Tri membuka kembali blokir nomor orangtua dan kedua kakaknya yang dahulu dipasang sementara, lalu memilih nomor Bapak untuk dihubungi langsung.
Bapak baru menjawab panggilan pada percobaan kedua. Suara televisi di belakangnya cukup keras sampai Tri harus meminta dikecilkan. Ia mendengar langkah dan teguran pendek, lalu suara Mak Asih yang bertanya siapa menelepon malam-malam.
'Tri, Mak. Saya mau bicara soal Kardi.'
Hening yang menyusul membuatnya lebih tegang daripada jawaban marah. Tri menatap meja di ruang depan, tempat buku pesanan masih terbuka. Dua puluh kotak Kamis depan mudah ditulis di situ. Mengurai perkara orangtuanya tidak semudah mengurutkan rasa vanila dan durian.
'Kamu dapat kabar dari siapa?' tanya Bapak.
'Bibi. Tapi saya ingin dengar langsung. Kardi masih menagih apa kepada Bapak? Uang atau saya?'
'Jaga mulutmu, Tri,' sela Mak.
Jari Tri mengencang pada ponsel. Nada itu membuatnya teringat ruang di rumah Tama dan panas di pipi sesudah ditampar. Ia tidak ingin percakapan malam ini berakhir dengan dirinya mengecilkan suara sampai tak terdengar. Namun membentak balik juga hanya akan memberi mereka alasan menutup telepon.
'Saya tanya karena dia menyebut janji keluarga. Saya tidak pernah berjanji menikah dengannya.'
Mak mengeluh panjang tentang anak yang susah diajak bicara. Tri menunggu sampai keluhan itu selesai. Dari kamar, Aki muncul membawa gelas kosong. Ia berhenti ketika melihat wajah cucunya, lalu duduk agak jauh tanpa merebut ponsel.
Bapak mengatakan Kardi menagih utang yang dulu dipakai menutup kebutuhan keluarga. Hasil garapan tidak selalu cukup dan beberapa kali pembayaran mundur. Tri mendengarkan, kemudian meminta angka awal serta jumlah yang sudah dibayar. Jawabannya justru berputar pada kesulitan mencari uang.
'Saya tidak bilang Bapak tidak susah. Saya tanya berapa.'
'Catatannya tidak di tangan Bapak sekarang.'
'Kalau begitu lihat catatannya dulu. Jangan terus mengulang saya akan hidup enak kalau menikah. Itu tidak menjawab uangnya berapa.'
Mak mengambil alih. Ia menyebut rumah Kardi, kebun, serta keluarga yang tidak perlu lagi memikirkan uang belanja. Tri merendahkan ponsel sebentar dari telinga, menarik napas, lalu mendekatkannya kembali. Menjadi istri ketiga rupanya masih bisa dipasarkan seperti hadiah besar meskipun ia berkali-kali menolak.
'Mak, saya sedang merawat Nini dan berjualan. Saya tidak menganggur menunggu siapa mau menanggung saya.'
'Emak tahu kamu jualan. Tapi sampai kapan begitu terus?'
'Sampai saya punya langkah berikutnya. Yang jelas bukan menikah karena takut ditagih.'
Aki memandangnya, wajahnya keras tetapi ia tetap diam. Tri menghargai itu. Kalau telepon langsung diambil kakeknya, nanti orangtuanya akan mengatakan semua penolakan datang dari pengaruh Aki, bukan keputusan dirinya sendiri.
Di seberang, Bapak kembali bicara. Ia mengaku khawatir garapan diambil jika Kardi terus tersinggung. Kalimat itu akhirnya terdengar lebih jujur daripada janji hidup nyaman. Tri bertanya apakah selama ini setiap pembayaran disertai tanda terima.
'Ada sebagian,' jawab Bapak.
'Sebagian yang lain?'
'Ada yang dulu lewat orang. Bapak harus cari lagi.'
Tri menunduk. Itulah yang ingin diketahuinya dari awal. Ia meminta foto apa pun yang masih tersimpan, termasuk catatan Kardi jika ada. Bukan untuk langsung menjanjikan membayar semuanya, melainkan agar mereka berhenti berbicara tentang jumlah yang berubah setiap kali orang berganti cerita.
