Kabar dari Lucky baru masuk malam setelah acara selesai. Pancake diterima baik, tulisnya, disertai foto beberapa kotak yang sudah ditata. Tri membalas sesudah selesai mencuci alat. Ia tidak langsung menerima pertanyaan tentang kemungkinan pesanan lain; untuk jumlah dan hari berbeda, ia perlu melihat jadwal jualan serta kontrol Nini lebih dulu.
Pagi berikutnya ia kembali ke pujasera. Setelah sehari dipakai untuk pesanan besar, cetakan seolah terasa lebih ringan ketika hanya diisi pesanan satu dua porsi. Mang Ucup menanyakan hasil pengiriman, lalu meminta kompornya tidak diangkat diam-diam lagi sebelum ia sempat menagih mi ayam sebagai biaya sewa.
'Katanya pinjam, Mang. Kok sekarang ada tagihan?'
'Tagihannya satu cerita. Kamu belum cerita apa-apa.'
Tri tertawa dan menceritakan bagian yang paling mudah: Bram takut membangunkan Nini dengan suaranya, Adam menjaga porsi vanila seperti menyimpan surat tanah, dan anak Lucky yang curiga pancake akan diberi sambal. Mang Ucup mendengarkan sambil merapikan mangkuk, sesekali menahan tawa agar tidak mengenai mi yang sedang disiapkan.
Ketika pembeli bertambah, obrolan berhenti sendiri. Tri harus membalik pancake dan menyiapkan kembalian. Seorang pelanggan meminta dibuat tidak terlalu matang, mengingatkannya pada kebiasaan Adam. Ia sempat melirik bangku kosong sebelum tersenyum kepada pembeli. Adam memang belum waktunya datang; ia punya kelas, bukan kewajiban mengisi kursi itu setiap pagi.
Menjelang siang, setelah sebagian besar bahan habis, Tri mengabari Lucky bahwa ia hendak mengambil wadah angkut. Balasannya singkat, mempersilakan datang. Ia menutup lapak ketika pesanan terakhir selesai, menyimpan barang yang masih diperlukan esok, lalu membawa motor ke seberang agar bisa langsung mengangkut wadah pulang.
Dari pintu kafe ia melihat Lucky duduk berhadapan dengan seorang perempuan berpenampilan rapi. Kertas dan contoh kemasan terbuka di meja. Perempuan itu tertawa atas sesuatu yang dikatakan Lucky, lalu menunjukkan bagian dalam kotak kepada pria tersebut. Mereka tampak sudah terbiasa berbicara dekat.
Langkah Tri melambat. Ia tahu tidak punya hak menuntut penjelasan. Lucky bukan pacarnya, bukan pula orang yang pernah berjanji hanya mengundang dirinya. Meski begitu, senyum yang tadi dibawanya dari pujasera mendadak sulit dipertahankan.
Seorang pegawai mengenalinya dan menanyakan keperluan. Tri menyebut wadah yang dipinjam kemarin, tidak meminta dipanggilkan pemilik toko. Ia menunggu di dekat meja penerimaan, memandangi rak brownies seolah baru pertama melihat makanan itu.
'Tri?'
Lucky sudah berdiri di samping meja perempuan tadi. Ia melambai agar Tri mendekat sebentar. Gadis itu hampir menolak, tetapi pegawai sedang mengambilkan wadah dari belakang. Akan terlihat aneh kalau ia tiba-tiba kabur.
'Saya cuma mengambil tempat kemarin, Mas. Takut mengganggu.'
'Tidak. Ini rekan yang sedang menawarkan kemasan untuk beberapa produk kami.'
Perempuan itu menyapa ramah dan menunjukkan contoh kotak yang masih dipegangnya. Lucky memperkenalkan Tri sebagai pembuat pancake yang dipesan untuk acara kemarin. Ada rasa hangat kecil karena pekerjaannya disebut dengan bangga, tetapi Tri juga malu pada prasangka yang sudah telanjur muncul.
