'Teh, katanya sekarang sering main ke seberang?' tanya Ana sambil meletakkan tas di kursi siang berikutnya.
Tri sedang menuang adonan. Ia melirik kafe Brownies Kareueut yang dimaksud sebelum menjawab. Siang itu matahari membuat papan toko tampak lebih terang, sementara lapaknya sendiri masih harus menahan panas kompor dari dekat.
'Dua hari lalu antar pesanan. Kemarin mengambil wadah. Kenapa? Mau titip beli brownies?'
Dhifa tertawa kecil. Ana tidak langsung ikut tertawa. Ia memilih duduk menghadap arah kampus, tetapi matanya kembali kepada Tri ketika menyebut nama Lucky.
'Bukan. Mang Ucup bilang anaknya sampai akrab sama Teteh.'
'Anaknya suka pancake duren. Untung yang disuruh mencicipi bukan Adam.'
'Anak kecil memang gampang akrab kalau disukai ayahnya juga.'
Tangan Tri berhenti sejenak di atas cetakan. Ia belum memutuskan apakah ucapan itu sebuah candaan atau sindiran. Dhifa meraih daftar rasa, seolah ingin memindahkan obrolan ke pesanan. Namun Ana sudah melanjutkan, menanyakan apakah Tri akan lebih sering berada di kafe daripada pujasera.
'Kalau saya di sana terus, yang bikin pancake di sini siapa? Kamu?' jawab Tri.
'Aku kan cuma bertanya.'
'Saya juga cuma menjawab.'
Suasana menegang beberapa detik. Bau bagian bawah pancake yang terlalu matang baru menyadarkan Tri bahwa api masih menyala. Ia lekas mengangkat cetakan, mengernyit ketika melihat hasilnya. Warna yang terlalu gelap tidak bisa diperbaiki dengan menambah topping.
Dhifa menunjuk piring. 'Itu pesananku?'
'Bukan lagi. Saya buatkan baru.'
Tri memisahkan yang gagal dan mengecilkan api. Rasa kesal kepada Ana tak bisa dijadikan alasan menyuruh pembeli menerima barang buruk. Ia mulai ulang putaran untuk Dhifa, kali ini memandang cetakan terus sampai waktunya dibalik.
Ana memainkan ujung tali tas. 'Aku tidak bermaksud bikin Teteh marah.'
'Kalau mau tanya pesanan, tanya saja. Kalau mau menggoda, tunggu sampai saya tidak pegang api.'
Mang Ucup menoleh dari sebelah, tampak mendengar bagian terakhir. Ia berdeham sambil menaruh mangkuk, lalu menanyakan apakah mereka mau minum. Dhifa segera memesan air. Ana ikut mengangguk. Gangguan kecil itu menyelamatkan mereka dari percakapan yang makin tajam.
Seorang pembeli yang sejak tadi menunggu meminta pesanannya didahulukan karena harus masuk kelas. Tri memeriksa urutan dan menunjukkan bahwa masih ada satu orang sebelum dirinya. Lelaki itu mendecak, tetapi akhirnya memilih menunggu. Tri merasa panasnya naik sampai wajah, lalu sengaja menghitung kembalian dengan pelan agar tidak salah. Menang bertengkar dengan Ana tidak akan mengganti uang kalau ia menyerahkan lembar yang keliru. Setelah dua pesanan itu dibawa pergi, ruang di depan cetakan kembali longgar. Ia menarik napas dan mulai bicara dengan nada yang lebih biasa.
Setelah pancake pengganti selesai, Tri memberikannya tanpa menambah harga. Dhifa mencicipi dan mengangguk puas. Ia lalu mengeluarkan ponsel, menunjukkan jadwal pertemuan kelompok di kampus Ana yang membutuhkan makanan ringan. Bukan urusan kampus Sejati, melainkan kegiatan mereka sendiri di universitas tempat Ana belajar.
'Kalau tiap Kamis dua puluh kotak, bisa, Teh? Mulainya minggu depan. Jangan semuanya duren. Ada yang tidak suka.'