Mak bertanya apakah Tri mempunyai uang simpanan. Ia menjawab bahwa setelah Nini pindah ke Jakarta, uangnya dipakai hidup dan perawatan. Ia sedang mengumpulkan lagi sedikit demi sedikit. Tidak ada jumlah besar yang bisa dikirim malam itu, apalagi tanpa mengetahui dasar tagihannya.
'Tama sama Dwi tahu angkanya?' tanya Tri.
'Belum lengkap,' kata Bapak.
'Berarti mereka juga perlu lihat. Jangan cuma saya yang diberi kabar disuruh pulang.'
Terdengar bunyi lemari dibuka. Mak rupanya mencoba mengambil kantong surat yang disimpan di bawah pakaian, sementara Bapak menyebut tempat lain. Mereka berdebat sebentar tentang siapa terakhir memindahkannya. Tri menunggu dengan pandangan tertahan di lantai. Setelah beberapa menit, kantong itu ditemukan, tetapi sebagian kertas tercampur surat lama yang tak berkaitan. Bapak mengirim satu foto, dan hasilnya hanya memperlihatkan sudut kuitansi karena lampu memantul. Tri tidak bisa membaca angka di sana. Ia meminta kertasnya difoto satu per satu dalam keadaan dibentangkan, tidak ditumpuk seperti kipas.
Mak tampak hendak menyela lagi, tetapi Bapak memintanya menunggu. Mereka akhirnya menyepakati panggilan lusa malam. Bapak akan mencari surat dan kuitansi di rumah, lalu menyebutkan angkanya. Tri mengulang hari dan waktunya supaya tidak berubah menjadi janji samar yang dilupakan setelah telepon ditutup. Ia juga meminta agar kertas asli tidak dibuang meskipun nanti sudah dikirim lewat ponsel. Bapak menggumam menyanggupi, lalu memasukkannya kembali ke kantong yang sekarang sudah dipisahkan dari surat lain.
Sebelum berpisah, ia menanyakan pekerjaan Bapak hari itu. Pertanyaan tersebut membuat suara di seberang melunak sedikit. Ujang bercerita tentang air yang terlambat masuk ke bagian sawah yang digarapnya. Tri mendengarkan tanpa menyisipkan perjodohan lagi. Ia bisa tahu ayahnya letih tanpa harus menyerahkan seluruh hidup untuk menghapus keletihan itu.
Panggilan berakhir ketika Mak berkata nasi mereka belum dibereskan. Tri menyimpan foto yang belum terbaca itu ke folder terpisah, supaya nanti mudah membandingkannya dengan kiriman yang lebih jelas. Ia menaruh ponsel, lalu menyadari bahunya tegang sejak tadi. Aki bangkit membawa gelas ke dapur, menanyakan apakah ia mau air hangat. Ia mengangguk dan menyusul agar tidak hanya duduk memandangi layar mati.
'Lusa Bapak mau menyebut angka,' katanya.
'Aki dengar.'
'Saya takut nanti malah dimarahi sebelum dijawab.'
Aki menuangkan air, tidak buru-buru memberi wejangan. 'Kalau mulai begitu, bilang kamu menunggu jawabannya. Seperti tadi.'
Tri menerima gelas. Dari kamar, Nini memanggil karena tayangan sinetronnya terputus iklan terlalu lama. Aki menghela napas dengan ekspresi jengkel yang dibuat-buat, kemudian masuk membetulkan posisi remote. Mendengar keduanya bertengkar kecil tentang tombol televisi, Tri akhirnya tersenyum.
Ia menutup buku pesanan dan menandai waktu telepon lusa pada kalender ponsel. Malam itu persoalan Kardi belum mendekati selesai. Tetapi untuk pertama kalinya, pembicaraan berikutnya mempunyai sesuatu yang harus dibawa: angka dan bukti, bukan daftar alasan mengapa dirinya wajib menjadi istri orang yang tidak dipilihnya.