Mereka bercakap sebentar tentang ukuran kotak, lalu perempuan itu menerima telepon dan meminta waktu keluar. Tri menunggu pegawai menyerahkan wadah. Ketika Lucky bertanya mengapa ia tampak terburu-buru, Tri memutuskan menjawab tanpa membuat alasan tentang Nini yang sedang memanggil padahal tidak.
'Tadi saya pikir Mas sedang bertemu seseorang yang dekat. Jadi saya tidak mau mengganggu.'
'Kami sudah beberapa kali membicarakan kemasan. Orang yang sama lebih mudah tahu perubahan yang diminta.'
'Oh. Saya telanjur menebak.'
Lucky tersenyum, tidak langsung menggodanya habis-habisan. Justru itu membuat pipi Tri lebih panas. Ia menurunkan pandangan ke wadah, mengecek tutup yang baru diterima pegawai, kemudian mengucapkan terima kasih.
'Kalau ada yang ingin ditanyakan, bilang saja,' kata Lucky.
'Kalau semuanya saya tanyakan, Mas bisa habis waktu menjawab orang kepo.'
'Asal tidak bertanya rahasia resep brownies.'
'Yang itu nanti saya tunggu sampai Mas lengah.'
Mereka tertawa. Tri meminta izin pulang karena ia masih harus menyiapkan makan di rumah. Lucky tidak menahan. Perempuan rekan usahanya sudah kembali dari telepon, dan pekerjaan mereka memang belum selesai. Tri menyapa sekali lagi sebelum keluar, kali ini tanpa membawa dugaan yang sama seperti waktu masuk.
Di halaman, ia memasang wadah kosong pada motor. Wajahnya terlihat di kaca spion, lengkap dengan ekspresi malu yang sulit disangkal. Baru beberapa hari sering bertemu, dirinya sudah pandai membuat cerita dari pemandangan satu meja. Ia pantas diejek kalau Adam tahu. Tetapi untuk kali ini, tak semua hal perlu diceritakan kepada pemuda itu.
Tri tiba di kontrakan ketika Aki sedang menyiapkan piring. Nini sudah menanyakan lauk dua kali, kata kakeknya. Ia menaruh wadah di dapur, mencuci tangan, lalu mengambil alih pekerjaan yang belum selesai. Bukan menjadi pemilik dua puluh lima cabang, tetapi tugas menyelamatkan makan siang tiga orang juga tidak kecil.
Sesudah makan, ia menyelesaikan pembagian uang pesanan yang kemarin belum sempat dirapikan. Dari pelunasan enam ratus ribu, empat ratus ribu kembali ke putaran bahan yang dipakai sementara. Hasil dua ratus ribu dibaginya: sebagian besar menjadi cadangan kebutuhan Nini, lima puluh ribu masuk amplop belajar. Tipis, tetapi sekarang ada hasil pekerjaan yang benar-benar tinggal di sana. Ia ingin kelak menunjukkan bukti pendaftaran, bukan cuma mengulang cerita ingin sekolah setiap melihat toko orang lain. Amplop itu disimpan sebelum ia kembali mencuci alat dan bersiap membeli bahan baru.
Sore harinya, saat membeli keperluan jualan, ia bertemu Adam yang baru keluar dari kampus. Pemuda itu membawa beberapa lembar kertas kegiatan dan mengeluh soal teman yang mengganti rancangan mendadak. Tri mendengarkan sambil memilih telur. Ia tidak punya jawaban pintar, hanya menyuruh Adam berhenti memakai kantong belanjanya sebagai alas kertas.
Adam lekas menarik berkas sebelum terkena telur. Mereka tertawa, lalu berjalan beriringan menuju tempat motor. Bersama Lucky ia kerap memikirkan cara terlihat pantas; bersama Adam ia lebih sering memikirkan cara memenangkan perdebatan konyol. Tri belum berniat membandingkan keduanya, tetapi perbedaan itu mulai terasa, bahkan ketika ia cuma sedang membawa belanja pulang.