelas, bukan terus melihat kepadanya untuk menjawab.
Ketika turun dari kendaraan, salah satu sisi sandal Tri tersangkut celah jalan. Ia nyaris kehilangan keseimbangan, untung Aki sudah menahan kursi Nini sehingga ia tidak perlu ikut menahan beban. Tali sandal tertarik dan mulai terlepas. Nini menyuruhnya berjalan pelan, kali ini berganti peran menjadi orang yang mengawasi. Tri tertawa kesal sambil menyeret satu kaki sampai depan pintu. Ia baru membeli beberapa keperluan dapur, tetapi ternyata sandal juga meminta jatah. Aki membantu membawa tas masuk, kemudian meletakkan sandal itu di tempat kering agar bisa dilihat apakah masih mungkin diperbaiki.
Langit mulai teduh. Lauk sederhana yang dibeli dalam perjalanan tinggal dihangatkan; Tri sudah tahu ia tak akan sempat memasak dari awal. Setelah Nini nyaman di kamar dan Aki membantu menata makan, ia duduk sebentar di depan pintu, mengistirahatkan kaki yang gerah.
Pesan Adam masuk bersama foto rancangan kegiatan. Tidak ada permintaan bantuan, hanya keluhan pendek bahwa ia salah membawa berkas sehingga harus kembali ke ruang organisasi. Tri tertawa dan membalas dengan foto sandal yang hampir putus.
'Masing-masing punya masalah,' tulisnya.
'Sandal Teteh pernah ketemu dokter?'
'Belum. Mau saya kirim ke rapatmu supaya dapat keputusan?'
Adam membalas dengan gambar tertawa. Percakapan mereka singkat karena ia harus kembali bekerja. Tri tidak menahan dengan pertanyaan mengapa tak mampir. Kehadirannya memang berkurang beberapa hari ini, tetapi setiap kali datang ia masih membawa cerita yang kadang menjengkelkan, kadang membuat Tri ikut tertawa tanpa sadar.
Menjelang malam, ia membuat tulisan jam pemesanan yang tadi direncanakan. Hurufnya dibesarkan agar tidak perlu dijelaskan berulang kali. Nini meminta melihat, kemudian mengkritik kata yang hampir terbaca seperti nama makanan lain. Tri menyerah memperbaikinya sambil mengingat label Pancake Teri beberapa hari lalu.
Pesanan Kamis dari Ana sudah pernah berjalan baik. Jumlah berikutnya juga perlu dipastikan lebih awal. Tri mengirim pertanyaan singkat, menerima jawaban bahwa susunannya tetap, lalu mengembalikan ponsel ke meja. Beberapa pekerjaan kecil selesai tanpa harus menunggu orang datang meminta.
Sesudah makan, panggilan Lucky muncul. Tri sempat memeriksa apakah ada masalah dengan pesanan lama. Ternyata pria itu ingin mengajaknya makan malam esok hari, bukan membicarakan seratus kotak lagi.
'Kalau sedang banyak pekerjaan, kita cari hari lain,' katanya.
Tri menatap kertas jam tutup yang masih basah tintanya. Bagian dirinya yang mudah grogi sudah ingin mengangguk. Bagian lain ingat Nini perlu ditemani. Ia bertanya kira-kira pukul berapa, lalu mengatakan akan memastikan urusan rumah lebih dulu sebelum membalas.
Aki yang mendengar setengah percakapan langsung bertanya apakah ada pembeli baru. Tri menggeleng, wajahnya menghangat ketika menyebut undangan makan. Nini dari kamar berteriak agar mereka tidak berbisik seperti sedang menyembunyikan ayam tetangga.
'Mas Lucky mengajak makan besok, Ni.'
'Ya makan. Jangan cuma tersenyum sampai kenyang.'
Tri menutup wajah dengan kertas jam dagangan. Aki tertawa dan mengatakan ia bisa menemani Nini seperti biasa. Setelah memastikan waktunya tidak mengganggu kebutuhan rumah, barulah Tri membalas Lucky. Ia bersedia datang. Kali ini bukan karena mengejar brownies gratis, dan justru pengakuan kecil itu membuatnya lebih gugup daripada ketika menerima pesanan besar.