Mobil Bram tiba di bagian samping kafe sebelum pukul setengah sepuluh. Pegawai yang telah diberi tahu Lucky menunjukkan meja penerimaan, dan Tri turun sambil mengambil daftar dari tas. Adam membantu Bram menurunkan wadah, tidak sekadar berdiri sebagai pengawal yang menatap siapa pun yang mendekati Tri.
Lucky datang dari dalam beberapa saat kemudian. Lengan kemejanya digulung, wajahnya tampak sibuk tetapi ia tetap menyapa mereka satu per satu. Tri spontan membetulkan ujung kausnya sebelum ingat bahwa yang diperiksa pagi ini mestinya pancake, bukan dirinya.
'Sesuai janji, Mas. Seratus kotak isi tiga, rasa durian.'
Ia membuka wadah angkut dan menunjukkan kelompok yang sudah dipisahkan. Pegawai kafe mengecek jumlah bersama Adam, sementara Lucky mencoba satu bagian dari kotak yang dibukanya sendiri. Tri menahan napas sampai pria itu mengangguk.
'Bagus. Terima kasih sudah datang sebelum acara.'
'Jangan cuma bagus karena saya berdiri di sini, Mas.'
'Kalau tidak sesuai, saya juga akan bilang.'
Lucky berhenti sebentar pada nama yang tercantum di daftar penerimaan. 'Tri Kekasih Hati. Ini harus ditulis lengkap?'
'Iya, Mas. Kalau ditulis Teh Pancake, nanti saya susah mengakuinya.'
'Namanya bagus.'
'Yang memberi nama orangtua. Yang mengantar pancake saya sendiri.'
Lucky tersenyum, sementara Tri mendadak ingin memindahkan perhatian semua orang ke tumpukan kotak. Adam yang mendengar percakapan itu pura-pura sibuk dengan pegangan wadah. Bram justru menahan tawa dengan suara yang masih cukup terdengar. Tri menatapnya sebentar sampai lelaki itu mengangkat tangan meminta maaf. Nama yang selama ini biasa saja di mulut orang lain ternyata bisa membuatnya salah tingkah ketika Lucky membacanya perlahan.
Tri tersenyum. Jumlah lengkap ditandai pada daftar, lalu Lucky mengirim sisa pembayaran enam ratus ribu. Ia menunggu sampai uang masuk sebelum mengucapkan terima kasih. Dengan uang muka sebelumnya, pembayaran satu juta dua ratus ribu sudah selesai. Tak ada potongan mendadak atau janji nanti setelah acara bubar.
Adam melirik jam. Tri langsung menangkapnya dan mengangkat dagu ke arah kampus.
'Pergi sana. Nanti kamu telat, saya yang dapat reputasi buruk.'
'Masih cukup. Aku bantu pindahkan yang terakhir dulu.'
Ia menyerahkan wadah kosong kepada Bram, lalu menyimpan porsi vanila dan buku ke tasnya. Kafe berdekatan dengan kampus sehingga ia bisa melanjutkan jalan kaki tanpa meminta Bram mengantar memutar. Sebelum pergi, Adam mengingatkan Tri agar menyimpan uang putaran bahan yang tadi dipakai sementara. Tri menyuruhnya mengingat jadwal kelas saja.
Sesudah Adam pamit, suara langkah kecil datang dari lorong. Seorang anak memeluk boneka kain sambil mengintip kotak-kotak di meja. Lucky segera menoleh dan membungkuk, menanyakan mengapa keluar dari ruang sebelah.
'Mau lihat. Ayah bilang ada pancake.'
'Ada. Tapi jangan menghalangi yang sedang bekerja.'
Tri menurunkan tubuh agar tak harus terus dilihat dari bawah. Ia menyapa lebih dulu, memperkenalkan diri sebagai pembuat pancake. Anak itu memperhatikan wajahnya sebentar sebelum bertanya apakah pancake punya rasa selain cokelat.
'Punya. Yang dibawa Teteh hari ini duren.'
'Aku suka duren.'
'Wah, akhirnya ada teman. Yang tadi pergi malah kabur kalau mencium baunya.'
