Adam tidak datang ketika pesanan pagi Tri sedang ramai. Yang muncul justru Rama dengan wajah bingung sambil membawa kertas yang dilipat berulang kali. Ia berhenti di depan gerobak, memandang ke arah bangku kosong, lalu bertanya apakah Adam meninggalkan pesan.
'Kalau dia meninggalkan uang, saya kabari,' jawab Tri. 'Ada apa?'
'Katanya ketemu di dekat pujasera. Teleponnya enggak diangkat.'
Tri tidak langsung ikut menghubungi. Tangannya sedang memegang piring dan pembeli menunggu. Ia menyuruh Rama duduk dulu atau memesan mi ayam kalau lapar. Pemuda itu memilih berdiri dekat pintu masuk supaya mudah terlihat, sesekali memeriksa jam.
Sepuluh menit kemudian, Adam datang setengah berlari bersama Baim. Wajahnya berkeringat, tas menggantung miring. Ia meminta maaf kepada Rama lalu menjelaskan ruangan yang semula akan dipakai kegiatan HIMA ternyata bentrok dengan jadwal lain. Mereka harus memastikan tempat sebelum pengumuman dibagikan.
'Makanya dijawab teleponnya,' gerutu Rama.
'Tadi di dalam sedang bicara. Aku kira kalian masih di kampus.'
Baim menghamparkan rancangan pengumuman di meja dekat gerobak. Tri buru-buru mengangkat botol kecap yang dititipkan Mang Ucup agar tidak menodai kertas. Pada bagian bawah, ada dua waktu mulai yang berbeda. Rama menunjuk salah satunya dan bertanya mana yang akhirnya dipakai. Adam menjawab terlalu cepat, lalu berhenti ketika menyadari ia sendiri menyebut waktu dari rancangan lama. Wajahnya langsung kesal kepada dirinya sendiri.
Tri memberi selembar kertas bersih dari belakang buku, bukan ikut memutuskan jadwal kegiatan mereka. Adam menyalin bagian yang sudah pasti, mencoret pilihan yang dibatalkan, kemudian memotret hasilnya sebelum diberikan kepada Rama. Temannya menyuruh ia makan dahulu supaya tidak mengganti keputusan untuk ketiga kali. Adam hendak membantah, tetapi pancake pertama sudah diletakkan Tri di depannya. Ia memilih mengambil garpu. Mereka bertiga masih berbicara bersamaan, membuat seorang pembeli pancake mengira tempat itu juga melayani fotokopi.
'Bukan, Mas. Di sini kertasnya biasanya untuk bungkus,' kata Tri.
Adam meminta teman-temannya bergeser dari antrean. Setelah pembeli lewat, ia membeli beberapa porsi vanila untuk dimakan sambil bekerja. Tri menolak permintaan mendadak memberi diskon rapat, lalu menunjukkan kursi di ujung yang tidak menghalangi orang.
Sejenak pujasera berubah menjadi tempat mereka mencocokkan jadwal. Tri mendengar potongan kalimat tentang konsumsi, peserta, dan siapa yang belum mengembalikan daftar. Ia terbiasa melihat Adam datang membawa lelucon. Hari ini lelaki itu lebih sering menekan pangkal hidung sambil berusaha memastikan orang lain menyelesaikan bagiannya.
Ketika satu keputusan akhirnya dibuat, Baim berangkat mengecek ruangan pengganti. Rama kembali ke kampus untuk mengabari teman yang memegang pengumuman. Adam tertinggal beberapa menit, menghabiskan pancake yang sudah dingin sambil menatap ponsel.
'Kalau marah, jangan ke pancake. Dia tidak pindah ruangan,' kata Tri.
Adam mendengus. 'Aku belum marah.'
'Kelihatan. Makanya garpunya ditusuk begitu terus.'
Ia meletakkan garpu, lalu tertawa lelah. Tri menanyakan apakah kegiatan itu akan mengganggu kelas. Adam menjawab mereka harus membagi tugas karena ia tak ingin nilai turun hanya gara-gara semua urusan organisasi diambil sendiri. Beasiswa yang sudah didapat bukan alasan merasa boleh meninggalkan kuliah sesuka hati.