Tri mengambil buku pesan. 'Sepuluh vanila, sepuluh duren? Vanila sepuluh ribu, duren dua belas ribu isi tiga. Kalau jumlahnya berubah, kabari sebelum saya belanja.'
Mereka membahas jam pengambilan dan pilihan rasa sampai cocok. Total dua ratus dua puluh ribu untuk sekali pesanan. Ana membayar uang muka untuk pengambilan pertama, kemudian menyimpan rincian yang dikirim Tri. Pembicaraan usaha sedikit melunakkan wajah masing-masing, meskipun sindiran tadi belum menguap seluruhnya.
'Nanti diambil sendiri?' tanya Tri.
'Aku atau Dhifa,' jawab Ana. 'Kalau Adam ada, titip saja sama dia.'
'Dia belum tentu ada. Ambil langsung dari saya saja supaya tidak keliru.'
Ana mengangguk, tetapi bibirnya mengerucut sedikit. Tri melihatnya dan memilih tidak mengejar penjelasan. Adam bukan bagian dari barang yang bisa dipesan lewat buku. Setelah Ana dan Dhifa pergi, ia baru duduk sebentar, meletakkan pancake gagal di dekat catatan bahan agar ingat biaya yang terbuang karena melamun.
Mang Ucup datang membawa gelas kosong yang tertinggal di meja. 'Jangan diteruskan merengutnya. Nanti pembeli kira sambalnya habis.'
'Saya tidak jual sambal, Mang.'
'Nah, makanya jangan wajahnya pedas.'
Tri tertawa pendek. Ia membersihkan bekas adonan, melayani pembeli berikutnya, dan menyelesaikan jualan sampai bahan yang disiapkan habis. Pancake gagal tidak ikut dijual. Bagian yang masih bisa dimakan ia sisihkan untuk dirinya, sisanya dibuang. Harga kekesalan hari itu tidak besar, tetapi cukup untuk membuatnya lebih berhati-hati ketika obrolan mulai mengganggu pekerjaan.
Ia pulang saat langit mulai berubah warna. Motor diparkir di tempat biasa, peralatan diturunkan, lalu ia membantu Aki menyiapkan makan malam. Nini sedang mengeluh pada tokoh sinetron yang membiarkan dirinya dibohongi. Tri nyaris menyahut bahwa penonton juga punya keahlian mengarang dugaan, tetapi urung.
Ponselnya bergetar ketika mereka selesai makan. Bi Nining menelepon. Tri membilas tangan sebelum menerima, pindah ke ruang depan agar bisa mendengar jelas. Suara bibinya terdengar lebih pelan daripada biasanya.
'Tadi Bibi ketemu Emakmu. Kardi belum berhenti membicarakan kamu.'
Bi Nining menjelaskan bahwa mereka bertemu di pasar ketika ia ikut Mang Atang. Ia tadinya hanya bertanya keadaan Nini, tetapi Asih justru mengeluhkan Tri yang sulit disuruh pulang. Bibi tidak mengiyakan keluhan itu. Ia tahu keponakannya bukan sedang bersantai di Jakarta, dan rumah yang menunggu di kampung belum tentu menawarkan ketenangan.
Tri memejamkan mata sebentar. Brownies, durian, dan dua puluh kotak pesanan tiba-tiba terasa jauh. Ia bertanya apa yang terjadi, lalu mendengarkan kabar bahwa Kardi kembali menagih sambil menyebut-nyebut janji keluarga.
'Bukan berarti kamu harus pulang sekarang,' tambah Bi Nining. 'Bibi cuma tak mau kamu dengar dari orang lain.'
'Bapak masih menyuruh saya menikah?'
'Kamu bicara langsung sama mereka. Kalau lewat Bibi terus, nanti yang didengar cuma separuh.'
Tri menyanggupi. Sesudah panggilan berakhir, ia menatap nomor Bapak yang lama tidak disentuh. Hari ini ia kehilangan satu putaran pancake gara-gara sindiran. Untuk urusan yang berikut, ia tak mau kehilangan masa depannya hanya karena terus menerima kabar dari mulut orang lain.