Lucky tertawa, mengerti siapa yang dimaksud. Anak itu meminta membantu. Seorang pegawai memberikan kotak luar yang sudah kosong, lalu menunjukkan tempat aman untuk meletakkannya. Tri tidak membiarkan tangan kecil itu mengangkat wadah berat hanya karena ingin menyenangkan hati.
Setelah barang berpindah dari meja penerimaan, Lucky mengambil kotak yang tadi dibukanya untuk pemeriksaan. Pesanannya sudah diterima lengkap; sekarang satu kotak itu ia sisihkan untuk anaknya. Tri mengingatkan agar dimakan di meja, bukan sambil berlari membawa boneka.
Anak itu patuh untuk beberapa saat, duduk dengan kaki yang belum mencapai lantai. Lucky membantunya mengambil satu potong dan menaruh boneka ke kursi sebelah. Gerakan kecil ayah yang membagi perhatian antara pekerjaan dan anak membuat Tri mendadak diam.
Selama ini ia membayangkan Lucky dari senyum, ruang kerja nyaman, serta nama tokonya. Ia tahu pria itu mempunyai anak dan kehilangan istri, tetapi mengetahui cerita berbeda dengan melihat kehidupan yang tetap berjalan di depannya. Kalau ia ingin mendekat, yang dihadapinya bukan cuma lelaki tampan yang pandai mengajaknya tertawa.
'Pedas enggak?' tanya anak itu, membuyarkan pikirannya.
'Enggak. Teteh tidak memasukkan sambal.'
'Ayah pernah bilang makanan enak, tapi ternyata pedas.'
'Wah, berarti Ayah harus diperiksa dulu sebelum memberi ulasan.'
Lucky mengangkat tangan menyerah. Tri tertawa bersama anaknya, merasakan kegugupannya surut. Ia tidak langsung membayangkan menjadi siapa pun dalam keluarga kecil itu. Duduk sebentar dan bercakap tentang pancake sudah cukup untuk pertemuan pertama.
Seorang pegawai memanggil Lucky karena persiapan acara hampir selesai. Pria itu meminta maaf, lalu memastikan ada yang menemani anaknya ketika ia harus memeriksa ruangan. Tri ikut berdiri. Bram masih menunggu di dekat kendaraan, dan ia sendiri sudah berjanji pulang sebelum siang.
'Teh Tri datang lagi?' tanya anak itu.
'Kalau ada keperluan, mungkin. Sekarang Teteh harus pulang. Nini menunggu di rumah.'
Ia mengucapkan sampai jumpa tanpa menjanjikan kunjungan besok. Lucky mengantarnya beberapa langkah dan meminta izin meminjam satu wadah angkut sampai acara selesai, supaya kotak yang belum disajikan mudah dipindah. Tri menyanggupi mengambilnya esok, saat kafe sudah lebih tenang.
'Kalau ada komentar tamu, kabari saya, Mas. Jangan tunggu saya mimpi dikejar pancake baru diberi tahu.'
'Baik. Nanti setelah acara.'
Mereka berpisah di pintu samping. Tri membawa daftar yang sudah ditandai serta sisa wadah kosong, lalu naik ke mobil Bram. Lucky sudah harus bekerja, begitu pula dirinya harus membereskan alat di rumah.
Dalam perjalanan pendek pulang, Bram bertanya apakah pelanggan puas. Tri mengangguk, masih memikirkan anak yang memeluk boneka tadi. Wajahnya ikut tersenyum tanpa disuruh. Pagi itu ia mendapat pelunasan pesanan, pengalaman baru, dan sedikit gambaran tentang Lucky yang tidak bisa dilihat dari papan toko. Di antara semuanya, justru gambaran terakhir yang membuat pikirannya paling sulit diam.
Di rumah, ia menurunkan wadah kosong dan berterima kasih sebelum Bram melanjutkan urusan lain. Tri beristirahat sebentar setelah makan, kemudian mencuci peralatan yang masih menunggu di dapur. Cetakan sewaan dibersihkan dan dikeringkan terpisah. Sore itu ia mengembalikannya sebelum tempat penyewaan tutup, menerima pemeriksaan singkat dari pemiliknya, lalu pulang tanpa membawa alat tambahan lagi. Pesanan telah diterima, alat pinjaman dan sewaan juga sudah kembali. Barulah ia merasa bisa membiarkan tubuhnya benar-benar lelah.