'Katanya mau maju urusan BEM juga. Kalau sekarang sudah pusing, nanti kepalamu tambah besar?' goda Tri.
'Dukungan yang luar biasa, Teh.'
'Saya masih mendukung. Belum saya suruh mundur.'
Adam menggeleng, tetapi wajahnya mulai lebih ringan. Ia meminta maaf karena tidak bisa membantu membereskan gerobak nanti sore. Ada pertemuan lanjutan yang tidak bisa ditinggal. Tri spontan hendak berkata tidak apa-apa seperti biasa, lalu menambahkan bahwa ia memang bisa pulang sendiri.
'Kamu tidak perlu lapor setiap tidak duduk di sini, Dam.'
'Aku cuma memberi tahu.'
'Iya. Saya juga memberi tahu kalau besok malam ada jadwal telepon keluarga. Jadi kalau saya melamun, jangan diajak berdebat dulu.'
Adam hendak bertanya lebih jauh, tetapi nama Baim muncul di layar. Ia mengangkat dengan ekspresi pasrah, lalu berdiri setelah mendengar ruangan pengganti bisa dipakai dengan jam berbeda. Pembicaraan soal keluarga Tri ditinggalkan dulu. Ada pekerjaan yang menunggunya dan ia tidak bisa membelah tubuh.
Tri membungkus sisa pancake yang belum disentuh. 'Bawa. Kalau lapar lagi, jangan mengeluh organisasi tidak memberi makan.'
'Ini dibayar juga?'
'Sudah termasuk yang tadi. Kamu kira saya menjualnya dua kali?'
Adam menerima kantong sambil tersenyum. Sebelum pergi, ia mengambil bungkus bekas dan membersihkan meja yang mereka pakai, mengembalikan kursi agar pembeli Mang Ucup bisa duduk. Ia berterima kasih kepada Mang Ucup yang sudah memberi ruang, lalu berangkat kembali ke kampus. Bangku di sudut lapak kosong lagi, tetapi kini Tri melihat alasannya dengan jelas, bukan menganggap pemuda itu sengaja menjauh.
Sore harinya, urusan menutup gerobak memang lebih lambat. Ia harus mencuci bagian yang biasanya ditangani Adam, mengangkat satu wadah lagi, kemudian memasang tali di motor sendirian. Mang Ucup menawarkan tangan ketika melihat wadahnya hampir tergelincir. Tri menerima bantuan itu dan berjanji tidak akan membayar dengan pancake gosong.
'Kalau gosong, buat saya lempar ke yang utang mi ayam,' sahut lelaki itu.
Tri tertawa sambil mengikat barang lebih kuat. Menjelang berangkat, pesan Adam masuk: pertemuan masih berlangsung, jangan menunggu. Ia memotret motor yang sudah penuh sebagai jawaban. Beberapa detik kemudian Adam membalas bahwa ikatan bagian kanan tampak miring.
Tri turun lagi, memeriksa, lalu menemukan ujung tali memang belum masuk dengan benar. Ia memperbaikinya, kali ini tanpa mengomel karena merasa diatur. Foto kedua dikirim sebelum ia menyimpan ponsel ke tas.
'Sekarang kamu rapat saja. Peralatan sudah terikat aman,' tulisnya.
Perjalanan pulang berjalan biasa. Di rumah, Aki sudah menyiapkan air untuk mencuci, sedangkan Nini meminta dibantu melihat buku bergambar makanan yang dipinjamnya dari Tri. Tak ada kejadian besar yang menyambut sore itu. Justru ketika semuanya bisa diselesaikan tanpa menunggu Adam datang, Tri mulai menyadari betapa sering ia menganggap kehadiran sahabatnya seperti bagian tetap dari peralatan lapak. Padahal Adam punya hari yang juga bisa penuh dan melelahkan.